Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 81


__ADS_3

Bela menghela nafas panjang, dia sudah lelah dan juga pusing akhirnya dia membiarkan Vira begitu saja dan masuk ke dalam kamar nya.


Keesokan harinya Bela kuliah seperti biasa begitu juga dengan Vira, namun Vira hari ini sangat mandiri dia mengambil baju sendiri, mandi dan membuat minum sendiri setelah itu dia memilih di antar oleh supir dari pada berangkat dengan Bela yang sangat nyaman naik bus.


Bela hanya bisa menghela nafas melihat adiknya mengabaikan dia.


"Maafin mbak, Vira. Mbak melakukan ini agar kedepannya hidup kita baik-baik saja, mbak juga mengalami hal yang lebih sulit dari pada kamu." ucap Bela.


Dia berangkat sendirian ke kampus nya.


Masih sedang belajar tiba-tiba handphone Bela berdering.


Dia menjawab nya dengan suara yang sangat pelan, namun dia sangat kaget karena itu telpon dari sekolah adik nya.


Mereka mengatakan kalau Vira sedang sakit dan sekarang sedang ada di UKS.


Tidak menunggu lama Bela segera ke sekolah Vira, dengan perasaan yang sangat khawatir dan tidak tenang.


Bela langsung membawa Vira ke rumah sakit untuk di cek, setelah selesai mereka kembali ke apartemen.


"Kok bisa demam sih dek? Mbak sudah bilang jangan bergadang dan kamu juga harus sering makan karena fisik kamu tidak terlalu kuat."


Vira selesai minum obat dia langsung tidur. Bela masih berusaha untuk menurunkan demam Vira yang tak kunjung turun.


"Om Dimas.. Om Dimas di mana?"


Bela Terdiam ketika Vira memanggil Dimas.


Sudah beberapa kali Vira memanggil nama Dimas.


Bela menghela nafas panjang beberapa kali.


Sepanjang malam dia menemani Vira yang demamnya semakin tinggi.


"Bik bagaimana ini? Kenapa demam Vira tak kunjung turun, dia juga tidak mau ke rumah sakit."


Bibik datang di pagi hari melihat keadaan Vira.


"Seperti nya non Vira benar-benar merindukan Pak Dimas, sebaiknya pertemukan saja mereka," ucap Bibik.


Bela menggeleng kan kepala nya.


"Bik, hubungan ku dengan pak Dimas sudah tidak seperti dulu," ucap Bela.


"Tapi seperti nya untuk saat ini Non harus melupakan kejadian itu."


"Tidak bisa bik, aku takut setelah ini pak Dimas Akan mengganggu kamu," ucap Bela.


"Kalau begitu keputusan kamu, Bibik tidak bisa mengatakan apapun itu," ucap Bibik.


"Aku minta bantuan Bibik menjaga Vira di sini yah? Aku harus berangkat kuliah."


"Baiklah."


Bela langsung berangkat karena sudah hampir telat.


Di tempat lain di kantor Dimas.


"Bapak sedang memikirkan apa?" tanya Serli.

__ADS_1


Dimas hanya termenung di Kursi nya.


"Pak!"


"Iyah, ada apa?"


"Apa yang sedang bapak pikirkan? Apa Bapak ada masalah?" tanya Serli.


"Tidak tau kenapa saya tidak bisa berhenti memikirkan Vira dari kemarin, saya sangat merindukan dia."


"Kenapa tidak datang mencoba menemui nya lagi pak?"


"Saya sudah melakukan nya, namun Bela sangat marah."


Serli menghela nafas panjang. "Huff wajar saja sih jika Bela marah karena selama ini dia..."


"Keluar!" Dimas langsung menyuruh Serli keluar.


Serli mengangguk.


"Huff, walaupun orang tua Bela salah, namun tetap saja Bela memiliki rasa marah kepada pak Dimas sudah menjadi kan nya pembalasan dendam."


Setelah selesai kuliah Bela langsung pulang ke rumah.


"Mbak aku tidak mau makan, aku tidak mau makan," ucap Vira. "Kamu harus makan dek agar cepat sembuh."


"Aku tidak mau sembuh karena mbak pasti memarahiku."


"Mbak minta maaf, mbak tidak sengaja marah kepada kamu."


"Aku tidak mau makan kalau belum bertemu dengan Om Dimas," ucap Vira.


"Mbak janji?" tanya Vira, Bela mengangguk.


"Sampai sekarang Vira tak kunjung sembuh, apa sebaiknya aku menghubungi nya?" Bela keluar dari kamar.


"Ah sudahlah, sebaiknya aku membuang keegoisan ku demi Vira cepat sembuh." batin nya.


Bela berangkat ke kantor Dimas, dia sebenarnya sangat ragu namun dia tetap harus masuk ke dalam perusahaan itu.


"Bela.. Kamu di sini?" tanya Fahri.


Bela langsung bertemu dengan Fahri.


"Kamu ngapain di sini?"


"Humm aku mau bertemu dengan pak Dimas, apa dia ada?"


"Masih di ruangan meeting, mungkin setengah jam lagi, kamu bisa tunggu di ruangan nya."


Bela mengangguk. "Eh tunggu dulu Bela," Fahri menahan Bela.


"Kamu memiliki nomor?" tanya Fahri. Bela mengangguk dia memberiku nomor nya.


"Apa Minggu depan kamu ada waktu luang, aku ingin membicarakan banyak hal dengan mu."


"Tapi bagaimana kalau pak Dimas tau dan banyak orang melihat nya," ucap Bela.


Setelah selesai berbicara dengan Fahri dia segera ke ruangan Dimas.

__ADS_1


"Permisi pak, seseorang menunggu di ruangan bapak." ucap Staf kepada Dimas yang baru saja selesai meeting.


"Katakan kalau saya sedang sibuk."


"Tapi Pak,"


"Jangan ganggu saya, saya sedang banyak Fikiran."


"Tamu nya adalah mbak Bela Pak," ucap staf itu.


Dimas yang tadi membelakangi staf tersebut dia langsung berbalik dan berdiri kaget.


"Kamu serius?" Staf tersebut mengangguk.


Dimas meninggal kan laptop nya dan langsung keluar.


Sebelum masuk keruangan nya dia membenarkan rambut, jas dan juga menyiapkan diri.


Dia membuka pintu Bela langsung berdiri.


Dimas menatap Bela tampa mengatakan apapun.


"Aku minta maaf sudah mengganggu waktu bapak, kedatangan saya ke sini karena Vira merindukan Bapak, saya ingin Bapak menemui Vira."


"Bukan kah kamu sendiri yang melarang saya menemui Vira? Kenapa sekarang kamu datang ke sini meminta saya menemui Vira?"


"Saya minta maaf tentang itu pak, namun sekarang Vira sangat ingin bertemu dengan Bapak karena dia sakit."


"Sakit?" Dimas terlihat sangat kaget.


Dimas segera berangkat dengan Bela ke apartemen.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di tempat Bela.


Dimas melihat Bibik yang sedang membujuk Vira minum obat.


"Bik, sudah biarkan saja," ucap Bela dan membiarkan Dimas masuk ke kamar.


"Vira..." panggil Dimas.


"Om Dimas," Vira sangat bersemangat dan langsung bangun memeluk Dimas.


"Aku sangat merindukan Om, aku kefikiran sama Om terus, aku tidak mau tinggal bersama mbak Bela, dia sangat galak tidak mengijinkan aku bertemu dengan Om Dimas."


Dimas menoleh ke arah Bela.


"Om sekarang sudah di sini, om juga sangat merindukan kamu, sekarang kamu minum obat yah agar cepat sembuh."


Bibik memberikan obat kepada Dimas. Dan benar saja Vira sangat penurut. Bahkan mengikuti semua apa yang di katakan oleh Dimas.


Bela dan Bibik keluar membiarkan Dimas di dalam bersama Vira.


"Bibik sudah bisa pulang non?" tanya Bibik.


"Kenapa sangat cepat bik?" tanya Bela.


"Bibik tidak bisa lama-lama di sini karena Bibik juga harus mengantarkan makanan setiap hari ke kantor polisi," ucap Bibik.


"Tapi bik,"

__ADS_1


"Pak Dimas tidak akan melakukan apapun." ucap Bibik menenangkan Bela.


__ADS_2