
Fahri dan Kayla mengantarkan mereka ke rumah Bela. Mereka sebenarnya masih ingin di sana namun melihat Bela tidak mau di ganggu akhirnya mereka memutuskan untuk pergi.
"Aku sangat kasihan kepada Bela, aku tidak tau membantu nya dengan cara apa, tapi aku sangat ingin membantu nya."
"Mendukung mereka saja sudah membantu mereka," ucap Fahri.
"Iyah kamu benar."
"Kakak kalau mau pulang tidak apa-apa kok," ucap Bela.
Dimas menggeleng kan kepala nya. "Aku akan di sini bersama kamu," ucap Dimas.
Bela tersenyum. "Oh iya kak, apa kakak hari ini tidak ke kantor?" tanya Bela.
Dimas menggeleng kan kepala nya. "Serli ada di kantor, aku akan menemani kamu di sini walaupun kamu mengusir ku, aku tetap tidak akan pergi."
"Aku tidak mau menunjukkan rasa sedih ku kak, aku ingin sendiri."
"Kamu bisa melakukan apapun, kamu bisa mengatakan apapun, jangan di tahan, kamu tidak perlu berpura-pura kuat," ucap Dimas.
Dia mengelus kepala Bela, Menatap nya dengan sangat tulus.
"Kita pasti bisa, kita tidak boleh menyerah," ucap Dimas terus menguatkan Bela.
Keesokan harinya Bela belum masuk kuliah, sementara Dimas memilih berangkat ke kantor untuk melihat keadaan kantor.
"Pak Dimas, bagaimana keadaan Bela?" tanya Serli.
"Baik-baik saja, Kalau kamu mau datang melihat nya kamu bisa datang mengunjungi nya."
"Iyah Pak, aku tau Pasti dia semakin sedih sekarang," ucap Serli dia sudah me dengar cerita dari Fahri.
Sementara Bela pergi mengunjungi ayah nya. Dia melihat Ayah nya duduk termenung di penjara itu.
"Kamu datang ke sini?" tanya Ayah nya. Bela menatap ayahnya.
"Ada apa dengan mata kamu? kenapa sangat sembab seperti itu?" tanya pak Irfan.
"Apa ayah tau, karena perbuatan Ayah sekarang aku di benci banyak orang, aku sangat sulit menemukan kebahagiaan ku," ucap Bela.
"Kenapa? Bukan kah semua harta Ayah kepada kamu?"
"Aku tidak bisa bahagia hanya karena uang Ayah, aku bukan Ayah."
"Aku sendiri, aku tidak bisa bahagia sekarang karena semua orang mengatakan kalau aku adalah anak pembunuh, aku adalah anak pembunuh yang keji."
"Ayah sangat jahat! Kalau bisa bisa memilih aku tidak ingin memiliki orang tua seperti ayah, aku sangat menyesal di lahir kan ke dunia ini."
__ADS_1
Bela memukul dan menarik baju Ayah nya sambil menangis.
"Hanya kak Dimas yang perduli dan tulus kepada ku, namun kenapa semua orang tidak setuju dengan hubungan kami?" tanya Bela.
"Aku sangat di benci oleh keluarga nya, aku tidak bisa menikah dengan kak Dimas sekarang."
Pak Irfan mendengar tangisan Bela sudah terdiam, dia tidak bisa mengatakan apapun lagi sekarang.
"Aku tidak mau memiliki Ayah pembunuh, aku tidak mau."
"Kenapa kamu selalu menyalahkan ayah? Kamu bisa merasakan cinta kan? bagaimana ketika perasaan kamu di khianati beberapa kali?" tanya pak Irfan.
"Kenapa Ayah harus membunuh nya? kenapa Ayah? Kenapa Ayah jadi orang yang sangat jahat?"
"Ayah tidak sadar, Ayah pada saat itu sedang emosi."
Bela memukul dada Ayah nya sambil Terus menangis.
"Sekarang bagaimana aku akan menjalani kehidupan ku? bagaimana aku bisa bahagia? bagaimana aku bisa membesarkan Vira seperti ini?"
"Ayah minta maaf, Ayah minta maaf sudah membuat kehidupan kamu hancur nak."
"Tidak ada gunanya Ayah minta maaf, tidak ada gunanya ayah!"
Pak Irfan hanya diam saja. "Apa yang harus Ayah lakukan agar kamu memaafkan ayah nak?"
"Ayah setuju kamu menikah dengan Dimas, ayah hanya takut kamu merasakan apa yang ayah rasakan sebelumnya."
"Aku ingin Ayah mengembalikan semua nya seperti semula, aku tidak ingin ayah menjadi seorang pembunuh."
Pak diam, mana mungkin dia bisa melakukan hal seperti itu.
"Kenapa Ayah diam saja? bukan kah ayah bertanya apa yang bisa membuat aku bahagia?" tanya Bela.
Ayahnya tiba-tiba memeluk Bela dengan sangat erat, "Itu sangat lah mustahil Bela," ucap pak Irfan.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
Bela berontak terus tidur mau di peluk oleh ayahnya itu.
"Bela, ini ayah nak, Ayah melakukan ini karena Ayah tidak sadar, pada saat itu Ayah di selimuti oleh rasa cemburu!"
Bela mendorong Ayah nya. "Aku sangat benci ayah!"
Bela pergi dari sana. "Bela! Bela dengarkan Ayah dulu!"
Polisi langsung menahan pak Irfan agar tidak kabur. Ternyata Bibik juga datang ke sana.
__ADS_1
BIBIK kaget melihat Bela di sana, dan keluar sambil menangis.
"Non Bela sudah pulang? Kenapa begitu cepat?" tanya Bibik.
Dia mengejar nya ke depan,. namun Bela berlari meninggalkan tahanan.
"Nanti saja aku mampir ke rumah nya." ucap Bibik, dia langsung masuk ke dalam lagi.
"Pak Irfan, apa yang terjadi?" tanya Bibik kaget kenapa pak Irfan tiba-tiba menangis.
"Apa Bibik melihat Bela? Apa dia pulang?"
"Seperti nya pulang Tuan, apa yang terjadi Tuan?"
Pak Irfan menceritakan semua nya.
"Seharusnya aku bukan lah Ayah nya, dia sangat menderita karena aku, aku bukan orang tua yang becus!"
Bibik baru melihat pak Irfan sangat prustasi seperti itu.
Bela ternyata tidak pulang melainkan dia datang menemui ibu nya, dia akan melampiaskan semua amarah nya kepada kedua orang tua nya yang sudah membuat hidup nya seperti ini.
Sesampainya dia di sana Bu sisi sangat senang, dia sangat merindukan putri nya itu.
"Bela, ibu sangat merindukan kamu, kemarin lah, ibu ingin menyentuh kamu sayang."
Bela mendekati ibu nya, Bu Sisi menyentuh pipi, hidup, dan tangan Bela.
"Apakah kamu sedang bertengkar dengan Dimas? kenapa wajah kamu sangat sedih?"
"Aku sedih karena aku di benci oleh banyak orang karena aku adalah anak dari pembunuh."
Bu Sisi langsung terdiam. "Maafin ibu nak."
"Tidak ada gunanya ibu minta maaf, tidak ada gunanya aku menjadi anak Ibu, kalau aku bisa memilih anak tidak ingin lahir dari wanita yang mengkhianati suami nya sendiri."
"Bela, kenapa kamu berbicara seperti itu nak?"
"Aku lahir Tampa cinta, aku besar Tampa ada kasih sayang dari keluarga.. Setelah aku dewasa seperti ini, aku harus menanggung semua masalah yang kalian tinggal kan!"
"Bela...." ucap ibu nya. "Aku minta maaf sudah kurang ajar sama ibu, tapi aku benar-benar sangat pusing Bu, aku sekarang pusing."
Setelah itu Bela langsung pergi. Bela tidak tau harus kemana sekarang dia bingung mau melakukan apapun.
dia sangat takut bertemu orang lain. Dia sangat takut dengan tatapan orang kepada nya.
Bela memutuskan untuk mencari tempat yang tenang agar dia bisa menenangkan dirinya.
__ADS_1
Sementara Dimas sedang meeting handphone nya berdering Telpon dari Bela.