Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 109


__ADS_3

Kayla duduk, dia menatap Dimas.


"Malam nanti kamu dengan teman-teman kamu ada acara minum-minum kan? Tante mau ikut."


"Sebaiknya jangan deh, di sana laki-laki semua,"


"Aku tidak perduli, aku mau ikut."


Dimas menghela nafas panjang.


"Kalau ada masalah katakan saja," ucap Dimas.


"Tidak ada, aku hanya ingin minum saja."


"Oke baiklah, aku akan mengabari Fahri."


"Tidak perlu, kita pergi berdua saja."


Dimas menatap bingung, karena biasanya Kayla tidak pernah menolak untuk mengajak Fahri untuk menjaga nya.


Dimas tidak bisa menolak.


"Namun aku tidak bisa berjanji bisa menjaga Tante karena aku pasti mabuk."


Kayla mengangguk, dia sangat senang bisa ikut.


"Akhir-akhir ini sifat nya sangat aneh, seperti anak kecil saja yang mau ikut ibunya terus," batin Dimas.


Namun sudah tidak ada pilihan, dia juga tidak bisa melarang Tante nya yang lebih tua dari nya.


Di malam hari nya sebelum berangkat Dimas mengabari bela terlebih dahulu sambil menunggu Kayla siap-siap.


"Ayo berangkat," ajak Kayla.


"Ya sudah kalau begitu, telpon nya saya matikan terlebih dahulu, kamu juga langsung istirahat dan jangan bergadang."


Bela menginyakan dan telpon langsung mati.


"Habis nelpon Bela?" tanya Kayla. Dimas mengangguk.


"Mau sampai kamu dengan dia ada hubungan seperti ini? apa kamu tidak takut dengan tanggapan orang lain seperti apa," ucap Kayla.


"Terserah mereka mau membicarakan apa, aku tidak perduli, aku lebih perduli dengan kebahagiaan ku."


"Humm kamu benar juga sih, ya sudah kalau begitu ayo berangkat."


Namun tiba-tiba Fahri datang, dia baru saja pulang dia melihat Dimas dan Kayla sudah rapi.


"Humm pak Dimas dan mbak Kayla mau kemana?" tanyakan Fahri.


"Kamu lupa hari ini saya ada janji dengan teman-teman saya."


"oohhhh, apa mbak Kayla juga ikut?" tanyakan Fahri.


"Iyah dia Ikut, kamu tidak perlu khawatir dia pergi bersama saya."

__ADS_1


Fahri mengangguk, dia pun membiarkan mereka pergi.


"Bahkan dia hanya diam saja mengetahui aku pergi ke tempat seperti itu, aku semakin yakin kalau dia benar-benar tidak mencintai ku," ucap Kayla dalam hati.


Fahri menghela nafas panjang. "Huff mbak Kayla, kenapa dia sangat jahat merobek-robek hati ku dengan cara seperti ini."


Karena Galau Fahri juga keluar untuk minum bersama pengawal lain nya.


Kayla dan Dimas baru saja sampai di tempat yang sudah di janjikan sebelum nya.


"Wahh tempat ini sangat Bagus sekali," ucap Kayla.


"Ingat, Tante tidak boleh minum banyak!"


"Iyah-iyah, bawel banget sih kamu."


"Dimas.. Akhirnya kau datang juga, bawa siapa tuh?"


"Tidak perlu berpura-pura tidak tau," ucap Dimas karena dia sudah ijin sebelum nya membawa Kayla.


Kayla memperkenalkan diri dan dia sangat mudah akrab dengan teman-teman Keponakan nya itu.


Dimas duduk bersama salah satu teman nya yang sama-sama pengusaha.


"Seperti nya Tante mu patah hati," ucap nya.


"Bisa jadi, dia tidak mengatakan apapun dia hanya memaksa ikut ke sini."


"Oohhhh,"


"Bagaimana kalau aku mencoba mendekati nya?"


"Kenapa? Dia single aku juga tidak memiliki pasangan."


"Kamu yang akan susah sendiri."


"Huff kamu sangat pelit sekali."


Namun sedang asyik berbincang-bincang tiba-tiba ada wanita yang mendekati mereka berdua.


"Haii.." sapa wanita seksi itu.


Dimas hanya diam saja, namun wanita itu terus menggoda nya.


"Kenapa kamu sangat Cuek sekali Dimas? Apa kamu lupa kalau kita pernah melakukan nya?" tanya wanita itu.


"Jangan sentuh saya! Pergi dari saya."


Teriakan Dimas membuat mereka takut dan tidak berhasil menggoda kedua pengusaha itu.


"Wahh aku sangat salut kepada mu, kau sungguh berubah."


"Apa yang berubah?"


"Sekarang kau sudah tidak pernah lagi tidur bersama wanita seperti dulu, bahkan terlihat lebih dingin kepada wanita, apa kau masih bersama wanita yang bernama Bela itu?" tanya Teman nya.

__ADS_1


Dimas mengangguk. "Serius bro? Loe masih bertahan dengan pembantu mu itu?" tanya teman nya.


"Sekarang dia bukan pembantu ku lagi," ucap Dimas.


"Sorry-sorry, maksud ku bukan seperti itu."


"Dia sangat muda untuk mu, apa kamu bisa dengan perempuan muda seperti dia?".


"Kelihatan nya sangat mustahil, tapi sampai sekarang dia yang sudah membuat saya tidak melirik wanita lain dan hidup dengan damai seperti sekarang ini."


"Pantesan saja kau sangat sulit di ajak nongkrong seperti ini."


"Jadi kapan kau akan menikahi nya? Jangan sampai dia hamil duluan."


"Jaga bicaramu! Bela sama sekali belum ku sentuh, aku serius dan akan menunggu waktu yang tepat."


teman nya yang mendengar itu sangat salut, karena dia tau seperti bapa Dimas dulu di pergaulan mereka.


"Wanita itu sangat hebat sekali," ucap teman nya. Dimas tersenyum.


Sementara Bela baru saja bisa tidur dengan nyenyak tiba-tiba ada yang mengetuk pintu apartemen nya. Dia mengabaikan nya namun bel tidak berhenti berbunyi.


Karena sudah tengah malam dia sangat takut untuk membuka nya, namun dia juga penasaran kenapa pintu apartemen nya tidak berhenti di ketok.


Akhirnya dia memutuskan untuk memeriksa keluar.


Namun setelah di lihat ternyata tidak ada siapapun di luar, dia mau menutup pintu namun baru sadar ada paket kecil di depan pintu nya.


Dia mengambil nya berfikir barang apa, ternyata isinya adalah batu.


Bela menghela nafas panjang. "Siapa sih iseng tengah malam seperti ini?" batin Bela.


Dia tidak berani memeriksa keluar akhirnya dia langsung menutup pintu.


Bela memeriksa Vira di kamar nya dan langsung kembali tidur di kamar nya.


Baru saja membaringkan tubuhnya dia terganggu lagi oleh pintu nya yang ketuk lagi.


Bela menghela nafas panjang. "Siapa lagi sih itu? Kenapa tidak ada keamanan di sini?" ucap Bela dengan kesal.


Dia langsung melihat keluar tidak lupa membawa sapu. Saat membuka pintu dia langsung memukul kan sapu ke orang yang ada di depan pintu, dia sangat kaget ternyata itu adalah Dimas.


"Loh kak Dimas kenapa bisa di sin?" tanya Bela. Dimas sudah kesakitan karena di pukul sangat kuat sekali oleh Bela.


"Kenapa kamu memukul saya?" tanya Dimas.


"Maaf, aku pikir tadi orang iseng, karena dari tadi tidak berhenti mengetuk pintu ku, aku tidak bisa tidur."


Dimas menghela nafas panjang. Bela menatap wajah Dimas.


"Bau sekali, apa kakak mabuk?"


"saya tidak mabuk, saya merindukan kamu," ucap nya.


Bela menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Bagaimana bisa tidak mabuk setelah sudah beberapa jam di club dan datang ke sini dalam keadaan seperti ini," ucap Bela dengan kesal.


"Saya sangat merindukan kamu," ucap Dimas menarik Bela dan berbaring di paha Bela yang duduk di sofa.


__ADS_2