Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 53


__ADS_3

Dimas awalnya menolak di pakai kan topi ulang tahun namun karena Bela dia tidak bisa menolak.


"Katakan apa yang ingin bapak mau terlebih dahulu."


"Saya ingin menjadi pacar kamu."


Bela terdiam sejenak, Dimas meniup lilin Bela tersenyum.


Bela meminta Dimas untuk memotong kue nya dan menyuapi Dimas terlebih dahulu. setelah itu Dimas menyuapi nya.


"Ini untuk Bapak." Bela memberikan kotak yang tidak terlalu besar.


"Apa ini? Saya tidak ingin hadiah apapun."


"Aku tau hadiah dari aku tidak begitu bagus dan aku juga tau kalau Bapak bisa membeli apapun yang bapak mau, tapi hadiah ini aku buat sendiri." ucap Bela.


Mendengar itu Dimas sangat penasaran dia memeriksa nya, dan ternyata isinya adalah boneka rajut yang di buat persis seperti dirinya dan pasangan nya perempuan yang begitu mirip dengan Bela.


"Aku tau kurang bagus, kalau bapak tidak suka tidak perlu di simpan," ucap Bela mau mengambil nya lagi namun tiba-tiba Dimas memeluk nya sambil menangis.


"Pak!! pak!!"


"Terimakasih Bela." ucap Dimas.


"Bapak kenapa nangis?" tanya Bela melihat pipi Dimas sudah basah.


"Saya sangat menyukai nya." ucap Dimas.


Bela tersenyum.


"Ini adalah bapak, dan ini adalah aku. Kalau nanti bapak rindu sama aku di mana pun itu bapak bisa memegang boneka ini."


Dimas tersenyum mendengar itu.


"Kamu tidak akan kemana-mana, kamu tidak meninggalkan saya."


"Aku tau aku di rumah, namun aku tau kalau bapak selalu merindukan aku ketika di kantor."


Dimas tersipu malu.


"Sini." Bela mengajak Dimas sebelum nya buka topi, dan meletakkan Hadiah dan kue di atas meja.


"Kemana?" tanya Dimas.


"Sudah ikut saja."


Mereka berjalan ke arah meja yang di terangi oleh Lilin dan juga di penuhi oleh makanan.


"Tara!" Bela menunjuk kan masakan nya kepada Dimas.


"Tunggu-tunggu kamu tau dari mana Kalau ini makanan kesukaan saya? sejak kapan kamu membeli ini dari restoran itu?" tanya Dimas.


"Enak saja bapak bilang saya beli, ini saya masak sendiri."


"Tidak mungkin..." ucap Dimas.


"Huff bapak tidak percaya?"

__ADS_1


Dimas menggeleng kan kepala nya.


"Kalau begitu bapak coba dulu deh, ini saya masak khusus untuk hari ulang tahun bapak.


Dimas melihat minuman alkohol juga di meja makan itu.


"Kamu sudah seperti pasangan yang menyiapkan makan malam."


"Anggap saja seperti itu," ucap Bela.


Dimas mencicipi masakan Bela.


"Bagaimana? Apakah enak?" tanya Bela.


Dimas mengangguk bela tersenyum sangat bahagia sekali.


Dimas melihat itu dia juga jadi sangat bahagia.


Setelah selesai makan Bela mengajak Dimas duduk di balkon sambil menikmati minuman alkohol itu.


"Kamu sengaja berpenampilan seperti ini?" tanya Dimas yang dari tadi tidak bisa memalingkan pandangan nya dari penampilan Bela.


"Jelek yah?" tanya Bela langsung.


"Sangat cantik sekali, ini sangat cocok sama kamu dan kamu mengingat kan saya pada seseorang."


"Humm itu pasti mbak Vivi."


Dimas menggeleng kan kepala nya.


"Itu ibu saya, ketika dia masih muda sangat mirip dengan mu."


"Apa kamu tau kapan terakhir kali saya merayakan ulang tahun saya?" tanya Dimas.


Bela menggeleng kan kepala nya.


"Di waktu umur saya 15 tahun orang tua saya berjanji mau merayakan ulang tahun bersama, namun ternyata mereka berbohong karena pada saat saat itu mereka tidak datang." ucap Dimas.


"Mereka memang nya kemana?" tanya Bela.


"Mereka di bunuh oleh orang lain pas di perjalanan ke rumah."


Bela terdiam langsung dia menatap Dimas.


"Maafin saya pak, saya tidak tau."


Dimas menggeleng kan kepala nya dan menundukkan pandangan nya.


"Saya tidak akan membiarkan orang yang membunuh kedua orang tua saya meninggal dunia di hari ulang tahun saya sampai saya bertahun-tahun harus mengalami penderitaan yang begitu hebat," ucap Dimas.


Dimas menatap Bela.


"Namun akhir-akhir ini saya bimbang dengan keputusan saya, saya takut karena dendam saya, orang yang saya sayangi pergi untuk kedua kalinya."


Bela kurang paham, namun dia tidak ingin bertanya karena melihat mata Dimas penuh kebencian dan juga kesedihan, Bela bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Dimas.


Bela membawa tangan Dimas dan menggenggam nya sangat erat.

__ADS_1


"Cepat atau lambat pembunuh itu akan dapat, bapak tidak perlu takut." ucap Bela.


Bela memberanikan diri memeluk Dimas.


"Seandainya kamu tau Bela, Ayah mu lah yang sudah membunuh kedua orang tua ku, namun karena kamu aku tidak bisa melanjutkan pencarian ini lagi." batin Dimas.


Dimas membalas pelukan Bela.


"Terimakasih banyak sudah ada untuk saya Bela." ucap Dimas.


"Ngomong-ngomong dari tadi kenapa rumah sangat sepi? Pengawal dan juga security tidak ada." ucap Dimas.


"Humm soal itu..."


"Kemana mereka? Apa mereka meninggalkan kamu sendiri di rumah?"


"Bukan kah Bapak yang membuat peraturan di malam tgl 17 rumah ini harus di tinggal kan?"


"Jangan bilang semua ini Serli yang memberi tau kamu?"


Bela mengangguk.


"Aku ingin melakukan sesuatu untuk bapak, aku ingin membuat bapak bahagia."


"Tapi kamu tidak perlu repot-repot seperti ini, ada kamu di sini sudah membuat saya bahagia." ucap Dimas.


Bela tersipu malu lagi-lagi dia minum sambil menikmati pemandangan langit di malam hari.


Bela semakin banyak minum dia semakin banyak bicara membuat Dimas sangat gemas dengan nya.


Dimas melihat Bela sudah terbaring mabuk, sementara dia masih sadar.


"Mah, Pah aku sangat merindukan kalian." ucap Dimas.


Dimas membawa Bela masuk ke dalam kamar, sebelum tidur Dimas membuka lemari yang hanya di buka sekali setahun.


Dia mengeluarkan kotak musik, foto bayi nya dan foto orang tua nya.


Dimas menghidupkan kotak musik itu.


Hadiah ulang tahun Mamah dan papah nya sebelum mereka meninggal dunia.


Bunyi musik yang keluar dari dalam membuat Dimas menangis.


Bela terbangun karena mendengar suara musik itu. Kepala nya sangat sakit namun dia berusaha untuk duduk melihat Dimas menangis.


Bela menghela nafas panjang.


"Huff walaupun dia terkadang mengesalkan namun ketika dia sedih aku juga tidak tega melihat dia." ucap Bela dalam hati.


Dimas sadar Bela bangun.


"Saya membangun kan kamu? Saya akan mematikan musik nya."


"Enggak kok, musik nya Bagus. Aku jadi keinget masa-masa kecil dulu pak." ucap Bela sambil tersenyum.


Cukup lama Dimas duduk di sana setelah itu dia menyimpan nya kembali dan langsung tidur.

__ADS_1


"Saya akan tidur di sofa." ucap Bela dengan suara yang sangat lemas, namun kenyataannya dia tidak pindah melainkan naik ke kasur memeluk bantal guling dan tidur.


"


__ADS_2