
"Hari ini pak Dimas membatalkan beberapa pekerjaan, aku tidak terburu-buru ke kantor," ucap Fahri.
"Bagus banget, kamu harus membawa aku dengan Vira jalan-jalan ke mall, pasti Vira juga ingin merasakan permainan yang ada di sana."
"Selain itu, aku juga sudah janji kepada nya."
Fahri mengangguk. "Tapi aku harus ijin dulu sama Bela dan juga pak Dimas."
Kayla mengangguk. Di meja makan Dimas mengatakan kalau Vira tidak bisa datang pagi ini, dia akan pergi bersama Fahri dan juga Kayla.
Bela tidak keberatan kalau Vira mau. "Oh iya, pagi ini kita harus ke dokter," ucap Dimas.
"Loh bukannya nya hari ini kakak kerja? Aku bisa pergi sama Yana dan juga Kevin."
"Aku sudah membatalkan pekerjaan pagi ini demi mengantarkan kamu ke rumah sakit, kalau kamu lebih memilih teman-teman mu, aku akan sangat marah," ucap Dimas.
"Oke baiklah kak."
Dimas tersenyum. "Anak yang baik,. kalau begitu lanjut makan," ucap Dimas.
Setelah selesai makan, mereka berangkat ke rumah sakit. Bela di periksa oleh dokter di dalam sementara Dimas menunggu di luar.
Dia bertemu dengan dokter laki-laki yang menangani Bela pertama kali sampai di rumah sakit itu.
"Ada apa Dok?" tanya Dimas karena dokter itu menghampiri dirinya.
"Tidak ada, saya hanya ingin tau bagaimana kemajuan Bela?" tanya dokter itu. Karena dokter itu cukup kenal dengan Dimas.
"Seperti yang dokter tau, masih belum bisa di katakan baik."
"Apa Bela masih mengalami trauma?" tanya dokter.
Dimas terdiam sejenak, dia mengingat diri nya yang selalu sibuk bekerja, pulang hanya menemani Bela istirahat saja.
"Saya belum tau pak, untuk sejauh ini Bela tidak ada menunjukkan sifat yang aneh."
"Saya ingin pak Dimas lebih memerhatikan dan mendampingi Bela."
"Baik dokter, saya akan menjaga nya dengan baik, terimakasih sebelumnya sudah merawat nya."
"Itu sudah menjadi tugas kamu," ucap dokter itu.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai di periksa oleh dokter, Dimas mendengar kan penerangan dokter. Ternyata Bela harus terapi.
Dimas meminta dokter melakukan apapun agar Bela segera sembuh.
__ADS_1
Setelah selesai dari sana Dimas membawa Bela pulang. "Aku sangat bosan kalau hanya di rumah saja, mumpung kita sudah di luar seperti ini, aku ingin sesekali duduk di Cafe itu," ucap Bela menunjuk ke arah Cafe baru seperti nya.
Dimas melihat ke badan Bela. "Aku mohon, aku juga sangat pusing kalau hanya di rumah saja," ucap Bela.
Akhirnya Dimas mau, dia membawa Bela ke sana karena lumayan Sepi juga.
"Hufff setelah dia Minggu aku tidak menikmati udara luar," ucap Bela sambil duduk menikmati angin sepoi-sepoi.
Kayla dan Fahri saat mau pulang tidak sengaja melihat mobil Dimas.
"Loh bukannya itu mobil Dimas?" tanya Kayla, ternyata dia juga sadar.
Fahri dan Kayla melihat Dimas ternyata ada di dalam, akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti.
"Mbak Bela...." panggil Vira.
"Eh, kamu kenapa bisa di sini?" tanya Bela. Tidak beberapa lama Fahri dan Kayla datang.
"Kami tidak sengaja melihat mobil Dimas, ternyata ada kalian di dalam." ucap Kayla.
"Kok kamu sudah keluar? Apa keadaan kamu sudah sehat? Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Fahri mengkhawatirkan Bela.
"Kami baru saja selesai dari dokter melihat perkembangan kesehatan Bela. Melihat tempat ini cocok untuk duduk," ucap Dimas.
Bela tersenyum. Fahri duduk di samping Bela. "Jadi bagaimana? Apa kamu sudah sembuh total? Kaki kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Fahri.
cukup lama mereka berbincang-bincang di sana, namun hari semakin siang, Dimas harus segera ke kantor bersama Fahri.
Akhirnya Kayla membawa mobil Dimas pulang bersama Bela dan juga Vira, sementara Dimas dan Fahri langsung berangkat ke kantor.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah.
"Yeiii akhirnya kita sampai juga, Ante cantik hebat banget bisa nyetir mobil," ucap Vira.
"Nanti kalau kamu sudah besar, nyetir sendiri yah," ucap Kayla.
Vira tersenyum. Kayla membawa Bela masuk. Bela sudah menggunakan tongkat karena sudah mulai membaik.
"Oh iya Bela, kamu tunggu di sini, aku ada sesuatu untuk kamu."
Kayla keluar sebentar tidak beberapa lama kembali membawa satu paper bag.
"Ini apa?" tanya Bela.
"Ini adalah Dress dan juga jas untuk kamu dan Dimas."
__ADS_1
Bela melihat nya, dress yang sangat cantik dan juga jas yang sangat serasi.
"Ini untuk apa mbak?" tanya Bela.
"Aku membeli ini dengan Fahri tadi waktu di mall. Aku membeli ini karena aku mau mengundang kamu di acara Birthday party aku Minggu depan," ucap Kayla.
"Yang keberapa?" tanya Bela.
"Jangan ditanyakan deh, aku malu menjawab nya, pokoknya kamu harus datang."
"Aku sudah membeli ini, kalau kamu tidak datang bersama Dimas membawa Vira, aku akan marah," ucap Kayla.
Bela tersenyum. "Baiklah, aku akan mengusahakan nya mbak," ucap Bela.
Sementara Dimas dan Fahri masih di dalam perjalanan. "Kamu tau kan kalau saya tidak suka kamu dekat-dekat dengan Bela?" ucap Dimas.
Fahri mengangguk. "Lalu kenapa kamu begitu dekat dengan nya tadi?" tanya Dimas.
"Saya minta maaf pak, saya hanya mengkhawatirkan Bela seperti teman saya sendiri, saya tidak ada bermaksud lain," ucap Fahri.
"Saya tidak mau tau, pokoknya saya tidak ingin kamu dekat-dekat atau mencoba perhatian kepada Bela!"
"Baik pak, saya minta maaf."
"Huff pak Dimas sangat posesif sekali, aku hanya mengkhawatirkan Bela. Aku sudah tau kalau aku hanya mencintai Tante nya pak Dimas," ucap Fahri sambil tersenyum.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di kantor. Namun tiba-tiba ada wartawan yang mendekati Dimas dah Fahri.
"Pak Dimas, kami butuh penjelasan nya, bagaimana bisa Bapak menyelamatkan anak pembunuh orang tua pak Dimas sendiri?"
"Apa pak Dimas benar-benar masih memiliki hubungan dengan anak pembunuh orang tua pak Dimas?".
"Apa pak Irfan setuju dengan itu?"
Masih banyak pertanyaan lain. Dimas tidak menjawab nya dia langsung masuk ke dalam karena pengawal nya sudah melindungi nya.
Setelah masuk ke dalam Dimas menghela nafas panjang, dia melihat Rio sudah di dalam ruangan nya.
"Saya minta maaf pak, tapi seperti nya ada yang menjebol kan berita ini ke publik."
"Siapa? kenapa kau tidak cari tau?"
"Saya sudah cari tau, mereka hanya warga biasa yang tidak sengaja melihat kejadian dan melihat langsung."
"Tidak mungkin! Tempat itu seperti nya sudah sangat jauh dari pemukiman warga, dan sudah di pastikan tidak ada orang yang ada di sana," ucap Dimas.
__ADS_1
Rio juga tau itu, tapi penjelasan orang yang menyebarkan itu hanya membuat alasan itu.