
Vira hanya diam saja, ketika Bela marah. Seperti nya Bela benar-benar tidak bisa menahan amarah nya sehingga dia melampiaskan nya ke adik nya itu.
Di malam hari nya Dimas berbaring di kasur nya menatap langit-langit kamar nya.
"Maafin Om yah Vira, om tidak bisa menepati janji Om akan membawa kamu tinggal bersama Om setelah keluar dari panti asuhan."
Di tempat Bela dia duduk di taman apartemen nya sambil melihat ke arah langit.
"Kenapa hidup ku harus seperti ini? Aku di kelilingi oleh uang namun aku sama sekali tidak bahagia, sangat banyak orang yang membenci ku termasuk diri ku sendiri karena kesalahan orang tua ku," ucap Bela sambil menangis.
Keesokan harinya..
"Vira, ayo bangun sayang, kamu harus sekolah," ucap Bela membangun kan Vira.
"Aku tidak mau sekolah."
"Loh kenapa? Bagaimana kalau teman-teman dan guru kamu nanyain?" tanya Bela.
"Aku tidak perduli, aku mau ke sekolah kalau di anterin sama Om Dimas," ucap Vira.
Bela menghela nafas panjang, dia harus memaksa Vira dari pada dia tidak jadi berangkat ke sekolah.
Seperti biasa Bela ke kampus setelah mengantar kan adik nya. Sampai di kampus beberapa orang melihat nya.
"Cih setelah orang tua nya membunuh orang tua pak Dimas, namun anaknya masih berhubungan dengan pak Dimas, sungguh tidak tau malu!"
Bela tidak terima dengan perkataan mereka, dia langsung menghampiri membuat mereka semua bingung.
"Apa yang baru saja kalian katakan?" tanya Bela.
"Kenapa diam saja? aku mendengar kalian membahas tentang ku, kenapa Membicarakan nya di belakang ku? setelah aku di sini kalian berhenti berbicara?" tanya Bela.
Mereka tidak ada yang bisa menjawab satu pun.
"Jangan menghakimi kehidupan orang lain seperti pemikiran kalian yang sangat pendek itu!" ucap Bela dan langsung pergi.
Bela menghela nafas berat setelah sampai di kelas nya.
"Kamu kenapa Bela? Kenapa menghela nafas yang sangat berat?" tanya Tegar, pria yang duduk di samping Bela dan mereka sudah cukup dekat.
"Aku tidak apa-apa."
"Kalau tidak ada masalah, lantas kenapa kamu sedang memikirkan sesuatu seperti itu?" tanya Tegar.
__ADS_1
Bela terkenal sebagai mahasiswa yang pendiam di kelas mereka. Bela tidak memiliki kenalan selain Tegar.
Bela hanya ingin fokus kuliah agar bisa mencapai keinginan nya.
Di malam hari nya..
"Bela, aku di sini!" panggil Fahri di tengah keramaian.
Bela janji makan malam bersama Fahri di luar hari ini karena mereka sudah cukup lama tidak bertemu.
"Maaf yah sudah membuat kamu lama menunggu aku."
"Gak apa-apa kok, santai aja, ayo duduk," ucap Fahri. Bela mengangguk dia duduk di depan Fahri.
"Humm rasa nya sangat canggung sekali setelah beberapa lama tidak bertemu."
"Iyah, aku juga merasa kita seperti baru kenal."
Fahri memerhatikan Bela.
"Aku tidak menyangka kalau kamu bisa berubah seperti ini, kamu jadi semakin cantik."
"Kamu bisa aja," ucap Bela.
"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Vira? apa dia sehat?"
"Bagus deh, sesekali aku juga ingin bertemu dengan nya, dia pasti semakin mirip dengan kamu."
Bela mengangguk. Fahri melihat wajah Bela yang tiba-tiba murung.
"Ada apa Bela?" tanya Fahri.
"Vira tidak berhenti menanyakan pak Dimas, setiap hari dia menanyakan pak Dimas dan ingin bertemu dengan pak Dimas bahkan tidak perduli dengan apa yang terjadi."
"Dia masih kecil, dia tidak mengerti apapun."
"Tapi tetap saja Fahri, aku dengan pak Dimas sudah tidak mungkin untuk kembali, bahkan untuk berbicara saja tidak mungkin."
Fahri menatap Bela. "Tidak perlu perduli kan kata orang lain, bukan kah lebih baik di dunia ini kita memiliki hubungan yang baik dengan setiap orang?"
Bela terdiam. "Kamu juga harus ingat kalau Vira terlebih dahulu mengenali pak Dimas dari pada kamu, kamu tau kan kenapa kamu tau Vira adalah adik kamu? Selain itu Vira sudah menganggap Dimas seperti kakak laki-laki nya."
"Begitu juga dengan pak Dimas, dia sangat menyanyangi Vira, pak Dimas selalu merindukan Vira. Namun tidak ada yang bisa dia lakukan."
__ADS_1
"Dia tidak sungguh-sungguh mencintai Vira, dia hanya ingin menggunakan kami berdua sebagai balas dendam pribadi nya."
"Bela, mau sampai kapan kamu marah kepada pak Dimas? Kalau kamu di posisi dia mungkin kamu akan melakukan hal yang sama."
"Namun siapa yang bisa seperti pak Dimas, dia telah mengurungkan niat nya untuk memperalat kamu dan mencintai kamu setulus hati."
"Mau bagaimana pun kamu harus ingat bagaimana dia mempertaruhkan nyawa nya demi bisa membawa kamu kembali dan percaya kepada nya pada saat itu."
Bela mengingat Radit tiba-tiba datang ke rumah ayah nya dan langsung mengakui perasaan dan hubungan nya langsung kepada Pak Irfan.
Namun dia malah di siksa oleh anggota pak Irfan.
Bela mendengar kan semua kebaikan Dimas yang di katakan oleh Fahri.
Fahri memegang tangan Bela. Menatap nya dengan sangat dalam.
Sementara di luar restoran itu ada Dimas yang sudah salah paham melihat Fahri memegang tangan Bela.
"Apakah aku benar-benar tidak layak untuk bahagia? apa kah aku tidak memiliki kesempatan untuk bahagia?" batin Dimas.
Bela tidak sengaja melihat ke arah kaca tembus pandang dan melihat Dimas yang berdiri tidak jauh dari sana.
Fahri juga melihat ke arah Dimas, namun Dimas langsung pergi.
"Pak Dimas selalu mengikuti kamu kemana saja, dia menjaga mu dari kejauhan," ucap Fahri.
Keesokan harinya saat sedang bersama teman satu kelas Bela di sebuah club. Bela terpaksa ikut karena tidak enak menolak ajakan teman-teman nya.
Namun tiba-tiba dia melihat Dimas di sana, dia tidak sendiri namun bersama teman-teman nya.
"Ternyata yang di katakan oleh Fahri benar, dia selalu mengikuti aku."
Bela sedikit mabuk dia langsung ke kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi ada pria yang menggoda nya.
"Haii cantik, kamu mau minum bersama kita?" tanya Pria itu.
Bela mau mengabaikan nya, namun tiba-tiba pria itu menahan tangan Bela.
dengan cepat dua pria yang sangat tidak asing bagi Bela membantu menangani Pria itu.
Bela menoleh ke arah Dimas, namun Dimas langsung membuang pandangan nya ke arah lain.
Tidak beberapa lama akhirnya Bela keluar dari club itu sudah sangat malam dan juga sudah mabuk.
__ADS_1
Dia sempoyongan keluar dari club, karena tidak bisa melihat lebih jelas dia menabrak orang-orang.
Saat dia mau menabrak dinding, tiba-tiba Dimas menarik tangan Bela mengarahkan ke jalan yang benar dan berjalan sampai keluar.