
"Apa pak Dimas benar-benar masih memiliki hubungan dengan anak pembunuh orang tua pak Dimas?".
"Apa pak Irfan setuju dengan itu?"
Masih banyak pertanyaan lain. Dimas tidak menjawab nya dia langsung masuk ke dalam karena pengawal nya sudah melindungi nya.
Setelah masuk ke dalam Dimas menghela nafas panjang, dia melihat Rio sudah di dalam ruangan nya.
"Saya minta maaf pak, tapi seperti nya ada yang menjebol kan berita ini ke publik."
"Siapa? kenapa kau tidak cari tau?"
"Saya sudah cari tau, mereka hanya warga biasa yang tidak sengaja melihat kejadian dan melihat langsung."
"Tidak mungkin! Tempat itu seperti nya sudah sangat jauh dari pemukiman warga, dan sudah di pastikan tidak ada orang yang ada di sana," ucap Dimas.
Rio juga tau itu, tapi penjelasan orang yang menyebarkan itu hanya membuat alasan itu.
Hari ini Bibik datang lebih pagi ke rumah Bela. "Hari ini Bibik masak di sini?" tanya Bela.
Bibik tersenyum sambil mengangguk. "Humm hari ini seperti nya saya juga mau melihat keadaan Bu Sisi Non."
"Bibik yakin? Aku tidak meminta Bibik untuk melihat keadaan nya, mengantarkan makan siang saja sudah cukup," ucap Bela.
"Iyah Non, tapi sudah beberapa hari tidak melihat keadaan Bu Sisi, saya juga kefikiran."
Bela mengangguk. "Oh iya Bik, apa Ayah ada menanyakan tentang ku?" tanya Bela.
Bibik menggeleng kan kepala nya. "Tuan Irfan akhir-akhir ini sudah tidak membuat masalah karena badan nya kurang sehat," ucap Bibik.
"Kok Bibik baru bilang sih?" tanya Bela. "Bibik gak mau non memikirkan hal seperti itu, saya bisa mengurus tuan Irfan."
"Apa ayah sudah minum obat."
"Saya hanya membeli obat dari apotik Non, karena Tuan tidak di ijinkan di bawa ke rumah sakit."
"Baiklah bik kalau begitu," ucap Bela. Kayla mendengar percakapan mereka, namun dia berpura-pura tidak mendengar dan asik bermain dengan Vira.
Setelah selesai masak Bibik berangkat.
"Hati-hati yah bik," ucap Bela. Bibik mengangguk.
Tidak beberapa lama akhirnya Bibik sampai, dia sangat kaget melihat Tuan Irfan sudah babak belur.
"Tuan apa yang terjadi? apa yang sudah terjadi Tuan,?" tanya Bibik. Petugas datang menghampiri Bibik.
"Ada keributan antara Pak Toni dengan pak Irfan. Tapi kami sudah mengatasi masalah nya."
"Bagaimana bisa mereka satu tempat pak?" tanya Bibik karena dia tau kalau pak Irfan sangat Marah kepada orang tua angkat Bela itu.
Petugas menjelaskan nya, Bibik hanya bisa pasrah dia melihat pak Irfan hanya diam sambil makan.
__ADS_1
"Kalau seperti ini Tuan tidak akan keluar dari sini, Tuan tidak akan bahagia di sini?"
"Memang nya kamu bisa menjamin saya keluar dari sini kalau tidak membuat keributan? Kamu pikir di sini saya bisa bahagia?" tanya pak Irfan marah.
"Bukan seperti itu pak, tapi kalau seperti ini tuan hanya menyiksa diri sendiri."
"Kamu Diam saja, lakukan saja tugas kamu," ucap pak Irfan. Bibik terdiam sambil mengangguk.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan, Bibik mau pulang.
"Tunggu dulu," ucap pak Irfan.
"Iyah Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Bibik.
"Bagaimana keadaan Bela? Apa dia masih di rumah sakit."
Bibik tersenyum dia langsung duduk lagi. Dia menjelaskan keadaan Bela dengan sangat bersemangat.
Hanya menanyakan itu pak Dimas langsung mengusir Bibik.
Bibik menghela nafas panjang. "Huff Tuan Irfan benar-benar sangat sulit di tebak."
Bibik berangkat ke tempat Bu Sisi. Namun tidak sengaja dia berpapasan dengan Dimas di jalan. Mereka berhenti di pinggir jalan.
"Bibik dari kantor polisi? Ini mau kemana lagi?" tanya Dimas.
"Ini Tuan, saya mau melihat keadaan Bu Sisi."
"Tuan sendiri mau kemana? Kenapa tuan menghentikan saya?"
"Tidak ada bik, saya hanya ingin berbicara sebentar. Saya mau menghadiri sidang terakhir pak Toni."
"Oohh," setelah selesai berbicara mereka melanjutkan perjalanan mereka masing-masing.
Di Sore hari nya Fahri sudah pulang menjemput Kayla.
"Fahri, Kenapa Dimas belum pulang juga?" tanya Kayla kepada Fahri yang asik baik bersama Vira.
"Mungkin sebentar lagi."
Kayla melihat Bela menunggu Dimas. Karena bosan Kayla bergabung dengan Fahri.
"Vira, sebaiknya kamu pergi mandi sana, ini sudah sore," ucap Bela.
"Oke mbak," Bibik pun mengantarkan Vira.
Kayla dan Fahri duduk bersama Bela.
"Hari ini kamu kurang bersemangat sekali, ada apa sih?" tanya Kayla.
Bela menggeleng kan kepala nya. "Tidak ada mbak, aku hanya merasa mood ku kurang baik saja."
__ADS_1
Kayla tersenyum. Dia mengelus rambut Bela.
"Pasti bosan kan? tapi kamu harus cepat sembuh agar bisa kuliah lagi."
"Hum. Terimakasih Mbak."
"Oh iya besok aku tidak bisa datang ke sini, kamu sama Bibik gak apa-apa kan?" tanya Kayla.
"Iyah mbak gak apa-apa."
Hari semakin gelap, Fahri dan Kayla harus pulang. Mereka pun pulang Tampa menunggu Dimas pulang.
Namun sebelum mereka pulang Fahri membawa Kayla duduk di salah satu Cafe yang sangat bagus melihat pemandangan sungai yang bagus.
"Aku mungkin pergi tiga hari atau empat hari. Setelah urusan ku selesai aku akan kembali dan mengurus acara ulang tahun ku," Ucap Kayla.
Fahri mengangguk. "Hati-hati, semoga berhasil yah," ucap Fahri.
Walaupun Kayla terlihat sangat santai tapi dia memiliki bisnis sendiri, dia akan pergi mengurus bisnis baru nya.
Dia akan menghadiahkan bisnis baru nya di hari ulang tahun nya nanti.
Setelah selesai di sana mereka berdua pun pulang.
"Non Bela Kenapa belum istirahat? Non Vira sudah tidur."
"Terimakasih banyak Bik, tapi Bibik sudah bisa pulang, aku masih mau menunggu kak Dimas."
"Mungkin Tuan Dimas pulang ke rumah nya non, sebaiknya non istirahat."
"Iyah Bik," ucap Bela. Setelah itu Bibik pun segera berpamitan pergi pulang ke rumah utama.
"Sudah jam sembilan malam, Kenapa kak Dimas belum pulang juga," batin Bela.
Tidak terasa sudah satu jam menunggu jarum jam sudah di angka sepuluh akhirnya Bela memutuskan untuk mengunci pintu.
Namun saat mengunci pintu Dimas datang. Bela melihat Dimas dengan keadaan berangkat sekali.
"Kak Dimas, kenapa baru pulang ?" tanya Bela.
Dimas tersenyum dia mengelus kepala Bela. "Apa kamu menunggu ku? Aku minta maaf sudah membuat kamu menunggu lama," ucap Dimas.
Bela mencium bau alkohol. "Apa kakak minum?" tanya Bela.
"Hanya sedikit saja, Rio sengaja memaksa saya minum," ucap Dimas.
Bela menghela nafas panjang. Dimas berjalan sendiri ke sofa.
"Kenapa kamu belum tidur? Kamu istirahat saja." ucap Dimas. "Justru kakak yang harus tidur, lihat lah keadaan kakak sangat buruk."
"Aku akan mandi," ucap Dimas, membuka baju nya di depan Bela membuat Bela kaget.
__ADS_1