Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 163


__ADS_3

Roi tersenyum, dia memberikan helm kepada Serli.


"Kamu pakai ini," ucap Roi. Serli mengangguk setelah itu mereka langsung berangkat ke kantor.


"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Roi melihat tempat sarapan.


"Belum, perut ku sangat lapar."


"Masih belum telat, masih ada waktu untuk sarapan, sebaiknya kita sarapan terlebih dahulu," ucap Roi.


Serli tersenyum. Mereka sarapan bersama untuk pertama kalinya tampa ada paksaan sama sekali.


Setelah selesai mereka berangkat ke kantor. "Makasih yah sudah mau numpangin aku." setelah sampai di kantor.


"Sama-sama," jawab Roi. Mereka berjalan berdua masuk ke dalam kantor.


Dimas melihat nya, "Ada apa dengan mereka? Apa sekarang mereka sudah akur setelah saling ribut dan menyalah kan?" batin Dimas.


"Dimas!" panggil Kayla. Dimas menoleh ke arah Tante nya itu.


"Tumben banget pagi-pagi di sini, apa tidak ada jadwal hari ini?" tanya Dimas.


Kayla menghela nafas panjang. Dia melihat ke lantai bawah. Dimas ikut melihat nya ternyata ada Fahri di sana.


"Aku mau tukar pengawal, kamu harus ganti yang lebih bagus."


"Loh emang nya Fahri kenapa? bukan nya lebih bagus langsung dengan pacar sendiri?" tanya Dimas.


"Pokoknya kamu harus ganti, aku gak mau dia menjadi pengawal ku lagi."


Kayla langsung pergi. Dimas menghela nafas panjang.


"Perempuan dimana-mana emang selalu sama yah, marah Tampa ada alasan dan pergi tanpa menjelaskan apapun," ucap Dimas.


Dimas masuk ke ruangan nya karena Roi sudah menunggu nya.


Roi datang memberikan penyelidikan hubungan orang tua Dimas dan juga Bu Sisi.


Setelah di selidiki lebih lanjut ternyata Bu Sisi dan Ayah nya sudah berpacaran sejak SMA, namun mereka putus karena di jodohkan oleh orang tua masing-masing.


Setelah beberapa tahun mereka bertemu lagi dan menjalin hubungan lagi Tampa sepengetahuan orang lain.


Dimas jelas sangat kaget dan juga tidak habis pikir serumit itu.


Dimas duduk terdiam memikirkan sesuatu. "Setelah di selidiki seperti ini kita tau kalau yang di lakukan oleh pak Irfan salah, tapi dia melakukan itu karena cinta nya kepada perempuan yang sangat ia sayangi," ucap Roi.


"Mungkin kalau saya di posisi pak Irfan saya akan melakukan hal yang sama," ucap Roi.


"Jadi kamu menyalahkan Ayah saya?" tanya Dimas.


"Bukan seperti itu Pak," ucap Roi.


"Hubungan mereka memang tidak seharusnya terjadi,. tapi apakah pak Irfan harus membunuh orang tua saya?" tanya Dimas.


Roi sudah tidur bisa menjawab. "Baiklah pak, kalau begitu saya permisi dulu."

__ADS_1


"Tunggu sebentar," Dimas menahan Roi.


"Apa ada tugas selanjutnya?" tanya Roi.


"Tidak ada, saya ingin tau apakah hubungan kamu dengan Serli sudah membaik? Karena saya melihat kalian datang bersama."


"Saya juga tidak tau pak, tapi sekarang saya sudah berhenti mengejar nya,"


"Apa karena kamu berhenti mengejar nya dia mau berteman dengan mu?" tanya Dimas.


"Mungkin bisa jadi pak," ucap Fahri.


"Sungguh perempuan yang aneh," ucap Dimas.


Fahri dengan polosnya mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu, saya akan mengatur kencan buta untuk mu."


Roi mengangguk saja, karena itu sudah menjadi rencana nya sebelumnya.


Setelah selesai berbicara dengan Dimas, dia memutuskan untuk pulang.


Namun saat keluar dia kaget karena Serli berdiri di depan ruangan Dimas.


"Serli, apa kau kamu lakukan di sini? apa kamu tidak bekerja?"


"Aku sedang bekerja, hanya saja aku butuh bantuan kamu untuk nganterin aku ke tempat aku bertemu beberapa Staf di sana."


"Bukan nya biasanya ada supir? Kalau naik motor kamu pasti kecapean."


"Enggak kok, lagian tidak terlalu jauh," ucap Serli. Roi akhirnya menginyakan lagian dia sudah tidak ada kerja hari ini.


"Kenapa ayah tidak berfikir dengan baik ketika mau menikah dan memiliki hubungan dengan Bu Sisi?" batin Dimas.


"Ini semua tidak ada jawaban nya kecuali tidak bertanya langsung kepada Bu Sisi."


Dimas beranjak dari tempat duduk nya, namun tiba-tiba Fahri masuk.


"Permisi pak, apa bapak memanggil saya?" tanya Fahri.


"Nanti saja, sekarang kamu ikut saya," ucap Dimas.


"Tapi pak, mbak Kayla masih di sini."


"Tidak perlu hiraukan dia. Kamu kembali menjadi pengawal pribadi saya sekarang."


Fahri mengikuti Dimas keluar dari perusahaan. "Kita mau kemana Pak?"


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan tahanan.


Dimas bertemu dengan pak Irfan.


"Untuk apa lagi kau ke sini? Apa kau mau mengganti kan ku di dalam sini?" tanya pak Irfan belum apa-apa sudah berteriak marah.


"Saya akan segera menikah dengan Putri bapak yang bernama Bela."

__ADS_1


"Tidak bisa! Itu tidak akan terjadi!"


"Saya mencintai Putri Bapak, saya ingin menikahi dan menjadi kan nya istri saya. Saya juga akan mengurus Vira dengan baik seperti adik saya sendiri."


"Hahahaha!!!! Tidak mungkin itu terjadi," ucap pak Irfan.


"Kenapa tidak pak? yang bermasalah bapak dengan orang tua saya, bukan saya dengan Bela."


"Karena saya tau, sifat mu tidak akan beda jauh dari ayah mu, kau akan terus menyakiti Putri ku!"


"Ayah..." tiba-tiba Bela ada di belakang.


Mereka berdua menoleh ke arah Bela.


"Untuk apa kau datang ke sini? apa kau datang bersama pria ini?"


"Tidak Ayah, aku datang sendiri."


"Pokoknya Ayah tidak setuju kamu menikah dengan nya."


"Aku mencintai Kak Dimas, kami saling mencintai Ayah," ucap Bela.


"Apa kamu mau merasakan apa yang ayah rasakan selama ini?" tanya pak Irfan.


"Ayah tidak bisa menyamakan semua nya. Apapun yang terjadi aku akan menikah dengan kak Dimas, kami datang ke sini minta ijin dan restu Ayah."


"Ayah tidak akan merestui nya, Ayah juga tidak akan datang."


Pak Irfan langsung kembali ke dalam tahanan.


Bela menangis, Dimas langsung memeluk Bela.


"Sudah jangan nangis," ucap Dimas. Dimas membawa Bela keluar dari dalam sana.


"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Dimas.


"Aku ikut Bibik mengantarkan makan siang Ayah."


Dimas menghapus air mata Bela.


"Kakak tidak perlu khawatir, aku tetap mau menikah sama kakak," ucap Bela.


Dimas tersenyum, dia memeluk Bela mencium pucuk kepala nya.


"Ya sudah kalau begitu, kamu langsung pulang yah, aku dan Fahri masih harus menemui Bu Sisi."


Bela mengangguk. "Apa aku perlu ikut?"


"Tidak perlu sayang, kamu pulang saja."


Bela mengangguk. Setelah itu mereka langsung menemui Bu Sisi.


Bu Sisi tampak senang ketika Dimas datang.


"Nak Dimas, akhirnya kamu datang melihat keadaan ibu di sini," ucap Bu Sisi.

__ADS_1


Dimas menghela nafas panjang. "Kedatangan saya ke sini mau minta ijin kepada ibu untuk menikahi Bela."


Bu Sisi terkejut mendengar permintaan Dimas.


__ADS_2