Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 118


__ADS_3

"Eh non Serli di sini? Apa kabar non? sudah lama tidak datang ke rumah."


"Iyah Bik akhir-akhir ini aku sangat sibuk sekali," ucap Serli.


"Ada apa non ke sini?" tanya Bibik.


"Mencari pak Dimas dan juga Fahri bik, ada kan?" tanya Serli.


"Humm seperti nya tuan Dimas belum pulang dari kemarin, sementara Fahri masih tidur seperti nya," ucap Bibik.


"Oohh begitu yah Bik, ya udah gak apa-apa, aku bisa menunggu kok."


Fahri membuka mata nya dan melihat Kayla tidur di samping nya. Dia tersenyum mencium kening Kayla sambil mengucapkan selamat pagi.


Fahri bangun dan keluar dari kamar Kayla langsung masuk ke dalam kamar nya.


Kayla sadar kalau Fahri mencium nya, dia senyum-senyum sendiri.


Fahri di kamar nya langsung membersihkan badan nya agar lebih segar dan memakai pakaian rapi.


Dia keluar dari kamar, Fahri kaget melihat Serli duduk main handphone di depan.


"Loh kenapa kamu mbak bisa di sini?" tanya Fahri. Serli melihat ke arah Fahri sambil tersenyum.


"Aku ke sini mau melihat keadaan kamu," ucap Serli.


"Loh mbak tau?" tanya Fahri. "Mana mungkin aku tidak tau keadaan kamu dan juga Dimas," ucap Serli.


Kayla melihat Serli dan Fahri di depan. Serli memberikan obat, dia juga membawa beberapa obat salep dan juga buah-buahan.


Kayla tidak jadi keluar dia memutuskan untuk menunggu saja di dalam kamar sampai Serli pergi.


Sementara Dimas sudah jam sembilan dia tidak kunjung bangun-bangun. Vira sudah berangkat ke sekolah di antar oleh supir sementara Bela sedang masak untuk Dimas karena dia masuk jam sepuluh.


Tidak beberapa lama akhirnya Dimas bangun dia menyadari Bela sudah tidur ada di samping nya dia melihat keluar sambil memanggil nama Bela.


"Sayang..." panggil Dimas ketika melihat Bela di dapur.


Bela tersenyum. Dimas mendekati nya memeluk Bela dari belakang.


"Huff rasa nya seperti menjadi pengantin baru, saya tidak sabar menikah dengan kamu," ucap Dimas.


"Jangan ganggu aku, aku sedang masak kak," ucap Bela.


"Kamu masak saja, saya tidak akan menggangu. Saya hanya butuh pelukan saja."


Dimas menghela nafas panjang menikmati aroma tubuh Bela yang sangat enak sekali.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai, mereka sarapan bersama.


"Kenapa kakak bangun sangat Siang? Apa kakak tidak bekerja?"


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak ke kantor hari ini."


"Oohhhh," ucap Bela.


Mereka lanjut makan.

__ADS_1


"Oh iya jangan lupa bawa ini untuk Fahri yah kak, dia pasti kesakitan juga."


"Bisa-bisa nya kamu membuat saya cemburu seperti ini," ucap Dimas.


"Bukan berniat seperti itu, aku hanya berniat mengucapkan terimakasih kepada Fahri yang sudah membantu kakak."


Dimas melihat Bekal itu. "Baiklah saya akan membawa nya nanti.".


Dimas pulang ke rumah nya dan melihat Serli dan Fahri menunggu dia.


"Bapak akhirnya pulang, bagaimana keadaan bapak?" tanya Serli.


"Saya sudah membaik, luka saya tidak terlalu parah seperti milik Fahri." ucap Dimas.


"Bagus deh kalau begitu, aku senang mendengar nya," ucap Serli.


"Bapak baru dari rumah Bela yah?" tanya Serli.


Dimas menggeleng kan kepala nya.


"Jangan bohong deh pak, kalau pulang membawa bekal seperti ini dari rumah siapa lagi coba," ucap Serli.


"Iyahh saya baru dari sana, saya ke sana minta tolong mengobati luka-luka saya."


"Kan ada rumah sakit pak, kalau tidak pengen ke rumah sakit di rumah kan ada pelayan, dan ada mbak Kayla juga yang bisa membantu kenapa harus Bela."


Serli tidak berhenti menggoda Dimas sampai dimas tidak bisa menjawab nya.


"Sudah lah, kamu banyak tanya." ucap Dimas.


"Maksud kamu?"


"Pasti ada yang sedang memata-matai Bapak dan juga Bela, mereka pasti berusaha untuk membuat masalah lagi."


"Kalau Bapak tidak ingin terjadi masalah kedepannya, Bapak harus lebih hati-hati karena sekarang alamat Bela sudah mulai tersebar."


"Kamu benar juga," ucap Dimas.


"Oh iya Fahri bagaimana dengan kamu? Apa kamu sudah membaik?"


"Sudah pak, sudah jauh lebih baik sekarang," ucap Fahri.


"Kenapa tidak ke rumah sakit? luka ku cukup parah."


"Sudah membaik pak."


"Nih ada titipan dari Bela untuk kamu."


Fahri membuka nya, dia langsung memakan nya mumpung masih panas.


Cukup lama mereka berbincang-bincang di ruang tamu sampai Serli memutuskan untuk pergi.


Hari ini Serli ingin jalan-jalan sendiri namun tidak sengaja bertemu dengan Bela yang tengah ngopi bersama teman-teman nya di Cafe.


"Mbak Serli," ucap Bela.


Serli melihat Bela, dia langsung memeluk Bela karena sudah lama mereka tidak bertemu.

__ADS_1


"Apa kabar kamu?" tanya Serli.


"Baik mbak, mbak sendiri bagaimana? sangat jarang aku bisa melihat mbak."


"Aku sangat sibuk Bela, kamu tau sendiri bagaimana repot nya perusahaan sekarang."


"Iyah aku tau kok mbak," ucap Bela.


Mereka berbincang-bincang di meja yang lain. Yana dan kevin menunggu sampai mereka selesai berbicara.


Tidak beberapa lama akhirnya kevin pergi dari sana.


"Siapa wanita itu?" tanya Yana.


"Kamu kepo banget, aku bilang pun kamu tidak akan kenal."


"Huff pelit banget sih."


Mereka membayar kopi nya dan kembali ke kampus..


Vira di sekolah nya sedang asyik makan eskrim sendirian karena dia tidak memiliki teman dekat itu sebab nya dia selalu sendiri.


"Vira..." panggil ibu nya.


"Iyah Bu,"


"Apa kamu sudah makan siang? Hari ini kita lambat pulang karena latihan menari."


"Belum Bu."


"Ya sudah kalau begitu ayo ikut ibu makan siang."


"Gak usah Bu, aku tunggu Om ku saja."


"Tapi menunggu om kamu, kamu bisa sakit perut."


Vira tidak bisa menolak akhirnya dia mau karena perut nya juga sudah sangat lapar.


Mereka berjalan ke tempat makan yang tidak jauh dari sekolah hanya saja harus menyebrang jalan.


Saat menyebrang lagi-lagi ada motor yang hampir saja menyerempet Vira, namun Bu guru dengan cepat langsung menarik Vira.


"Ya ampun itu motor tidak bisa pelan-pelan, apa dia tidak melihat orang menyebrang?"


Vira melihat motor yang sangat tidak asing, namun dia tidak perduli karena dia menganggap itu adalah kecelakaan.


Setelah selesai makan siang akhirnya mereka pulang kembali ke sekolah.


Dan ternyata Dimas sudah menunggu mereka di sana.


"Eh pak Dimas sudah di sini?" tanya Bu guru langsung bersikap anggun.


"Saya membawa Vira untuk makan siang di sana Pak, maaf kalau membuat bapak mencari keberadaan kami."


"Tidak apa-apa, justru saya yang harus minta maaf karena merepotkan Bu guru."


Ayolah mampir ke karya baru ku yang berjudul "Pembalasan Istri Yang di khianati." 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2