Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 207


__ADS_3

"Ya ampun, kenapa dia nungguin di sini sih?" ucap nya segera menghampiri mobil Roi.


"Kenapa kamu nunggu di sini? Kamu bisa tunggu di parkiran," Ucap Serli kepada Roi.


"Tidak ada orang yang melihat aku, ayo buruan masuk," ucap Roi.


Serli melihat jam. "Ayo buruan," ucap Roi memaksa masuk ke dalam.


"Loh kamu gak jadi keluar malam ini? Bukan nya kamu ada janji?" tanya Serli.


Roi melihat ke arah jam. "Siapa bilang tidak jadi? Aku menjemput kamu agar bisa nemenin aku," ucap Roi.


"Aku mau langsung pulang saja, aku sudah sangat lelah."


"Tidak bisa! Kamu harus ikut aku, kamu bisa tunggu sebentar di dalam mobil kalau tidak mau masuk dengan ku."


"Aku mau pulang Roi..." ucap Serli. Bukan Roi nama nya kalau tidak memaksa kekasih nya ikut dengan nya.


Serli hanya bisa pasrah.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan sebuah bangunan entah tempat apa namun seperti nya tertutup.


Serli menunggu di dalam mobil. "Huff kalau tau seperti ini, sebaik nya dia tidak perlu menjemput ku," ucap Serli.


Dia menelpon Bela melepaskan rasa bosannya.


Mendengar Bela kurang enak badan membuat nya khawatir itu sebabnya dia menghubungi Bela.


"Seperti nya pak Dimas tidak membiarkan Bela istirahat," ucap Serli setelah selesai berbicara dengan Bela.


Satu jam lebih akhirnya Roi kembali. Dia memasukkan beberapa barang ke bagasi. Setelah itu dia masuk dan melihat Serli tidur di kursi.


"Serli..." panggil Roi.


Serli seperti nya sangat nyenyak, Roi mau membaringkan sandaran kursi namun Serli terbangun karena Roi.


"Apa yang kamu lakukan? Jangan macem-macem yah!" ancam Serli.


Roi langsung duduk dengan baik. "Aku hanya mau membenarkan tidur kamu, tapi kalau sudah bangun sebaiknya kita langsung pulang."


Serli menatap Roi yang terlihat sangat gugup.


"Huff seharusnya aku tidak perlu gugup lagi ketika bersama Serli seperti ini karena dia sudah menjadi pacar ku," ucap Roi dalam hati.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Serli.


"Kalau begitu aku pulang dulu yah," ucap Roi.


Serli menoleh ke arah rumah nya.


"Kamu mau pulang? Ini sudah malam."


"Apa aku boleh tidur di sini lagi?"


Serli mengangguk. Roi tersenyum.

__ADS_1


"Tapi kita tidak boleh sering-sering seperti ini, bagaimana kalau ada orang yang melihat?"


"Tidak ada salahnya kan? biasanya juga kita menginap bersama di apartemen Fahri dan juga kita tidak melakukan apapun."


"Bagaimana kalau tiba-tiba ada pekerjaan yang mendesak? Oh iya aku juga mau minta bantuan kamu memeriksa pekerjaan ku."


Serli sangat ingin Roi menginap di rumah nya mencari seribu alasan. Roi tersenyum akhirnya dia mau.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Serli.


"Kamu istirahat saja, aku bisa masak sendiri kalau aku lapar."


"Tapi mumpung aku belum mandi, aku akan masak."


"Tidak perlu Serli, sebaiknya kamu pergi mandi dan setelah itu istirahat."


Serli tersenyum sambil mengangguk. Dia masuk ke dalam kamar nya.


Satu jam kemudian dia keluar mau membuat tempat tidur Roi.


Roi melihat Serli datang. "Wangi sekali," batin Roi.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu?" tanya Serli. Roi menggeleng kan kepala nya.


"Aku sudah memeriksa nya, ini sudah bagus," ucap Roi.


"Terimakasih yah, ya sudah kalau begitu kamu tidur lah. Selamat malam..." ucap Roi.


Serli mengangguk sambil tersenyum. Dia masuk ke dalam kamar nya.


Dimas baru mengantarkan Vira ke sekolah. Dia siap-siap berangkat ke kantor nya.


"Kamu yakin bisa pergi ke kampus? Aku anterin yah?" tanya Dimas.


"Aku sudah di jemput sama Yana kak, lagian kakak harus segera sampai di kantor."


Dimas menghela nafas panjang. Dia mendekati istri nya memeriksa suhu badan Bela.


"Jaga diri baik-baik, kalau terjadi sesuatu langsung hubungi aku." Bela mengangguk sambil tersenyum.


Sesampainya di kantor Serli menatap nya dengan tatapan intimidasi.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Kenapa kamu tidak mengucapkan selamat pagi?" tanya Dimas.


"Selamat pagi pak Dimas...." ucap Serli.


Dimas menghela nafas panjang. "Ada apa dengan mu?" tanya Dimas.


"Apa yang Bapak lakukan kepada Bela sehingga dia demam?" tanya Serli.


Dimas menghela nafas panjang. "Saya tidak melakukan apapun, dia sakit karena kecapean."


"Tidak mungkin! Pasti Bapak melakukan hal yang menyiksa nya setiap malam kan?"


Dimas menatap Serli. "Melakukan hal seperti apa? apa kamu mengerti?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Walaupun saya belum menikah tapi saya tau pak, awas saja kalau Bela sampai sakit tipes pasti bapak yang akan repot sendiri."


"Kenapa kamu berfikir negatif kepada daya? Apa kamu sudah pernah mengalami nya, nanti kalau kamu menikah kamu pasti akan merasakan hal yang sama," ucap Dimas.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Pak, Bela hanya sendiri di sini, kalau dia kenapa-napa siapa yang akan menjaga nya?"


"Iyahh saya tau, saya tidak melakukan hal yang seperti kamu pikirkan, saya juga memiliki perasaan."


"Tapi bagaimana bisa bela sampai sakit seperti itu?" tanya Serli lagi.


"Sebaiknya kamu lanjut bekerja, sulit menjelaskan kepada kamu," ucap Dimas.


Serli di tinggal oleh Dimas dan langsung masuk ke ruangan nya.


"Ada-ada saja dia," batin Dimas.


"Huff tebakan ku pasti benar, pak Dimas sangat kejam dia pasti tidak berhenti menyiksa Bela."


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Serli kepada Fahri kaget karena Fahri ada di ruangan nya.


"Aku menunggu Mbak Serli dari tadi," ucap Fahri.


"Ada apa?" tanya Serli duduk di samping Fahri.


Fahri membuka beberapa map di tangan nya.


"Tunggu-tunggu, apa ini yang ada di leher mu?" tanya Serli.


Fahri langsung teringat tadi malam, Kayla meninggalkan beberapa bekas di leher nya.


Dia segera menutup nya. "Aku alergi makanan, itu sebabnya merah."


"Tapi tidak mungkin deh, ini merah kebiruan," ucap Serli.


"Gak apa-apa mbak, ayo kita bahas pekerjaan ini saja," ucap Fahri.


Setelah selesai dengan Kayla Fahri langsung pergi. Dia masuk masuk ke ruangan nya.


Setelah berganti pekerjaan dia sudah memiliki ruangan tersendiri, walaupun terkadang dia masih memantau para pengawal nya.


"Ada apa dengan semua orang? Benar-benar yah!" ucap Serli.


Sementara Fahri dia langsung mengirimi pesan kepada istri nya.


Kayla yang tengah bekerja juga tersenyum ketika membaca pesan dari suami nya yang kesal kenapa tidak bagus menutupi leher nya dengan bedak.


"Rasain tuh, pasti dia abis di ejek-ejek," ucap Kayla.


Serli duduk di kursi nya sambil berfikir keras.


"Semua orang yang di lingkungan ku sudah menikah, bahkan umur mereka jauh lebih muda dari ku," batin Serli.


"Kira-kira Kapan yah aku menikah," ucap nya sambil menghela nafas berat.


"Yakin mau nikah cepat?" tanya seseorang yang masuk ke ruangan nya.

__ADS_1


__ADS_2