
"Bukan seperti itu," ucap Dimas.
"Bapak tidak perlu berbohong kepada kami, sudah banyak orang yang melihat Bapak beberapa kali bersama anak pak Irfan."
"Sangat banyak perempuan yang setara dengan bapak di luar sana, kenapa harus anak pak Irfan yang sudah jelas anak dari pembunuh kedua orang tua bapak?"
"Ini sangat berpengaruh buruk untuk kehidupan Bapak, kami juga harus memikirkan bagaimana kedepannya kerja sama kita."
"Saya bisa mengurus semua nya Tampa mempengaruhi kerja sama kita."
"Untuk sementara ini, sebelum kasus belum ada titik terang nya, sebaik nya kita berhenti sampai di sini."
"Tidak bisa seperti ini pak, saya yang akan di rugi kan kalau seperti," ucap Dimas.
"Kami minta maaf pak, kami tidak ingin bekerjasama dengan pria yang tidak memiliki pendirian dan tidak bisa menjaga harga diri."
Mereka semua langsung pergi sebelum membahas pekerjaan. Tidak beberapa lama Serli masuk dia melihat semua orang sudah pergi.
"Ada apa pak?"
"Mereka semua membatalkan kerja sama," ucap Dimas. Serli yang tadi nya sangat bersemangat sekarang tiba-tiba lemas.
"Lalu apa yang harus kita lakukan pak? apa kita membiarkan nya begitu saja?" tanya Serli.
"Kamu lanjut saja bekerja, saya akan mengurus nya," ucap Dimas.
Dimas bertemu dengan Roi. "Bagaimana? apa kamu sudah menemukan nya?" tanya Dimas.
"Sudah pak, dia juga sudah minta maaf dan menghapus foto tersebut. Dia juga akan klarifikasi mengenai postingan itu."
Dimas menghela nafas panjang. "Semua nya sudah terlanjur, sudah tidak ada gunanya dia menghapus foto itu dan sekarang berita sudah beredar."
"Masih ada cara nya pak."
"Apa?"
"Bapak harus segera menikah dengan Bela menutup semua isu yang tidak benar."
Dimas terdiam sejenak. "Hanya itu jalan satu-satunya Pak."
"Kamu benar, tapi menikah tidak lah mudah."
"Kalau begitu bapak tetap harus menikah tanpa persetujuan dari orang tua Bela."
"Bagaimana kalau Bela tidak mau?"
Roi menghela nafas panjang. Dia juga pusing kalau seperti itu.
__ADS_1
"Bela.." panggil Dimas menemui Bela yang memiliki menyendiri di Cafe yang sepi.
Bela melihat Dimas. "Kenapa kakak datang ke sini? Bagaimana kalau orang lain melihat nya?"
"Biarkan saja mereka melihat nya, sekarang semua orang sudah tau hubungan kita."
Bela menatap Dimas. "Aku mohon untuk berhenti menemui aku beberapa hari ini kak sampai situasi dingin dan tenang."
"Kenapa?" tanya Dimas. "Aku mau menenangkan pikiran," ucap Bela langsung pergi.
"Huff terjadi lagi hal yang sangat aku benci sekali."
Dimas kembali ke rumah, dia sudah di tunggu oleh Kayla dari tadi.
"Dimas, bagaimana dengan Bela? apa dia baik-baik saja?" tanya Kayla.
"Apa Tante sudah melihat berita nya?"
"Iyah, seharusnya aku memikirkan lebih panjang lagi untuk mengundang Bela. Semua nya jadi seperti ini karena aku."
"Ini bukan salah Tante, ini adalah keteledoran ku."
"Di mana Bela. Aku ingin bertemu dengan nya."
Kayla menghampiri Bela ke rumah nya.
"Seperti nya tidak di rumah," batin Kayla. Namun tiba-tiba pintu terbuka ada Bibik.
"Bik, apa Bela ada di dalam?" tanya Kayla.
"Tidak ada non, ada apa yah?" tanya Bibik.
"Saya ingin berbicara langsung dengan Bela, kalau dia tidak ada saya permisi dulu," ucap Kayla.
Kayla mencari Bela sampai pada akhirnya mereka berdua ketemu.
"Bela kamu pasti sangat marah kan sama ku? aku . minta maaf karena sudah memaksa kamu datang ke acara ulang tahun ku."
"Tidak mbak, mana mungkin aku marah, tadi malam sangat menyenangkan."
"Tapi karena acara itu semua orang mempermasalahkan hubungan kalian berdua."
"Ini adalah urusan aku dengan kak Dimas, tidak ada hubungan nya dengan pesta ulang tahun atau kesalahan mbak, ini adalah kesalahan kami berdua."
"Ya ampun Bela," ucap Kayla langsung memeluk Bela.
"Sebaik nya kamu dengan Dimas langsung menikah saja, agar mereka berhenti berbicara hal-hal yang aneh tentang kamu dan Dimas."
__ADS_1
Bela tersenyum. "Aku akan memikirkan semua nya mbak."
Bela tidak bisa lama-lama di sana karena di semua tempat ada yang mengenal nya.
Bela sampai di rumah nya ternyata banyak orang yang berkerumun di depan rumah nya. "Apa yang sedang mereka lakukan di sana?"
"Apa yang kalian lakukan di pagar rumah ku?" tanya Bela. Mereka semua minggir dan ternyata banyak poster wajah nya, wajah orang tua nya yang di coret-coret dan di tulis kata-kata yang tidak enak di baca.
Bela tidak bisa berkata-kata lagi, dia mengusir mereka semua.
"Aku yakin rumah ini dari Dimas, mana mungkin dia bisa memiliki rumah mewah seperti ini."
Mereka semua belum tau kalau kekayaan pak Irfan jatuh ke tangan nya.
Bela menangis di ruang tamu nya sendiri. "Kenapa aku harus merasakan ini lagi, apa ini tidak akan berhenti selama nya?" tanya nya karena saat Ayah nya masuk penjara dia juga di hujat oleh semua orang.
"Non Bela, kenapa non Bela nangis?" tanya Bibik. Bela melihat Bibik dia langsung memeluk nya.
Dia menceritakan semua nya. "Sudah non, jangan sedih. Bagaimana kalau kita ke rumah Utama?" tanya Bibik.
"Di sana non bisa menenangkan diri dan juga banyak penjaga sehingga mereka tidak bisa datang untuk mengganggu non Bela."
Bela terdiam sejenak. "Non Bela tidak perlu memikirkan semua nya dengan sulit."
Akhirnya Bela mau, dia menyiapkan semua pakaian nya dan juga membawa pakaian Vira.
Tidak beberapa lama akhirnya supir rumah utama datang menjemput mereka.
Di malam hari nya Dimas tidak bisa tenang akhirnya dia datang ke rumah Bela memastikan keadaan nya.
Namun setelah sampai di depan rumah Bela, dia heran kenapa gerbang di kunci dan lampu juga mati.
Dimas menelpon Bela, namun tidak di jawab. "Kemana dia?" batin Dimas.
Dia menelpon terus namun tidak di jawab, tidak beberapa lama pesan masuk ke handphone nya.
"Aku akan tinggal beberapa hari di rumah utama kak, kakak sebaiknya menyiapkan masalah nya sampai selesai."
Pesan dari Bela membuat Dimas kesal. "Kenapa Bela tidak bisa berubah? Apa keputusan kabur-kaburan seperti ini menjadi jalan keluar? kenapa tidak di bicarakan?" batin Dimas.
Di tempat lain Serli sudah sangat kelelahan dia belum menyelesaikan pekerjaan nya. Tidak sengaja dia melihat Roi yang baru saja keluar dari ruangan Dimas.
"Kenapa dia belum pulang jam segini?" batin Serli.
Roi bekerja seharian di ruangan Dimas. Setelah pekerjaan nya selesai dia memutuskan untuk kembali ke apartemen nya.
"Roi!" panggil Serli. Dia berhenti sebelum keluar dari perusahaan.
__ADS_1
"Apa kamu mau pulang?" tanya Serli.