Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 71


__ADS_3

"Aku tidak mengerti apa yang Ayah maksud, namun aku benar-benar minta maaf kepada ayah kalau aku membuat hidup ayah seperti ini."


"Tidak cukup dengan kata maaf."


"Apa yang harus aku lakukan Ayah? Aku sangat merindukan Ayah, aku mohon jangan tinggalkan aku dengan Vira lagi, aku sangat ingin bersama Ayah," ucap Bela.


Pak Irfan membuka ikatan tangan dan kaki Bela yang sudah biru-biru.


"Saya butuh bantuan kamu untuk menghabisi dan memberikan Dimas pelajaran," Ucap pak Irfan.


Mendengar itu Bela terdiam sejenak.


"Kenapa kau hanya diam? Jawab!"


"Ayah, aku mencintai Kak Dimas."


Tiba-tiba saja pak Irfan mendorong wajah Bela.


"Kalau begitu saya tidak akan pernah melepaskan mu!"


Bela bingung harus bagaimana dan dia benar-benar sangat terkejut dengan hal yang sekarang benar-benar terjadi sekejap saja.


"Kamu memilih Dimas atau ayah kamu sendiri?" tanya pak Irfan.


"Aku memilih Ayah," ucap Bela.


"Baiklah kalau begitu saya akan membawa kamu dengan saya, asal kamu bisa meninggalkan Dimas karena Dimas sudah membuat ibu mu depresi."


"Maksud Ayah?"


"Cerita nya panjang, namun Dimas lah yang membuat ibu mu sekarang terbaring di rumah sakit bertahun-tahun."


Mendengar itu Bela sangat kaget.


"Ayah aku ingin bertemu dengan Ibu."


Sementara Dimas sudah babak belur di hajar oleh anggota Pak Irfan yang cukup kuat.


Untung saja banyak anggota Dimas yang bisa menyelamatkan nya namun tidak dengan Rio yang berhasil di bawa oleh mereka.


Dimas melihat mobil yang baru saja keluar dari halaman yang hampir saja menabrak nya.


Tapi dia bisa melihat isi di dalam mobil itu ada Bela dan juga Pak Irfan.


"Apa yang baru saja ku lihat? Bela pergi dengan pak Irfan?" tanya Dimas.


Bela sampai di rumah sakit, mereka membawa Vira berobat terlebih dahulu dan setelah itu menjenguk ibu nya.


Mereka masuk ke ruangan yang benar-benar dijaga sangat ketat sekali.


Bela masuk bersama Ayah nya dia melihat wanita tua terbaring di tempat tidur.


Dia terbangun ketika pak Irfan membangun kan nya.


"Ibu masih mengenali aku?" tanya Bela.

__ADS_1


Perempuan itu terlihat sangat linglung dia benar-benar tidak ingat anak pertama nya itu.


Bela menatap wajah ibu nya sambil menangis.


"Aku adalah anak ibu, aku adalah anak yang ibu titip kan di panti asuhan itu."


Mendengar itu ibu nya yang tidak bisa bicara hanya diam sambil terus menatap wajah Bela.


"Ibu kamu tidak bisa lama-lama di jenguk dia masih belum terbiasa dengan orang asing."


Bela di paksa keluar sementara dia bisa merasakan kalau ada yang aneh dengan ibu nya itu.


Pak Irfan membawa Bela ke kediaman pak Irfan.


Di rumah Dimas baru saja pulang dia di tunggu oleh Tante dan Bibik.


"Dimas akhirnya kamu pulang, apa yang sebenarnya terjadi? ada apa dengan semua ini? kenapa kamu menutupi semua nya dari Tante?" tanya Kayla.


"Tante sudah tau?"


Kayla mengangguk.


"Bagaimana bisa kamu menampung anak pembunuh itu di sini, apa kamu tidak takut sama sekali?" tanya Kayla.


Dimas terdiam. "Aku tidak habis pikir dengan kamu Dimas, sekarang semua nya sudah seperti ini dan kamu berpacaran dengan anak pembunuh orang tua mu sendiri."


"Aku tidak mau membahas itu sekarang, aku mau istirahat."


"Bagaimana dengan Bela dan juga Vira?"


Kayla menghela nafas panjang.


"Lalu kamu akan membiarkan nya begitu saja?"


"Aku sudah meminta anak buah ku untuk mencari Bela dan Vira."


"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kamu mengobati luka mu terlebih dahulu."


"Kak," ucap Bela yang ternyata datang membuat semua orang kaget karena Bela sudah di depan pintu rumah.


Dimas mendekati Bela melihat keadaan Bela.


"Aku baik-baik saja," ucap Bela.


"Bagaimana bisa Bela? Kenapa kamu bisa sampai di sini?" tanya Dimas.


"Cerita nya panjang kak, sekarang aku selamat begitu juga dengan kakak, tapi Vira masih bersama Pak Irfan."


"Kenapa dia tidak ikut dengan kamu?"


"Aku berusaha untuk kabur, karena Vira sakit aku tidak bisa membawa nya."


Dimas memeluk Bela.


"Saya akan berusaha mendapatkan Vira, kamu tidak perlu khawatir."

__ADS_1


Keesokan harinya Bela dan Dimas duduk bersama, Bela membersihkan luka Dimas yang tadi malam tidak sempat di bersihkan.


Dimas menoleh ke arah Bela yang seperti nya memikirkan banyak hal sehingga tidak fokus.


"Bela sebaik nya kamu istirahat saja, kenapa kamu masih sedih seperti ini?" tanya Dimas.


"Kak, ada apa masalah kakak dengan pak Irfan?"


"Seperti nya Bela belum tau apa-apa," batin Dimas.


"Hanya masalah pekerjaan, dia mengambil orang-orang yang sangat penting bagi saya."


"Hanya masalah pekerjaan?" tanya Bela. Dimas mengangguk.


Hari-hari berlalu hubungan Dimas dengan Bela sama seperti biasa namun Bela akhir-akhir ini jauh lebih dingin sekali kepada Dimas.


"Sayang..." Dimas memeluk Bela dari belakang di saat membuka susu hangat di pagi hari. Bela melepaskan pelukan Dimas dari pinggang nya.


Kayla melihat itu, namun dia hanya bisa diam saja.


Dimas berangkat ke kantor namun tidak di respon oleh Bela.


Tidak beberapa lama akhirnya Dimas sampai di kantor.


"Pak, bapak harus melihat ini," ucap Serli sambil memberikan data-data.


"Bagaimana bisa semua data-data ini kosong?" tanya Dimas panik.


"Tidak tau pak, namun seperti nya ada yang membobol dan mengambil semua data-data kita."


Dimas membuka tas nya sambil membuka laptop nya dan benar saja ada seseorang yang membuka laptop nya.


Namun dia rasa tidak ada seorang pun yang bisa membuka laptop nya selain dirinya sendiri.


Dia sangat pusing melihat pekerjaan nya yang semakin buruk.


Tiba-tiba Rio datang ke kantor.


"Pak Dimas, kita perlu bicara."


"Ada apa? Kamu sudah sehat? Baru dua hari kamu istirahat." ucap Dimas karena Rio sudah berhasil kabur berkat Dimas.


"Sekarang kediaman Pak Irfan sudah kita dapat kan, kita butuh memeriksa Cctv sebelum nya untuk mencari bukti yang lebih tinggi agar kasus ini segera selesai."


"Baiklah saya akan menjemput nya ke rumah terlebih dahulu." Rio dan Dimas keluar dari ruangan itu.


"Pak bagaimana dengan ini pak? bagaimana saya harus menanganinya?" tanya Serli.


"Kamu urus saja Serli, saya akan segera kembali."


Dimas dan Rio sudah sampai di rumah, Dimas masuk ke kamar terburu-buru sampai Bibik terkejut.


Dimas membuka laci nya dan mencari Cctv dan barang-barang bukti yang sudah bertahun-tahun dia simpan namun semua nya sudah tidak ada lagi, tidak ada satu pun tersisa di sana."


"Kenapa tidak ada di sini?" Dimas menggeledah semua nya.

__ADS_1


__ADS_2