Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 227


__ADS_3

Bela khawatir karena tidak biasa, dia menelpon balik namun malah di tolak.


Di coba lagi malah tidak aktif.


"Ah sudahlah, mungkin dia hanya iseng saja," ucap Bela.


Dia mengabaikan panggilan telpon dari Fani. Mereka pun berangkat ke rumah utama karena sudah di tunggu.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di tempat. "Apa yang kakak lakukan di sana?" tanya Bela kepada Bela kepada suami nya karena tidak mengikuti nya masuk ke dalam.


Dimas melihat ke arah penjaga di pintu masuk semua menatap nya dengan tajam seperti siap ingin memakan Dimas.


Bela melihat ke mereka semua. "Mulai hari ini dan seterusnya kalian tidak bisa seperti ini, kak Dimas sudah menjadi suami ku, kalian juga harus menghormati dia."


"Kami di bayar oleh Pak Irfan, pak Dimas yang sudah memasukkan pak Irfan ke penjara, bagaimana bisa kami menghormati nya?" ucap mereka.


"Apa kalian semua mau di pecat dan di keluarkan dari sini?" tanya Bela. Mereka menggeleng kan kepala nya.


"Tidak, kami minta maaf."


mereka langsung memberikan wajah yang ramah kepada suami nya dan mereka masuk ke dalam.


Dimas melewati mereka.


"Sekarang aku jauh lebih berhak dari pada kalian semua! Dan saya akan membalas semua kelakuan kalian kepada saya pada saat itu," gumam Dimas sambil tersenyum tipis.


Mereka yang mendengar itu hanya bisa diam. "Sayang, tunggu aku dengan Vira," ucap Dimas mengejar istri nya ke dalam.


Sementara di rumah Fani, dia sama sekali tidak di ijinkan oleh kekasih nya pergi dari kamar.


Fani menangis sepanjang malam karena sekarang dia sudah terikat oleh pria itu.


"Lepaskan aku! aku mau pergi aku tidak mau bersama kamu!"


"Kenapa? bukan kah kita saling mencintai? Kamu juga menikmati permainanku," ucap pria itu.


"Pergi! Aku jijik sama kamu, pergi!"


Fani berontak namun tidak ada gunanya.


"Kenapa kamu harus menangis? Hubungan kita baik-baik aja sekarang," ucap kekasihnya.


Tiba-tiba handphone kekasih nya berdering. Fani bisa melihat panggilan dari istri nya.


Dia menjawab keluar dari kamar. Tidak beberapa lama dia kembali ke kamar wajah nya terlihat sangat pucat.


"Aku harus kembali ke rumah sekarang, aku mohon kamu tunggu aku di sini," ucap Nya segera memakai baju nya dan pergi.

__ADS_1


Keesokan harinya...


"Kak Dimas... Ayo bantu aku nyiram tanaman dulu!" ucap Bela dari samping rumah karena Dimas dan Vira asik bermain bola.


"Iyah sayang," ucap Dimas langsung menghampiri istrinya.


"Permisi Pak," tiba-tiba Fani datang. Dimas menoleh ke arah Fani. Wajah pucat, sembab dan sangat berantakan.


"Kak Dimas, buruan, aku sudah Capek," ucap Bela dari samping rumah.


Tidak beberapa lama dia datang bersama Fani membuat Bela kaget kenapa ada Fani di sana. Karena melihat keadaan Fani dia langsung membawa nya duduk dan meminta Fani menceritakan apa yang terjadi.


"Om ngapain sih?" tanya Vira membuat Dimas kaget karena Vira mengejutkan nya sedang menguping pembicaraan istri nya.


"Kamu buat om kaget, kamu pergi main sana."


"Om gak boleh nguping, kalau mbak tau dia pasti marah.


Dimas menghela nafas panjang. Dia menyelesaikan pekerjaan nya terlebih dahulu.


Baru saja menyelesaikan nya dia kembali ke depan namun ternyata Fani sudah pergi. "Ada apa dengan Fani?" tanya Dimas.


Bela menghela nafas panjang. "Dia sangat keras kepala. Hanya karena cinta dia jadi teraniaya."


"Lalu dia mau apa ke sini?" tanya Dimas.


"Dia bilang mau numpang beberapa hari di sini untuk menghindari mantan kekasihnya karena kekasih nya masih berusaha untuk kembali kepada nya."


"Kamu yakin mau membiarkan dia tinggal di sini? Bagaimana kalau kekasih nya membuat kekacauan?"


"Gak mungkin lah, aku akan tanggung jawab kepada nya."


Dimas tidak bisa melarang Bela karena rumah itu adalah rumah Bela.


Fani pulang mengambil pakaian nya untuk pindah ke rumah Bela.


di sore hari nya dia baru saja sampai, dia langsung di kasih kamar oleh Bela.


"Kamu istirahat di sini saja yah, kamu anggap saja seperti di rumah sendiri," ucap Bela.


"Iyah, terimakasih banyak yah Bela. Aku benar-benar tidak tau cara membalas kebaikan kamu seperti apa."


"Kamu tenang saja sudah membuat aku bahagia, aku ingin kamu istirahat sekarang kalau butuh apa-apa bilang saja."


Bela pun meninggalkan nya di kamar. Suami nya sudah menunggu di depan pintu.


"Kok wajah kakak kurang bahagia gitu sih?" tanya Bela.

__ADS_1


"Aku kurang nyaman orang lain tinggal di rumah kita sayang, aku sama sekali tidak nyaman."


"Sekali ini saja kak, tidak ada salahnya kita berbuat baik kepada orang lain."


"Ya sudah deh terserah kamu saja, lagian dia juga teman baik kamu."


Di tempat lain...


"Serli, apa kamu sudah masak?" tanya Roi tiba-tiba ke rumah Serli. Serli yang sedang enak nonton TV kaget kedatangan Roi.


"Ada apa? Aku belum masak karena aku sangat malas."


"Nah tepat banget, aku mau ngajakin kamu makan dan nongkrong sama anak-anak motor," ucap Roi.


"Gak mau, ini hari libur aku mau istirahat."


namun Roi memaksa menggendong nya keluar dan memasukkan nya ke dalam mobil.


"Roi!" Serli sangat kesal sekali karena Roi memaksa nya pergi keluar padahal masih sangat berantakan, pakai celana pendek piyama.


Rambut masih sangat berantakan dan wajah pucat tampa sedikit pun makeup.


"Aku akan marah kalau kamu tidak menurunkan aku!" ucap Serli.


Namun Roi tidak tanggap dia menjalan kan mobil fokus pada jalanan dan akhirnya sampai di restoran hotel.


Serli sangat malu masuk ke dalam sana berpenampilan seperti itu.


"Apa sih maksud kamu mempermalukan aku seperti ini?" ucap Serli. "Kamu cantik sayang," ucap Roi.


"Aku serius! Jangan bercanda!"


"Aku juga serius, lihat lah semua orang melihat mu karena terpukau dengan kecantikan kamu, aku tidak salah pilih pasangan."


"Percuma saja kamu memuji ku, sekarang aku benar-benar ingin menghajar mu, awas saja kalau sudah sampai di rumah!" ucap Serli.


"Ssttt!!! Jangan berisik, aku sangat lapar sekali," ucap Roi.


Serli menghela nafas panjang melihat kelakuan Roi.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai, mereka keluar dari sana. "Huuuff akhirnya keluar juga dari sana, aku sangat malu mereka menatap ku dengan tatapan aneh."


Dia mendengar handphone Roi yang tak kunjung berhenti berbunyi. Bahkan saat di meja makan.


Namun Roi mengatakan itu adalah teman-teman nya.


"Kemana kita?" tanya Serli. "Kamu jangan banyak tanya, ikut saja deh," ucap Roi.

__ADS_1


Serli pasrah, tidak beberapa lama sampai di pinggir sungai.


"Ngapain kita di sini?" tanya Serli sangat kesal karena di sana hanya ada penjual minuman biasa, hanya jajanan biasa dan bukan tempat yang bagus.


__ADS_2