Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 205


__ADS_3

"Sayang... aku tidak marah, kenapa kamu berfikir aku marah sama kamu?" tanya Fahri.


Kayla diam saja. "Kenapa setiap hari kamu selalu ngambek sih? Aku tidak bermaksud marah atau menganggap kamu tidak bisa," ucap Fahri.


"Jangan ngambek dong, kalau begitu ayo kita makan," bujuk Fahri.


Kayla menatap wajah Fahri. "Aku tidak lapar. Kamu saja yang makan sendiri."


"Setelah selesai makan bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan ke mall?" tanya Fahri.


"Aku gak pengen. Aku mau di rumah saja."


Fahri menghela nafas panjang. "Mau kamu apa sih sebenarnya?" tanya Fahri.


"Dari kemarin kamu tidak berhenti marah, kamu ngambek tidak jelas."


"Aku mau kamu bekerja di perusahaan ku, hanya itu saja."


Fahri menghela nafas panjang. "Aku sudah bilang biarkan aku menyiapkan proyek ku terlebih dahulu dan setelah itu kamu bisa menilai nya."


"Aku tetap mau kamu bekerja dengan ku."


"Kayla.. kita sudah dewasa, kalau kamu memaksakan kehendak kamu terus bagaimana bisa aku berkembang dengan cara ku sendiri?"


"Apa kamu tidak ingin aku berkembang dengan usaha ku sendiri?"


"Tujuan kita untuk menikah adalah untuk bahagia, memiliki pasangan harus saling support."


"Tapi..."


"Aku tau kamu tidak mau aku pergi-pergi jauh, tapi aku melakukan ini semua karena kamu."


Kayla menunduk kan kepala nya. "Kan kalau sudah di bilangin pasti langsung sedih."


Fahri memeluk Kayla. "Aku minta maaf, seharusnya aku tidak seperti ini, aku yang lebih tua harus mengerti dan lebih dewasa," ucap Kayla.


Fahri mengangguk. Mereka berbaikan dan lanjut makan.


Sementara di tempat lain Dimas keluar dari supermarket membawa minuman untuk istri nya dan juga Vira.


"Hari ini kita kemana? apa kamu mau jalan-jalan?" tanya Dimas kepada Bela.


"Humm aku memiliki janji sama teman-teman ku siang nanti, sudah sangat jarang kami ngumpul," ucap Bela.


"Lalu kami berdua?" tanya Dimas. "Humm kalian bisa pergi berdua, terserah mau kemana, aku serahkan Vira sama kakak yah," ucap Bela.


"Kami ikut," ucap Dimas.


"Gak bisa kak, lagian tidak ada yang bawa pasangan."


"Emangnya kakak gak malu?" tanya Bela.


Dimas menghela nafas panjang. "Kalau begitu kamu harus cepat pulang," ucap Dimas.


Bela tersenyum. Saat masih asik berbincang-bincang ternyata Roi dan Serli di sana juga.

__ADS_1


Mereka baru keluar membeli minuman.


"Pak Dimas," Ucap Serli tampak kaget.


"Humm ternyata di belakang saya kalian seperti ini," ucap Dimas.


"Bapak jangan salah paham," ucap Serli.


"Bagaimana saya tidak salah paham, saya sudah melihat kalian berdua di luar kantor sering berduaan."


"Dan apa ini, olahraga pagi-pagi bersama," ucap Dinas.


Serli dan Roi hanya diam saja. "Jangan-jangan Kalian sudah jadian yah?" tanya Bela.


"Enggak kok, mana mungkin kamu jadian," ucap Serli.


"Yakin?" tanya Dimas menyakinkan lagi.


"Ya sudah kalau begitu, kamu pergi duluan Serli, ada yang harus saya bicara dengan Roi."


Serli langsung pergi. "Huff untung saja bisa lolos," batin Serli.


Dia kembali ke rumah nya, Tidak beberapa lama Roi datang.


"Uhhh!!! Pak Dimas benar-benar sangat penasaran dengan hubungan kita," ucap Roi.


"Pokoknya kita tidak boleh ketahuan lagi, kamu gak mau kan wajah ngeselin pak Dimas mengejek kita nanti, dia pasti akan berbicara ke seluruh kantor."


Roi tersenyum. "Oh iya tadi pak Dimas ngomong apa?"


"Huff bagus deh, kalau begitu aku mandi dulu," ucap Serli.


Setelah selesai mandi mereka Makan karena sudah di pesan oleh Roi dari luar.


Serli berangkat nongkrong bersama Yana.


"Tumben banget Kevin tidak ikut, apa dia tidak di sini?" tanya Bela.


"Dia ada acara keluarga itu sebabnya dia tidak ikut."


"Bagus deh kalau begitu, sebenarnya kalau ada dia, aku sangat canggung sekali," ucap Bela.


"Kenapa?"


"Akhir-akhir ini dia bersikap aneh gitu," ucap Bela. "Mungkin dia masih memiliki perasaan sama kamu itu sebabnya aneh."


"Bisa jadi saja, hanya saja aku takut kak Dimas tau, kamu tau sendiri kan Dimas kalau marah tidak ada ampun."


Tidak terasa akhirnya mereka sampai di tempat.


Baru saja sampai di sana, kepala Bela terasa sedikit puyeng mencium bau alkohol campur asap rokok yang cukup menyengat di meja nya.


"Ya ampun Bela, kamu sensitif banget sih, baiklah kami akan berhenti merokok, kami juga akan meletakkan minuman kami di meja lain."


"Gak apa-apa kok, aku minta maaf sudah membuat kalian tidak nyaman. Aku akan traktir kalian," ucap nya.

__ADS_1


"Asikkk, mentang-mentang istri seorang pria kaya raya, bagus deh, Kapan lagi kita bisa di traktir oleh kamu," ucap mereka.


Sebenarnya Bela tidak menggunakan uang suami nya, melainkan uang nya sendiri.


Tidak terasa sudah jam empat sore.


"Mbak, ada seseorang yang menunggu ada di depan," ucap pemilik resto.


Bela permisi kepada teman-teman nya dia melihat ke arah Dimas yang menunggu di depan mobil sambil bersandar dan melipat kedua tangan di dada.


Dia menatap dingin kepada istri nya. "Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Bela.


Dimas menunjuk ke arah jam tangan nya. "Jam berapa sekarang?"


"Ini masih jam empat sore kak, masih terang, aku juga masih sama teman-teman ku," ucap Bela.


"Kamu Janji akan pulang cepat hari ini," ucap Dimas.


"Tapi aku masih sama teman-teman aku kak," ucap Bela.


"Bela, ayo, Permainan nya sudah di mulai," teman nya mengajak nya masuk ke dalam lagi.


Hari semakin gelap, akhirnya teman-teman nya bubar, Bela juga pulang. Namun dia bingung karena Yana sudah mabuk.


Dia keluar sambil membopong Yana, namun dia kaget melihat suami nya masih di tempat yang sama dari sore tadi.


"Jangan bilang kakak menunggu dari tadi di sini?" tanya Bela.


Dimas memberikan Yana kepada orang lain, dia menarik istri nya masuk ke dalam mobil.


"Pelan-pelan kak," ucap Bela.


Dimas tidak mengatakan apapun dia membawa mobil dan pulang.


Setelah sampai di rumah Vira menyambut mereka, namun Dimas sangat murung dia masuk begitu saja ke dalam.


"Kenapa dengan om Dimas mbak?"


"Seperti nya marah sama mbak, karena lama pulang."


"Hadehhhh, lagian mbak sudah tau om Dimas tukang ngambek, malah di bikin ngambek."


Bela jadi kebingungan dia mengikuti Dimas ke kamar.


Waktunya makan malam, Bela menyiapkan makanan untuk suami nya dan Vira, karena dia masih sangat kenyang.


"Ayo makan dulu kak," ucap Bela kepada Dimas yang masih asik nonton."


"Aku tidak lapar."


namun Bela memaksa nya, tidak ada yang bisa menolak masakan Bela, akhirnya Dimas mau makan walaupun masih murung.


Sebenarnya Bela sangat gemas dengan suami nya yang ngambekan, namun dia juga jengkel karena sangat sulit membujuk nya.


Selesai makan, Dimas dan Vira langsung pergi. Dimas menemani Vira tidur di kamar nya menghindari istri nya.

__ADS_1


__ADS_2