
"Aku tau kamu menyukai Bela sekarang tapi sebaik nya kamu mencari perempuan lain saja yah karena itu akan membuat hubungan kamu dengan Pak Dimas hancur, begitu juga hubungan kamu kepada Bibik dan hubungan Bibik dengan pak Dimas."
"Ya sudah kalau begitu kamu kembali kerja gih, jam istirahat sudah mau habis."
"Oh iya jangan sampai pak Dimas tau kamu dekat dengan Bela."
Fahri hanya mengangguk tidak mengatakan apapun dan keluar dari ruangan Serli.
Hari semakin gelap Bela menunggu Dimas di ruang tamu seperti biasa.
"Kenapa Pak Dimas belum pulang yah?" dia bertanya-tanya karena di rumah sebesar itu sendiri membuat nya ketakutan.
Walaupun ada penjaga di luar atau security dia tetap saja takut.
Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu Dimas.
Karena bosan menunggu di ruang tamu dia berjalan ke dapur.
"Seperti nya pak Dimas lembur hari ini, dia pasti lapar, sebaik nya aku memasak saja."
Bela memasak menunggu Dimas.
Mobil Dimas berhenti di depan rumah.
Dimas masuk namun tidak melihat Bela.
Dimas melihat Bela yang sibuk di dapur. Bela menyadari Dimas ada di belakang nya.
"Bapak sudah pulang? apa bapak mau mau atau mandi dulu?" tanya Bela.
Namun Bela mencium aroma alkohol yang sangat kuat dari badan Dimas.
"Saya lapar."
Dimas duduk di meja makan menunggu masakan Bela.
Bela Sedikit aneh dengan raut wajah bos nya.
"Pak Dimas seperti nya ada masalah, tidak biasanya wajah nya prustasi seperti itu," gumam Bela.
Bela tidak berani bertanya dia menyiapkan makanan untuk Dimas dan setelah itu menyiapkan air mandi untuk Dimas.
Tidak beberapa lama akhirnya Dimas selesai mandi dia melihat Bela yang duduk di sofa.
"Pak berhubung Bibik sedang pulang kampung sebaiknya saya pindah ke kamar bibik agar Bapak bisa tidur dengan nyaman."
"Tidak bisa! Kamu harus tidur di sini."
"Tapi pak."
"Tidak ada tapi-tapian, kamu sengaja menghindari saya dan mau pindah ke kamar bibik karena tau apa yang akan saya lakukan kan?" tanya Dimas mendekati Bela.
__ADS_1
Bela tiba-tiba gugup karena sangat dekat dengan Dimas.
"Ma-maksud Bapak?" tanya Bela.
"Saya sudah beberapa hari ini tidak tidur dengan wanita mana pun, sekarang saya sangat mudah emosi karena tidak bisa mengeluarkan nya, saya sekarang membutuhkan kamu, kamu bisa membantu saya kan?"
Bela kaget bingung harus menjawab apa.
"Kamu tidak bisa menolak nya karena itu sudah menjadi tugas kamu melayani saya di malam hari mau pun di siang hari."
"Saya bisa saja melakukan nya secara paksa tampa ijin dari kamu, hanya saja saya tidak mau tidur dengan wanita yang tidak setuju berhubungan dengan saya."
Bela sangat takut dia hanya bisa diam.
"Kenapa kamu diam saja? apa kamu tidak mengerti dengan apa yang saya maksud?"
"Saya belum siap Pak, saya sangat takut."
"Siap atau tidak itu bukan urusan saya berbaring lah di tempat tidur karena saya sudah tidak tahan."
Bela tetap duduk namun Dimas menarik tangan Bela dan langsung mendorong nya ke tempat tidur.
"Pak saya mohon jangan lakukan ini kepada saya pak, saya mohon Pak," ucap Bela memohon.
"Kamu adalah wanita simpanan saya, badan dan nyawa kamu sudah menjadi milik saya, jangan mencoba melawan nya karena percuma saja."
Dimas membuka baju nya. Melihat badan Dimas membuat Bela sangat takut.
Dimas menatap Bela dengan tatapan penuh nafsu.
"Jangan pak, jangan."
Dimas menyentuh perut Bela.
"Ternyata badan kamu bagus juga," ucap Dimas.
Bela mengambil selimut dan menutup tubuh nya.
"Lepas kan selimut itu kalau kamu tidak ingin saya melakukan hal yang kasar."
"Percaya lah pak kalau berhubungan dengan saya akan membuat Bapak menyesal seumur hidup," ucap Bela.
"Justru saya akan menyesal karena tidak mencoba wanita semahal kamu," ucap Dimas dengan sekali tarik sekarang selimut sudah terhempas ke lantai.
Dimas tidak bisa menahan lagi, semakin Bela menolak Dimas semakin brutal.
Dimas mencium bibir Bela. Bela sama sekali tidak membalas nya melakukan perlawanan yang membuat Dimas harus bersifat kasar agar Bela membuka bibir nya.
Dimas berhasil membuat Bela membuka bibir nya.
Bela tiba-tiba menggigit bibir Dimas dan mendorong nya.
__ADS_1
Dimas sangat kesakitan dan ternyata bibir nya berdarah.
Bela menutupi tubuh nya dengan bantal meringkuk di sudut tempat tidur sambil menangis tersedu-sedu karena ketakutan.
"Ibu.. Ayah.. tolong aku." Bela tidak berhenti meminta tolong.
Dimas menghela nafas panjang dia mau marah namun tidak tega melihat Bela menangis.
Dimas masuk ke kamar mandi, cukup lama di kamar mandi dan dia pun keluar, dia melihat Bela yang masih menangis di sudut tempat tidur.
"Mau sampai kapan kamu menangis di sana?" tanya Dimas.
"Pakai baju mu kalau kamu tidak ingin saya melakukan hal itu lagi," ucap Dimas.
Bela melihat baju nya yang sudah robek, bahkan celananya sudah rusak.
Dimas mengambil kan baju nya kepada Bela dan memberi nya waktu untuk memakai baju itu.
Dimas melihat Bela seperti nya tidur sambil duduk.
setelah di periksa benar saja Bela sudah tidur.
Dimas mau memindahkan nya ke tempat tidur namun dia tidak memiliki keberanian untuk mengangkat badan Bela.
Akhirnya dia membimbing Bela tidur di tempat tidur nya dan dia tidur juga di tempat tidur yang sama.
Baru saja mau tidur Bela bergeliat dan sekarang berada di dekat Dimas.
"Jangan.. Aku takut..." kata-kata yang keluar dari mulut Bela walaupun mata nya tertutup dan isakan nya masih sesekali terdengar.
Melihat mata Bela bengkak membuat Dimas merasa kasian dan juga merasa bersalah.
Dimas melihat Bela kurang nyaman karena tidak memakai bantal dia membiarkan lengan nya menjadi bantal Bela.
"Ini sungguh gila, tidak pernah aku merasakan sangat nafsu kepada wanita selain Vivi namun kali ini aku merasakan ada hal yang aneh terhadap perasaan ku."
Dimas malam ini sangat mudah tidur Tampa bantuan membaca buku atau mendengarkan kan audio dari ponsel nya.
Keesokan paginya Dimas bangun karena merasa seseorang yang menyodorkan diri ke pelukan nya agar tidak kedinginan.
Dimas bangun dan kaget kenapa suhu badan Bela Sedikit panas tidak normal seperti tadi malam.
"Dingin...." ucap Bela.
"Bela! Bangun ini sudah pagi."
Dimas memegang kepala Bela yang ternyata sudah demam.
Dimas panik dia langsung mencari alat untuk memeriksa suhu badan Bela dan juga mencari alat untuk di tempelkan ke dahi Bela agar panas nya kurang.
Dimas membiarkan Bela untuk tidur tidak membangun kan nya.
__ADS_1
"Apa dia demam karena tadi malam? Seperti nya dia benar-benar takut," ucap Dimas.