Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 80


__ADS_3

Bela menggeleng kan kepala nya. "Sudah tidak bisa lagi dek, mbak melakukan kesalahan membuat om Dimas marah, maafin mbak."


Vira menunduk kan kepala nya dia memasang wajah sedih.


"Mbak janji tidak akan meninggalkan kamu, mbak janji akan selalu ada untuk kamu."


"Mbak juga jangan sedih dong, aku jadi ikut sedih kalau seperti ini."


Bela tersenyum dia memeluk Vira dia harus tersenyum demi Adik nya itu.


Beberapa hari kemudian Bela memutuskan untuk melanjutkan kuliah nya dan Vira sekolah, mereka meninggalkan rumah mewah dan memilih tinggal di apartemen yang sederhana yang penting nyaman untuk mereka berdua.


Bela sudah selesai mengurus semua pendaftaran kuliah nya dan juga pendaftaran sekolah nya Vira.


"Mbak.. Lihat deh aku bawa apa," ucap Vira di saat dia kembali bersama supir.


"Kamu bawa apa itu?"


"Aku membeli banyak mainan dan juga aku membeli dimsum untuk Mbak," ucap Vira.


Bela tersenyum. "Terimakasih dek, kamu pasti senang kan, oh iya pergi mandi gih mbak mau beres-beres dulu," Vira mengangguk.


Bela duduk sambil membuka dimsum itu, tiba-tiba dia teringat kepada Dimas.


"Huff, aku sudah berusaha untuk melupakan dia, namun kenapa sangat banyak hal yang mengingat kepada nya," ucap Bela.


Akhirnya Bela membuang dimsum itu ke tong sampah dan pergi ke kamar nya.


"Kenapa aku harus memikirkan dia? Kenapa aku harus memikirkan pria yang sama sekali tidak memikirkan aku? sudah tidak ada gunanya aku memikirkan tentang dia!"


"Hilang lah dari pikiran ku! Aku tidak mau memikirkan dia lagi."


Bela membaringkan tubuh nya di kasur.


"Tapi sebenarnya aku lah yang membuat kesalahan dan orang tua ku yang sudah bersalah, kenapa aku harus mengumpati seperti ini?"


Bela menghela nafas panjang.


"Kalau boleh jujur sebenernya aku sangat merindukan dia, aku benar-benar merindukan nya," ucap Bela.


Keesokan harinya hari pertama Bela kuliah, dia menginjakkan kakinya di universitas terbaik itu, universitas impian nya.


"Semoga ini adalah awal yang baik,"


Bela sangat bahagia karena dia bertemu dengan orang-orang baru dia juga memiliki teman yang sangat-sangat ramah.


Hari pertama usai dia kembali menjemput Vira ke sekolah Vira.


"Mbak sangat cantik hari ini, apa kuliah nya sangat menyenangkan?" tanya Vira.

__ADS_1


"Humm sangat menyenangkan sekali itu sebab nya kamu harus segera tamat TK dan setelah itu kamu lanjut SD dan seterusnya sehingga bisa kuliah bertemu orang-orang besar."


Vira mengangguk sambil tersenyum.


"Apa kamu lapar? Sebaiknya kita cari makan dulu,"


"Iyah mbak, aku sangat lapar sekali."


Bela sudah sangat jarang masak karena dia juga mulai sibuk belajar tentang perusahaan dunia perbisnisan sehingga dia tidak mood untuk masak.


Beberapa hari berlalu Bela sudah bisa menyesuaikan diri di kampus nya.


Sementara Vira seperti biasa dia akan di jemput supir kalau Bela tidak datang menjemput nya.


"Vira kenapa kamu tidak pulang?" tanya pria yang sengaja mendekati Vira yang entah datang dari sebelah mana.


"Maaf om, aku tidak bisa berbicara dengan orang lain, aku tidak mau berbicara dengan Om." ucap Vira.


Pria itu jongkok di depan Vira.


"Kamu yakin tidak mau berbicara dengan Om?" tanya Dimas sambil membuka kacamata dan juga masker nya.


Vira melihat Dimas berada di depan nya, dia langsung memeluk nya.


"Om Dimas! Om Dimas dari mana saja? kenapa Om sudah lama tidak pernah datang?" tanya Vira.


"Lepaskan Vira!" ucap Bela yang baru saja datang menarik Vira dari Dimas.


Dimas sangat kaget.


"Mbak aku sangat merindukan om Dimas," ucap Vira merengek.


"Ayo kita pulang Vira, kita harus pergi dari sini!"


"Gak mau, aku mau sama Om Dimas."


"Vira jangan keras kepala! Sekarang kamu masuk ke dalam mobil!"


"Gak mau!"


"Masuk!" bentak Bela.


Vira sangat takut dia langsung pergi masuk ke dalam mobil.


"Bela sebaik kamu jangan terlalu keras kepada Vira, dia masih anak kecil!"


"Aku tau yang terbaik untuk Vira karena dia adalah adikku, kalau bukan karena Bapak aku tidak akan melakukan hal ini kepada dia, jadi berhenti datang menemui Vira!"


"Bela," ucap Dimas namun Bela langsung menghentikan nya.

__ADS_1


"Berhenti mengganggu kehidupan kami, aku rasa memasukkan kedua orang tua ku ke penjara sudah cukup dan menyiksa ku selama berbulan-bulan di rumah bapak!"


"Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun atau hutang, aku ingin Bapak berhenti menemui dan mencari kami!"


Bela langsung pergi. Dimas melihat Bela pergi.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di apartemen Bela.


"Aku benci sama mbak, aku benci sama mbak! Aku sangat membenci mbak!" ucap Vira marah sambil nangis setelah sampai di apartemen.


Bela melihat Vira berlari masuk ke dalam kamar nya.


Bela menghela nafas panjang.


"Berani-beraninya dia datang menemui Vira diam-diam, apa dia bermaksud mau mencuci Vira? dia juga akan membalas dendam kepada kami berdua?" ucap Bela.


Di malam hari nya Bela mengetuk pintu kamar Vira.


"Vira... Vira keluar makan malam dek, mbak sudah masak."


"Aku tidak mau! aku tidak mau makan!"


"Vira jangan buat mbak marah, ayo makan."


"Aku gak perduli, aku mau sama Om Dimas, aku rindu Om Dimas, kenapa mbak harus marah?" tanya Vira.


"Kamu anak kecil tidak mengerti apa-apa dek, mbak mohon buka pintu nya," ucap Bela.


"Aku gak mau makan! pokoknya aku gak mau makan karena aku tidak mau melihat mbak, mbak sangat jahat."


"Mbak perduli kepada kamu dek. Hanya kamu yang mbak punya sekarang."


"Mbak yang marah kepada om Dimas, kalian yang berantem kenapa mbak harus melarang aku sama Om Dimas?"


Bela menghela nafas panjang.


"Baiklah kalau begitu mbak minta maaf, mbak minta maaf karena sudah marah, sekarang keluar yah."


"Aku gak mau, pokoknya aku gak mau makan kalau tidak bertemu dengan om Dimas.


Bela menghela nafas panjang, dia sudah lelah dan juga pusing akhirnya dia membiarkan Vira begitu saja dan masuk ke dalam kamar nya.


Keesokan harinya Bela kuliah seperti biasa begitu juga dengan Vira, namun Vira hari ini sangat mandiri dia mengambil baju sendiri, mandi dan membuat minum sendiri setelah itu dia memilih di antar oleh supir dari pada berangkat dengan Bela yang sangat nyaman naik bus.


Bela hanya bisa menghela nafas melihat adiknya mengabaikan dia.


"Maafin mbak, Vira. Mbak melakukan ini agar kedepannya hidup kita baik-baik saja, mbak juga mengalami hal yang lebih sulit dari pada kamu." ucap Bela.


Dia berangkat sendirian ke kampus nya.

__ADS_1


__ADS_2