Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 226


__ADS_3

Keesokan harinya...


Bela di antar oleh suami nya ke kampus seperti biasa, namun sebelum masuk ke dalam kelas dia melihat Kevin duduk bersama Fani berdua di luar kelas dan melihat ke arah dia.


Dia hanya tersenyum sebentar dan langsung masuk.


"Apa dia masih marah kepadaku?" batin Fani.


"Sudah lah, lebih baik kamu minta maaf saja kepada nya, Lagian apa susah nya?" ucap Kevin.


"Kamu pikir minta maaf mudah? Aku sudah menyakiti dia, bagaimana kalau dia tidak mau memaafkan aku?" tanya Fani.


"Gak mungkin lah dia gak mau maafin kamu, sebaiknya kamu berbicara baik-baik deh."


Fani menghela nafas panjang, dia menatap Kevin. "ada apa?* tanya nya.


"Kamu mau bantuin aku kan?" tanya Fani. "Aku tidak mau terlibat," ucap kevin langsung pergi.


Fani menghela nafas panjang. "Aku harus bagaimana ini? Ini semua adalah salah ku."


Seharian dia tidak berani untuk berbicara dengan Bela, dia hanya melihat Bela dari kejauhan.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai kuliah, mereka pulang ke rumah masing-masing.


Namum setelah sampai di rumah Fani kaget karena ada kekasih nya menunggu nya di depan rumah.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Aku tidak mau melihat kamu lagi! Pergi dari sini!" ucap Fani.


"Sayang, dengar aku dulu. Aku mau menjelaskan nya kepada kamu."


"Aku gak mau! Aku gak mau dengar apapun dari kamu, pergi dari sini!"


"Sayang... aku mohon."


"Kamu sudah membohongi aku dengan jangka waktu yang lama, kamu membohongi aku, kalau aku tau dari awal mungkin aku tidak mau berhubungan dengan kamu."


"Dan aku sangat menyesal karena percaya dan memberikan mahkota ku kepada Pria brengsek seperti kamu!"


"Fani..." tiba-tiba pria itu berlutut di depan Fani membuat Fani kaget dan bingung.


"Aku lebih nyaman bersama kamu Fani, aku tidak ingin Kamu ninggalin aku hanya tau aku sudah memiliki istri dan juga anak." j ucap kekasih nya.


"Aku tidak perduli, sekarang aku sudah melupakan itu, dan aku ingin kamu pergi dari kehidupan ku, aku tidak akan meminta pertanggung jawaban kamu."


"Fani... aku mencintai kamu, aku tidak mencintai istri ku lagi, aku bertahan hanya karena anak ku."

__ADS_1


"Aku tidak perduli!" ucap Fani tetap tidak mau.


Tiba-tiba kekasih nya menarik tangan Fani masuk ke dalam rumah itu.


"Ngapain? Lebih baik kamu pergi dari sini, aku tidak mau melihat kamu lagi!" ucap Fani sangat marah berontak ketika di tarik masuk.


"Walaupun Fani lebih muda dan memiliki tenaga kuat, hanya saja tenaga Pria itu jauh lebih kuat.


"Lepas kan aku! Lepaskan aku!"


Pria itu mendorong ke arah dinding. "Kasih Ku waktu untuk menyelesaikan masalah ini dengan istri ku, setelah itu aku akan menikahi kamu."


Namun tetap saja Fani tidak akan mau, dia sudah terlanjur kecewa.


"Aku tidak mau! Aku bisa mencari pria yang lebih dari pada kamu!"


"Kalau begitu, aku akan membuat kamu mau," ucap nya dan mendorong ke sofa.


"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Fani. Pria itu memaksa membuka semua baju Fani. "Aku akan membuat kamu hamil anak ku!" ucap pria itu.


Fani berontak, dia meminta tolong namun tidak mungkin ada yang mendengar nya.


Pria itu berhasil melakukan aksi nya dan menyembur kan cairan putih ke milik Fani.


Fani sudah terkulai lemas. Pria itu memeluk nya sambil mencium leher Fani.


"Aku hanya menemukan kenyamanan ketika bersama kamu, hanya kamu yang mengerti aku, aku butuh wanita yang mengerti dan selalu ada untuk ku," ucap nya.


Namun Fani sudah tidak merespon dia hanya bisa menangis. Semua nya sudah terjadi tidak ada pilihan lagi untuk nya.


Pria itu benar-benar tidak mau pergi, dia masih tetap memohon maaf dan juga membujuk kekasihnya tidak meninggalkan nya.


Fani mengingat masa-masa indah mereka berdua, masa-masa romantis sehingga Fani menjadi wanita bodoh.


"Kak," panggil Bela. Dimas yang sedang bekerja di kamar melihat ke arah istrinya. "Ada apa sayang?" tanya Dimas sambil menutup laptopnya.


Dia membawa istri nya ke pangkuan nya.


"Aku mau ke rumah utama boleh kan besok?" tanya Bela.


"Ada urusan apa?" tanya Dimas. "Bibik, ngundang untuk acara syukuran yang di adakan di rumah."


"Kalau kamu pergi, aku juga ingin pergi," ucap Dimas.


"Ya kalau begitu kakak boleh ikut, hanya saja orang yang ada di sana pasti tidak setuju," ucap Bela.

__ADS_1


"Aku tidak perduli, aku hanya ingin mengikuti istri ku kemana dia pergi."


Bela menghela nafas panjang. "Ya sudah kalau begitu, kakak boleh ikut."


"Bagaimana dengan Vira?"


"Dia ikut juga."


Keesokan harinya pagi-pagi Bela bangun lebih awal karena harus siap-siap.


Dia melihat suami dan adiknya masih tidur berpelukan di samping nya.


Bela masuk ke kamar mandi terlebih dahulu, setelah selesai dia langsung pergi keluar masak sarapan.


"Huff kenapa sih setiap pagi seperti ini bawaan nya mual mulu, kalau seperti ini aku tidak akan bisa masak."


Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga. Walaupun hanya bubur tapi sudah cukup untuk mereka pagi ini.


"Kak.. Ayo bangun ini sudah jam delapan," ucap Bela membangun kan suami nya. Dimas bergeliat dia menoleh ke arah istrinya.


"Aku sangat ngantuk." "Kata nya mau ikut ke rumah utama."


Dimas menarik istri nya untuk di peluk. "Ayo bangun kak." Dimas akhirnya berusaha duduk dia menatap wajah istri nya sambil tersenyum.


"Baiklah," ucap nya. Bela segera membangun kan Adik nya.


Sebelum siap-siap mereka sarapan terlebih dahulu. Setelah selesai sarapan mereka akan siap-siap.


Vira sudah besar dia bisa memiliki apa saja pakaian yang cocok untuk nya. Berbeda dengan Dimas yang sangat ingin di manjakan oleh istrinya.


Bela memilih pakaian yang sama dengan pakaian nya untuk suami nya dan memasang kan nya.


"Senang rasanya memiliki istri yang sangat perhatian, baik, rajin dan cantik seperti kamu."


Humm istri mana yang tidak akan senang jika di puji setiap hari.


Bela hanya tersenyum saja. Tidak beberapa lama akhirnya selesai.


"Mau aku bantuin?" tanya Dimas melihat istrinya sedang make up.


"Humm emangnya kakak bisa?" tanya Bela. Dimas menggeleng kan kepala nya. Bela menghela nafas panjang.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka berdua selesai. Namun sebelum keluar Bela memeriksa handphone nya dia melihat beberapa panggilan dari Fani.


"Loh kenapa dia menelpon ku malam-malam? Dan dia tidak meninggal pesan." ucap Bela kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2