Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 241


__ADS_3

"Bagaimana tidak kak? Aku harus mengingat kebaikan Yana selama ini," ucap Bela.


"Terserah kamu saja lah," ucap Dimas dengan kesal langsung pergi begitu saja.


"Kak Dimas..." ucap Bela.


Keesokan harinya... Yana semakin hari semakin kelihatan lagi hamil, ngidam nya benar-benar sangat parah dan sangat sulit untuk mengikuti nya. Di tambah lagi badan nya tidak pernah Fit.


"Kak, seperti nya Yana butuh banget ke rumah sakit, aku mohon anterin dia yah?" tanya Bela. Dimas langsung menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak mau, kamu tau sendiri kan kalau aku lagi bekerja!" ucap Dimas.


"Tapi aku tidak mungkin nganterin dia kak," ucap Bela.


"Aku mohon sekali ini saja kak, lagian sebelumnya kakak juga kan yang bertanggung jawab di surat pemeriksaan nya?" tanya Bela.


"Itu terpaksa, apa kamu rela aku menjadi penanggung jawab nya?" tanya Dimas.


"Tidak masalah kak, asalkan Yana baik-baik saja, kali ini dia sangat membutuhkan bantuan kita kak."


Dimas berdiri dia menatap istrinya.


"Aku harap kamu tidak menyesal nantinya," ucap Dimas dan segera keluar dari ruangan kerja.


"Kak, anterin Yana yah," ucap Bela lagi. Namun tetap saja Dimas tidak mau dia memilih pergi ke kamar nya.


"Sudah gak apa-apa kok Bela, aku bisa pergi sendiri, aku tidak mau merepotkan kamu dan suami Kamu," ucap Yana.


Bela menghela nafas panjang. "Ya sudah deh kalau begitu, aku saja yang nganter kamu, wajah kamu sangat pucat aku tidak yakin," ucap Bela.


Yana mengangguk, akhirnya mereka pergi.


Sementara ditempat lain, Kayla baru saja pulang. Badan nya sangat lelah sekali bekerja seharian.


"Arrghh!!! badan ku benar-benar sangat lelah sekali," ucap nya.


"Loh kok kamu sudah di rumah?" tanya Kayla melihat suami nya keluar dari kamar.


Fahri tersenyum. "Aku pulang lebih cepat hari ini, apa kamu sangat lelah?" tanya Fahri. Kayla mengangguk. Fahri langsung mencium pipi istri nya dan setelah itu langsung Memijit-mijit punggung istrinya.


"Sangat enak bukan?" tanya Fahri. "Seharusnya aku yang mijit punggung kamu," ucap Kayla.


"Gak apa-apa sesekali," ucap Fahri.

__ADS_1


Kayla tersenyum. "Ya sudah kalau begitu gantian saja," ucap Kayla..


Bukan hanya dia saja yang lelah, melainkan suami nya pasti jauh lebih lelah dari nya.


"Oh iya, aku dengar Yana hamil sayang, apa itu benar?" tanya Fahri.


"Kok kamu tau?" tanya Kayla. "Tadi Dimas yang ngasih tau," ucap Fahri.


Kayla mengangguk. "Bela sangat perhatian dan perduli sekali kepada Yana, aku juga tidak tau apa yang membuat Bela sangat mementingkan wanita itu," ucap Kayla.


"Kalau aku jadi Bela, aku tidak mau menampung orang yang tidak beres seperti nya, dia hamil di luar nikah dan malah menyusahkan orang lain."


"Sekarang dia melibatkan Keponakan ku, apa ini baik? Bela sangat aneh," ucap Kayla sangat kesal sekali.


"Kamu jangan marah-marah gitu dong, kenapa tidak kamu bicarakan saja baik-baik kepada nya?" tanya Fahri.


"Aku sudah mengatakan itu kepada nya, namun tetap saja Bela bilang, kasian, dia tidak memiliki keluarga!" ucap Kayla..


"Sudah-sudah, kamu tidak perlu marah-marah. Mungkin itu adalah keputusan dia," ucap Fahri.


"Kalau hanya dia saja yang repot tidak apa-apa, justru dia juga merepotkan Dimas, bagaimana kalau orang lain beranggapan yang aneh-aneh!" tanya Kayla.


Fahri tersenyum. "Mereka bisa mengurus nya, kita tidak perlu ikut campur, sebaiknya kita mencari makanan keluar," ajak Fahri.


"Aku tidak lapar, aku ingin tidur sekarang," ucap kayla.


Keesokan harinya..


"Ada apa lagi sih dengan pak Dimas? Kenapa dia terlihat sangat kesal?" tanya Serli dalam hati.


"Selamat pagi pak, silahkan di minum kopi nya," ucap Serli memberikan kopi di depan Bos nya.


"Saya tidak meminta kopi!"


"Tapi kopi bisa membuat bapak tenang," ucap Serli.


Dimas langsung menyeruput kopi itu, namun ternyata sangat panas sekali.


"Hati-hati pak, itu kopi masih sangat panas. Kalau lagi ada masalah jangan di pendam sendiri," ucap Serli.


"Bagaimana saya tidak kesal kalau seperti ini!" ucap Dimas.


"Ada apa pak? Coba cerita dulu," ucap Serli.

__ADS_1


Dimas menceritakan semua nya. Serli juga baru tau dan cukup kaget karena tidak terlalu kenal dengan Yana.


Dia tidak bisa memberikan saran selain mendengar kan Dimas sampai kekesalan nya habis.


Sepulang bekerja.. "Kok Roi gak datang sih jemput aku?" batin Serli sambil memeriksa handphone nya.


"Pesan dari nya juga tidak ada,," ucap Serli lagi.


"Apa dia mengabaikan ku? Apa dia marah? Tidak biasanya dia seperti ini," ucap Serli.


Dia menelpon Roi. "Halo?"


"Kamu di mana? Kenapa kamu tidak datang menjemput ku?" tanya Serli.


"Aku sedang di apartemen ku, aku tidak tau kamu mau di jemput atau tidak, kalau aku datang aku takut kamu tidak mau, dan marah kepada ku," ucap Roi.


"Jadi kamu tega membiarkan aku pulang jalan kaki sendiri?" tanya Serli.


"Bukan seperti itu, tapi aku takut kalau kamu nanti gak mau ikut dengan ku seperti biasanya dan memilih naik taksi."


Serli terdiam, tidak bisa mengatakan apapun akhirnya dia mematikan telpon.


"Ya sudah kalau dia gak jemput aku, berarti dia sama sekali tidak sabar menghadapi aku!" ucap Serli.


"Kok aku jadi egois seperti ini sih? Setelah aku yang meminta nya untuk menjaga jarak, sekarang aku yang seperti orang bodoh," batin Serli.


"Ah sudahlah, tidak perduli lagi aku, Lagian apa untungnya sama kak," ucap Serli.


Baru saja mau memesan taksi tiba-tiba mobil berhenti di depan nya.


"Loh ini kan mobil ku, siapa yang bawa?" batin Serli.


Saat kaca mobil turun dia kaget melihat Kekasih nya di dalam. Dia langsung masuk. "Kamu kenapa bisa sampai di sini secepat ini bukan nya kamu tadi kamu di apartemen kamu?" tanya Serli.


"Aku dari tadi di depan perusahaan setelah mengambil mobil kamu di bengkel."


"Kamu membohongi aku?" tanya Serli dengan kesal. "Bukan seperti itu, tapi aku hanya takut saja kalau kamu mengusir ku pulang," ucap Roi.


Serli terdiam. "Apa aku sejahat itu sehingga dia sangat takut kepada ku?" batin Serli.


"Tapi dia benar-benar sudah membohongi ku," ucap Serli dalam hati.


"Aku minta maaf yah , aku tidak akan melakukan nya lagi," ucap ROI.

__ADS_1


"Gak apa-apa, lupakan saja, aku tidak mau membahas ini lagi," ucap Serli.


Tidak ada percakapan di dalam mobil. Roi fokus membawa mobil sehingga sampai di rumah dengan selamat.


__ADS_2