Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 143


__ADS_3

"Aku mohon Mbak."


Bela tersenyum. "Kamu belum paham tentang itu, kamu lanjut main saja, setelah selesai main tidur yah, mbak ke kamar dulu."


Dimas sampai di rumah nya dia duduk di sofa kamar nya.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja Bela, kamu pikir aku akan berhenti membujuk kamu menikah dengan ku? Tidak akan karena menikahi mu adalah tujuan ku."


Sementara Fahri di ruang tamu melamun sambil memegang Handphone nya.


"Fahri.. apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa belum istirahat." tanya Bibik.


"Eh Bibik.. Justru Bibik yang harus istirahat."


"Kamu pasti sangat lelah, Bibik hanya di rumah saja."


"Kamu rindu sama Non Kayla yah?" tanya Bibik.


"Ih Bibik ngomong apa sih? Gak mungkin lah, aku sedang memikirkan pekerjaan saja," ucap Fahri sambil tersenyum malu.


"Ya udah kalau begitu Bibik pergi tidur dulu," Bibik pun pergi ke dalam kamar nya meninggal kan Fahri sendirian.


Fahri membuka handphone nya dan ternyata pesan nya sudah di balas oleh Kayla.


"Aku lagi luar, aku akan menghubungi mu ketika sudah di rumah nanti," ucap Kayla.


Fahri membalas nya sambil tersenyum.


Keesokan harinya di hari Minggu Dimas mengetuk pintu kamar Fahri cukup kuat.


"Arhh... Siapa yang mengetuk pintu pagi-pagi?" tanya Fahri karena dia ingin bangun lebih siang hari ini.


Fahri membuka pintu dia melihat Dimas. "Pak Dimas, ada apa pak mengetuk pintu kamar saya pagi-pagi?" tanya Fahri.


Dimas melihat Fahri baru saja bangun. Fahri tidak menunggu jawaban dari Dimas. Melihat pakaian Dimas dia sudah tau kalau Dimas mengajak nya olahraga pagi seperti biasa.


"Seperti nya hari ini saya tidak bisa pak, saya sangat lelah."


"Bagaimana bisa kamu mengabaikan olahraga di pagi hari? Kalau kamu tidak memiliki badan yang sehat dan kuat kamu tidak bisa menjaga Tante saya."


Fahri tidak bisa membantah akhirnya dia menginyakan dan langsung pergi siap-siap.


"Hari ini kita lari pagi," ucap Dimas.


"Huff, aku yakin pak Dimas memilih lari pagi pasti ke rumah Bela, sekarang rumah nya sudah sangat dekat sehingga bisa melalui jalan pintas," ucap Fahri dalam hati.


Namun ternyata tebakan Fahri salah. Mereka berlari di sekitar rumah saja. Tidak beberapa lama akhirnya selesai mereka duduk sambil menikmati minuman dingin.


"Hari ini kamu ikut saya ke rumah Bela, tapi sebelum ke sana kita harus belanja terlebih dahulu."


"Belanja? Oke baiklah pak."

__ADS_1


Fahri tidak keberatan kalau sudah tentang Bela.


Jam sembilan pagi. Fahri dan Dimas mengetuk pintu. Bela sedang duduk di ruang TV mendengar pintu ada yang mengetuk dia langsung membuka nya.


"Kak Dimas."


Dimas tersenyum. Bela melihat Dimas membeli banyak makanan dan. bahan-bahan lain nya.


"Terimakasih sudah membantu saya, kamu bisa pulang atau bisa lanjut tidur," ucap Dimas kepada Fahri.


"Saya sudah tidak ngantuk pak, saya akan tinggal di sini beberapa jam."


"Tidak perlu, kamu bisa pergi," ucap Dimas langsung mengusir Fahri.


"Baiklah pak kalau begitu."


"Permisi Bela."


Bela hanya mengangguk tersenyum. Sambil melambaikan tangan nya.


Tiba-tiba Dimas langsung menutup pintu.


"Apa yang sudah aku lakukan? pak Dimas benar-benar sangat posesif sekali. Walaupun sebelum nya aku pernah menyukai Bela tapi sekarang sudah berbeda aku hanya ingin berteman dengan nya."


Fahri sangat kesal. Karena tidak tau mau kemana lagi, sebenarnya banyak tempat yang harus dia kunjungi bersama teman-teman nya tapi dia memilih untuk istirahat saja di rumah.


"Berhenti tersenyum kepada Fahri!" ucap Dimas dengan tatapan tajam. Bela menghela nafas panjang.


"Kemarin Vira selalu mengeluh karena Bibik memasak menu yang sama setiap hari nya. Dia juga ingin jajan, dia juga makan buah. Itu sebabnya aku membeli ini semua."


"Oh iya selain itu, aku juga membeli roti, susu, vitamin dan begitu banyak buah untuk kamu agar kembali sehat."


Bela menghela nafas panjang. "Kalau begitu aku akan membayar semua ini."


"Tidak perlu, kamu simpan saja uang mu."


"Tapi ini semua barang-barang dari supermarket, dan tentu nya pasti mahal-mahal."


"Saya tidak butuh uang mu, saya hanya butuh kamu. Berikan satu ciuman sudah membayar lunas semua ini."


Bela tersipu malu. Dimas tersenyum melihat wajah Bela tersenyum.


"Dimana Vira?" tanya Dimas.


"Dia masih tidur kak, tadi malam dia bergadang."


"Oohhhh ya sudah kalau begitu, aku akan mengupas buah untuk kamu."


"Tidak perlu kak, aku bisa melakukan nya sendiri."


Namun Dimas sangat ingin melakukan untuk kekasih nya itu.

__ADS_1


Tidak beberapa lama buah sudah datang, Bela menikmati nya. Tidak beberapa lama Vira juga bangun.


"Oh iya ini untuk kamu."


Dimas memberikan satu lembar kertas kepada Bela.


"Untuk apa kakak menyewa satu Meja VIP restoran ternama?" tanya Bela.


"Ini dinner untuk kita bertiga."


Bela menatap nya bingung.


"Kamu tidak perlu khawatir, karena restoran ini cukup tertutup, kamu tidak perlu takut banyak orang melihat mu di sana."


"Wahh asikk, aku juga ikut kan om?" tanya Bela.


"Tentu dong, kamu bisa pakai baju gaun paling cantik malam ini."


Vira terlihat sangat senang sekali.


Bela melihat harga restoran nya menghela nafas panjang. Namun itu adalah salah satu keinginan nya untuk dinner di restoran mewah bersama adik nya.


Singkat cerita di malam hari nya...


"Kamu sebenarnya mau kemana sih? Tumben banget kamu minta dandan seperti? Apa kamu mau keluar bersama pacar mu?" tanya Yana.


Bela hanya tersenyum. "Jangan bilang kamu mau keluar bersama pak Dimas."


Bela meminta Yana mengecilkan suara nya karena mereka ada di rumah Yana sekarang.


"Sssstt!! Jangan kuat-kuat, aku takut orang tua mu bisa mendengar nya."


"Hufff, apa itu artinya kamu akan pergi dengan pak Dimas?"


Bela mengangguk. "Aku minta tolong sama kamu karena aku tidak bisa dandan, aku juga tidak memiliki baju yang tepat."


"Oke baiklah, aku akan mendandani kamu sampai benar-benar cantik."


Selesai dari rumah Yana, akhirnya Bela kembali ke rumah nya.


"Huff ini masih sangat sore tapi aku sudah sangat bersemangat mau berangkat."


Sebelum nya Bela belum pernah di ajak oleh Dimas ke tempat seperti itu bersama Vira.


"Wahh mbak Bela cantik banget," ucap Vira. Bela tersipu karena di puji oleh Vira.


Vira juga segera menukar baju nya agar nanti Dimas menjemput mereka sudah siap untuk berangkat.


Hari semakin gelap. Dimas sudah menunggu mereka di depan rumah.


Dimas melihat dua perempuan yang menggunakan warna dress yang sama, rambut yang sama-sama di urai tersenyum berjalan pelan ke arah nya.

__ADS_1


__ADS_2