
Bibik mengangguk sambil tersenyum.
Tidak beberapa lama Dimas kembali ke kamar.
"Pak aku baik-baik saja, kenapa bapak membeli obat sangat banyak? dan pembalut seperti ini banyak nya untuk apa?" tanya Bela.
"Jangan banyak protes, sudah ikut saja apa kata saya."
Dimas memaksa Bela untuk minum obat, jamu dan mengoleskan minyak ke perut nya.
"Apakah masih sakit?"
Bela menggeleng kan kepala nya.
"sudah tidak sakit lagi pak, sebaiknya bapak mandi dan istirahat." ucap Bela.
Dimas menghela nafas panjang dia duduk di depan Bela menatap nya dengan tatapan sedih.
"Maafin saya tidak bisa mengantarkan makan siang untuk bapak tadi siang." ucap Bela.
Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Tidak apa-apa,"
"Tapi kata yang lain bapak marah karena tidak saya yang datang." ucap Bela.
"Enggak, saya tidak marah, siapa Bilang saya marah?" ucap Dimas langsung.
Bela tersenyum dia menatap wajah Dimas.
"Apa perut kamu masih sakit?"
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Kamu yakin? Kalau sakit lagi kamu harus mengatakan nya, jangan mencoba untuk menutupi nya!" ucap Dimas.
Bela mengangguk. "Saya akan mandi sebentar."
Dimas masuk ke dalam kamar mandi.
"Arghhhh!!! Akhirnya aku bisa lepas dari kemarahan nya, sebenarnya sekarang perut ku tidak sakit lagi, namun kalau dia tau aku tidak sakit lagi dia pasti sangat marah."
"Aku juga tidak tau kenapa rasanya sangat canggung sekali sekarang bersama nya, aku tidak tau kenapa padahal bukan nya sekarang hubungan sudah jelas dan aku tidak pernah malu-malu lagi."
Bela menyiapkan piyama Dimas.
Dimas selesai mandi dia langsung memakai baju nya.
"Bapak mau makan? Saya akan menyiapkan nya."
"Tidak perlu Bela, kamu istirahat saja, saya akan meminta yang lain menyiapkan nya."
"Oke baiklah Pak."
Dimas keluar dari kamar meninggalkan Bela.
Bela tersenyum sangat senang sekali karena Dimas sangat baik hari ini.
"Pokoknya aku tidak boleh menyia-nyiakan kebaikan pak Dimas begitu saja." ucap Bela.
Waktu nya untuk tidur Dimas main Handphone di sandaran kasur sementara Bela sibuk dengan buku nya.
"Kenapa dia sangat menggemaskan sekali ketika sedang fokus seperti itu?" batin Dimas.
__ADS_1
"Kenapa bapak melihat saya seperti itu?" tanya Bela. Dimas langsung mengalihkan pandangan nya.
"Enggak kok, kamu lanjut saja membaca buku nya dan setelah itu cerita kepada saya."
Bela melihat Dimas.
"Ini sudah jam berapa pak? Kenapa bapak tidak tidur?" tanya Bela.
"Kalau kamu belum tidur saya juga tidak akan tidur."
Bela menghela nafas dia melihat jam sudah waktunya memang untuk tidur.
"Baiklah kalau begitu aku akan tidur."
"Apakah kamu lupa hubungan kita seperti apa sekarang?" tanya Dimas.
Bela menoleh ke arah Dimas.
"Humm aku tau."
"Setiap malam kamu harus memberikan saya kis malam dan juga ucapan selamat malam."
"Apa aku harus melakukan hal itu?" tanya Bela.
"Tentu, apa saya perlu membeli nya?" tanya Dimas.
"Pak ini adalah pertama kalinya aku pacaran, aku rasa aku masih belum terbiasa, bapak sabar kan menunggu aku bersikap normal?"
Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Tidak bisa, di sini tidak ada orang lain di Sini hanya kita berdua kamu tidak boleh canggung kepada saya."
Bela menghela nafas panjang.
Dimas turun dari tempat tidur dan langsung mendekati Bela.
"Jangan panggil saya Bapak karena saya kekasih mu!"
Bela menelan air liur nya karena gugup Dimas sangat dekat dengan nya.
"Secepat mungkin saya ingin kamu menikah dengan saya."
"Hah? Menikah?" tanya Bela sangat kaget. Dimas menutup mulut Bela karena sangat berisik.
"Kenapa kamu berteriak seperti itu?"
"Maaf pak, saya sangat terkejut sekali.
"Iyah kamu tidak salah dengar," ucap Dimas.
"Tapi kita baru saja menjadi pacar satu hari pak, bagaimana Bapak secepat ini memikirkan pernikahan?"
"Saya tidak ingin main-main lagi."
"Kenapa bapak begitu yakin menikah dengan saya?" tanya Bela.
"Karena saya mencintai kamu, saya tidak ingin terlambat menikahi kamu."
"Pak sebaiknya jangan dulu, kita jalani saja dulu hubungan seperti ini sampai kita sama-sama saling memahami."
"Saya sudah menduga nya kalau kamu akan menolak saya."
"Bapak jangan salah paham, saya hanya belum siap."
__ADS_1
"Baiklah saya paham. Saya akan menunggu sampai kamu benar-benar siap,"
"Namun jangan salahkan saya kalau saya bersifat sedikit agresif kepada kamu."
"Kalau begitu aku akan pindah kamar."
"Tidak bisa! Semua kamar di tutup untuk kamu karena kamar kamu hanya di sini bersama saya."
"Tapi..."
"Saya hanya bercanda, tidak mungkin saya melakukan hal seperti itu kepada kamu." ucap Bela.
Dimas mendekati Bela dia tidak bisa menahan dan langsung mencium bibir Bela, awal nya Bela yang hanya diam saja namun Bela akhirnya membalas juga."
"Pak..." Bela menghentikan Dimas.
Dimas menatap Bela sambil tersenyum dia mencium kening Bela.
"Oh iya saya memiliki tiket nonton, apa kamu mau datang?" tanya Dimas sambil menunjuk kan tiket yang di berikan oleh Serli tadi.
"Bapak seriusan ngajak saya?"
"Berhenti panggil saya Dengan panggilan Bapak!"
Bela memutuskan untuk panggilan dengan panggilan kakak jauh lebih enak di dengar.
"Jam empat sore saya akan menjemput kamu ke rumah, kamu sudah harus rapi."
"Apa yang harus aku katakan kepada pelayan yang lain nya kalau mereka bertanya."
"Katakan saja Kaka kita pacaran, apa yang salah dengan itu?"
"Tapi.."
"Saya tidak menerima protes atau penolakan, sekarang kamu harus tidur kalau tidak tidur saya akan mengganggu kamu."
"Baiklah pak." ucap Bela.
Dimas kembali ke tempat tidur.
Bela pun melanjutkan untuk tidur. Walaupun sebenarnya dia sangat salting dan malu.
"Huff sepanjang hari perasaan ku tidak nyaman, jantung ku tidak berhenti berdebar, di tambah lagi pak Dimas sangat romantis sekali."
Dimas juga senyum-senyum sendiri.
"Aku sudah lama tidak merasakan kebahagiaan seperti ini, aku rasa ini semua ini tidak hanya mimpi saja."
"Aku sungguh-sungguh mencintai Bela, aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau yang aku butuhkan adalah wanita sederhana yang mengerti aku, perduli dan siap menjadi rumah untuk ku pulang."
Dimas merasa sangat beruntung memiliki Bela di dalam hidup nya.
Keesokan harinya Bela di sore hari nya sedang siap-siap. Setelah sudah sangat cantik dia keluar dari kamar.
Dan benar saja semua orang sangat penasaran terkecuali Bibik.
"Kamu cantik banget Bela, kamu mau kemana?"
"Humm aku.."
"Kalian sangat kepo sekali, dia pasti mau jalan sama tuan Dimas lah."
"Apa benar kamu dengan pak Dimas ada hubungan?" tanya teman-teman nya.
__ADS_1
"Humm aku bisa menjelaskan nya."
"Ternyata benar Bela? Wahh ini kabar bahagia sekali, kita harus merayakan ini." ucap semua teman nya.