Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 144


__ADS_3

Selesai dari rumah Yana, akhirnya Bela kembali ke rumah nya.


"Huff ini masih sangat sore tapi aku sudah sangat bersemangat mau berangkat."


Sebelum nya Bela belum pernah di ajak oleh Dimas ke tempat seperti itu bersama Vira.


"Wahh mbak Bela cantik banget," ucap Vira. Bela tersipu karena di puji oleh Vira.


Vira juga segera menukar baju nya agar nanti Dimas menjemput mereka sudah siap untuk berangkat.


Hari semakin gelap. Dimas sudah menunggu mereka di depan rumah.


Dimas melihat dua perempuan yang menggunakan warna dress yang sama, rambut yang sama-sama di urai tersenyum berjalan pelan ke arah nya.


"Om Dimas ganteng banget," ucap Vira.


Bela yang berjalan sambil menggandeng tangan Vira hanya bisa tersenyum.


Dimas tidak berhenti tersenyum melihat penampilan Bela yang jelas sangat berbeda dari biasanya.


"Wahh kamu cantik banget," ucap Dimas kepada Vira dan langsung menggendong nya.


"Iyah om, mbak Bela yang dandanin aku."


Dimas melihat Bela sambil tersenyum. Bela melihat penampilan Dimas sangat tersipu karena sangat gagah dan tampan sekali.


"Ya sudah kalau begitu ayo masuk ke dalam mobil. Dimas membawa Vira duduk di belakang dan tidak lupa membuka kan pintu untuk Bela.


"Sudah siap? Ayo berangkat," ucap Dimas.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai.


"Wahh ini restoran seperti istana saja," batin Bela.


Di sambut dengan hangat dan membawa mereka masuk ke dalam.


Vira berlari masuk terlebih dahulu. "Sudah biarkan saja," ucap Dimas karena Bela mau menahan nya.


"Bagaimana kalau tamu yang lain terganggu?"


"Tidak perlu khawatir, tempat ini menjadi milik kita malam ini."


"Hah? apa itu artinya kakak menyewa restoran ini?"


"Benar sekali, ini semua bukan karena kamu tapi ini untuk kenyamanan ku, aku ingin menghabiskan malam ini hanya dengan kamu dan juga Vira."

__ADS_1


Bela tersenyum. Mereka masuk ke dalam dan duduk di meja yang begitu lebar, terbuat dari marmer dan semua yang ada di sana adalah barang-barang mahal.


"Oh iya sebelum kita makan kamu tunggu sebentar," Dimas memberikan kode kepada pengawal nya. Musik instrumen mulai terdengar.


"Musik ini?" ucap Bela. Dimas tersenyum dia mengangguk. Dimas sangat tau kalau itu adalah musik kesukaan kekasih nya karena setiap hari Bela mendengar nya ketika lagi tidur, lagi masak, bersih-bersih atau sedang bersantai.


Dimas tau cara nya membuat Vira tenang tidak menggangu momen mereka berdua, dia meminta restoran menyiapkan semua varian eskrim agar Vira bisa memilih nya.


Tidak beberapa lama Empat pelayan restoran datang membawa paper bad masing-masing di tangan nya.


Bela kebingungan, Dimas hanya tersenyum.


Bela menerima barang pertama, dia melihat isi nya adalah tas mahal, yang kedua kalung yang ketiga high heels, dan yang ke empat adalah cincin.


Bela sangat kaget karena yang di depan mata nya itu bukan lah barang-barang yang murah, dia yakin dia bisa membeli mobil mewah dengan semua barang-barang itu.


Dimas beranjak dari tempat duduk nya dia membawa bunga mawar merah yang cukup besar kepada Bela.


"Apa ini Kak?" tanya Bela.


"Aku tau kamu pasti kurang suka dengan cara ku yang seperti ini, tapi aku ingin kamu menerima semua ini."


Bela mengambil bunga itu. Dimas meminta Bela menjulurkan tangan nya.


"Aku tau sebelum nya kita sudah membahas ini, tapi aku ingin memberikan cincin ini sebagai tanda kalau kamu sudah menjadi milik ku," ucap Dimas.


Bela melihat cincin berlian yang sangat cantik sudah terpasang di jari manis nya.


"Wahh.." tiba-tiba saja Vira sudah berdiri di samping mereka berdua dan melihat dengan dekat cincin Bela yang sangat berkilau.


"Aku juga mau om, kenapa hanya mbak Bela saja."


"Non Vira, ayo ke sana, di sana sangat banyak permainan." Pelayan lalai dia pun membawa Vira bermain.


Bela tersenyum melihat Vira. Dia meminta Dimas berdiri dan memeluk nya.


Dimas mau mencium bibir Bela namun di tahan oleh Bela karena di sana banyak banyak pengawal, pelayan dan juga pemain musik yang sedang menonton mereka.


Dimas baru ingat kalau di ruangan itu bukan hanya mereka berdua walaupun dia sudah menyewa tempat itu.


Makanan satu persatu pun mulai datang dan di tata di atas meja.


"Aku sangat lapar Om, aku mau makan," ucap Vira.


Dimas layak nya seperti ayah bagi Vira, dia mengutamakan Vira terlebih dahulu dan tidak lupa memerhatikan Bela makan.

__ADS_1


"Huff makanan ini semua nya sangat enak dan jarang aku bisa makan ini, tapi dress ini cukup sempit di bagian perut padahal aku baru makan beberapa suap." Batin Bela.


"Kenapa sudah selesai? Apa makanan nya tidak enak? Kamu bisa pesan yang kamu mau," ucap Dimas.


"Enak kok, aku hanya merasa kenyang saja."


"Huff selain itu, aku juga harus terlihat elegan, tidak bisa seperti biasanya agar kak Dimas tidak ilfel." batin Bela.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan, bergantian dengan menu puding makanan cuci mulut kali ini.


"Huff walaupun malam ini hanya makan malam, tapi rasanya seperti acara yang di tunggu-tunggu."


Bela sangat menikmati makan malam yang jelas sangat berbeda dari biasanya.


Hari semakin malam. Dimas dan Bela memutuskan untuk pulang karena Vira sudah mengantuk.


Dimas terpaksa meminta supir membawa mobil karena Vira ketiduran di gendongan nya.


Sesampainya di rumah Dimas baru sadar ternyata Bela juga ketiduran di bahu nya.


Dimas tersenyum. Vira di bawa oleh supir masuk ke dalam. Dimas perlahan mengangkat badan Bela.


"Dia pasti sangat kekenyangan," ucap Dimas. Dia melihat Bela makan begitu banyak walaupun Bela merasa dia hanya makan sedikit tapi malah menyalahkan dress nya yang sempit.


Dimas membaringkan badan Bela di tempat tidur.


Namun Bela malah kebangun. Dia melihat Dimas ada di depan wajahnya.


"Kamu terbangun? Aku minta maaf sudah membuat mu terbangun."


Namun Bela malah mencium singkat bibir Dimas dan tersenyum setelah nya.


Dimas terdiam. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Dimas.


Bela tidak diam dia melanjutkan mencium Dimas. Dimas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu dia membalas ciuman Bela.


"Kamu yakin?" tanya Dimas. Bela mengangguk tampa sadar tangan nya membuka jas, dasi dan kancing kemeja Dimas.


Sementara Dimas masih berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh badan Bela yang lain.


"Tahan Dimas! Kau sudah berjanji untuk terus menjaga Bela."


Bela seperti kesurupan dia membuka kemeja Dimas dan memandangi badan Dimas yang begitu bagus dan menyentuh nya.


"Jangan melakukan ini Bela, aku takut tidak bisa mengontrol diri."

__ADS_1


Namun Bela sangat nakal.


__ADS_2