
Hanya dua angka yang dia ingat.
Berusaha untuk mencari tau butuh waktu satu hari, dia harus sabar menunggu itu.
Sesampainya di rumah Bela, Vira dan yang lain nya makan bersama sementara Dimas langsung istirahat.
Bela dan Vira masuk ke kamar ternyata Dimas sudah tidur di sofa.
"Kenapa dia malah tidur di sofa?" batin Bela.
Dimas menyadari mereka masuk ke dalam.
"Tidur lah di kasur agar Vira bisa tidur dengan nyenyak, jangan ganggu saya karena saya sangat lelah."
Bela mengangguk.
"Ayo kita tidur sayang, besok kamu harus bangun pagi karena mbak mau menunjukkan sesuatu."
Vira mengangguk.
Setelah Vira tidur Bela menoleh ke arah Dimas.
"Apa kakak sudah tidur?" tanya Bela.
Dimas menoleh ke arah Bela.
"Kalau tidak nyaman di sana, kakak pindah ke sini saja," ucap Bela. Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Tenang saja Vira sudah tidur kok."
"Apa kata Vira kalau melihat kamu tidur di sofa, dia pasti akan memarahi saya."
"Kalau begitu malam ini aku akan tidur di sini."
Dimas langsung duduk berjalan ke arah tempat tidur.
Dia tidur di samping Vira.
"Tidur seperti ini membuat saya berangan-angan suatu saat nanti memiliki anak bersama kamu."
Bela tersenyum. "Jangan bermimpi terlalu jauh kak."
Dimas menatap Bela.
"Maaf kan saya sudah berbicara kasar kepada kamu, saya sangat emosi kepada mereka semua."
"Gak apa-apa kok,. tapi lain kali aku mohon Kakak harus bisa mengontrol emosi agar tidak menyakiti hati orang lain, aku tau kok kalau kakak khawatir."
Dimas mengangguk dia mengelus pipi Bela dengan tangan nya.
"Saya minta maaf."
Bela tersenyum.
"Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf seperti ini."
Dimas tersenyum dia tertidur sambil mengelus kepala Bela.
Vira bergeliat dan memeluk Bela.
Keesokan harinya...
Bibik masuk ke kamar mau membangun kan mereka karena sudah jam tujuh tapi belum bangun.
Namun melihat Mereka bertiga satu kasur membuat Bibik terharu melihat nya.
__ADS_1
"Ya Allah semoga saja Bela dan Vira membawa warna di hidup tuan Dimas untuk selamanya," ucap Bibik.
Bibik tidak mau mengganggu dia pun keluar dari kamar perlahan, namun saat menutup pintu Bela mendengar nya dan terbangun.
Dia melihat cuaca di luar sudah terik.
"Ya ampun ini sudah jam berapa?" ucap Bela.
Dia membangun kan Dimas.
"Kak.. Kak bangun, ini sudah jam tujuh lewat."
"Kenapa? biarkan saja, saya tidak ke kantor pagi ini, saya mau bersama Vira."
Dimas bergeliat dan memeluk Vira yang masih tidur.
Bela melihat handphone Dimas bunyi.
"Fahri?"
"Kak bangun dulu, ini Fahri nelpon."
"Jawab saja."
"Halo Fahri."
"Bela! Kenapa kamu yang jawab? Pak Dimas mana?" tanya Fahri.
"Humm pak Dimas masih tidur."
"Oohh gak apa-apa deh, Bilang saja kalau jam satu siang ada barang yang akan datang."
"Baiklah."
"Tunggu dulu jangan di matikan, aku mau nanya kabar kamu."
"Baik. Aku sangat merindukan kamu," ucap Fahri.
Bela tersenyum mendengar nya.
"Aku juga merindukan kamu," mendengar itu Dimas langsung bangun dan mengambil handphone dia segera mematikan nya.
"Loh kok mati sih?"
"Kenapa kak?" tanya Bela kaget.
"Kamu jangan coba-coba untuk dekat-dekat dengan Fahri! Saya tidak akan membiarkan kamu keluar." ucap Dimas dengan suara yang pelan agar Vira tidak bangun.
"Huff hubungan kami hanya sekedar teman saja, apa yang salah dengan itu?"
"Tidak bisa! Kamu milik saya dan jangan coba-coba untuk membantah nya."
"Terserah saja, aku mau ke kamar mandi."
"Bela jangan mencoba dekat-dekat dengan nya lagi."
"Iyah-iyah." jawab Bela dari dalam kamar mandi.
"Anak itu sungguh keras kepala."
"Hoamm kenapa om marah?" tanya Vira.
"Enggak kok, om hanya berbicara lewat telpon, ayo tidur lagi."
Dimas membawa Vira untuk lanjut tidur.
__ADS_1
"Asal kamu tahu saudara mu itu benar-benar sangat keras kepala!" batin Dimas.
Sampai siang Dimas dan Vira tidur di kamar. Sementara Bela sibuk dengan pekerjaan nya sendiri.
"Bela aku minta maaf yah karena aku tidak bisa menemani kamu di sini lagi." ucap teman nya yang paling mudah.
"Loh kenapa? Maksud nya gimana?"
"Aku mau pulang kampung."
"Pulang kampung lagi? ya gak apa-apa dong, kenapa harus sedih seperti ini sih, mana bertiga lagi tu."
"Tapi kami akan berhenti bekerja di sini dan hidup di kampung."
"Bercanda kan?" ucap Bela.
Mereka memasang wajah yang sangat serius.
"Kalau kalian bertiga pergi masa aku gak ada teman? Mereka semua sudah menikah tidak sefrekuensi ." ucap Bela.
"Kontrak kerja kami sudah habis, kami juga sudah membuat usaha di kampung."
"Oohhhh begitu, ya udah deh gak apa-apa, aku juga senang melihat Kalian bahagia."
"Kami pasti sangat merindukan kamu Bela."
Bela tersenyum.
"Terimakasih yah sudah membantu aku selama tinggal di sini, melindungi aku juga sampai akhir nya aku bisa seperti ini."
"Ini semua perjuangan kamu dan kesabaran kamu yang tidak mudah menyerah. Akhirnya kamu di balas berpacaran dengan Tuan Dimas yang sangat perhatian sama kamu."
"Oh iya kamu juga harus tau beberapa bulan lagi semua Bibik di sini seperti nya akan berhenti, mereka semua tidak ada yang melanjutkan kontrak kerja."
Mendengar itu Bela sangat sedih, dia pikir hanya mereka bertiga saja.
"Jangan khawatir, ada Bibik kok di sini yang menemani kamu."
"Tapi bik, Bibik Sudah tua."
"Bibik tidak bisa meninggalkan kamu di sini."
Bela tersenyum dia sangat senang karena ada yang sangat menyanyangi nya.
"Kami selalu berdoa yang terbaik untuk kamu Bela, semoga hubungan kamu dengan Tuan Dimas baik-baik saja, dan jangan lupa setelah menikah nanti kamu undang kami semua."
Bela tersenyum tipis setiap kali orang mengatakan pernikahan.
"Bagaimana dengan gaji kalian?"
"Tuan Dimas sangat baik, dia memberikan bonus sehingga kami bisa membeli tanah di kampung untuk usaha."
"Alhamdulillah kalau seperti itu, aku juga senang mendengar nya."
Mereka berpelukan.
Bela naik ke lantai atas dan duduk sendiri sambil termenung.
Dimas baru keluar dari kamar namun sudah melihat kekasih nya duduk termenung sendirian.
"Apa yang kamu pikirkan? kenapa kamu terlihat sangat Sedih?" tanya Dimas.
Bela melihat ke arah Dimas yang duduk di samping nya.
"Aku hanya Sedih karena teman-teman ku akan pulang kampung."
__ADS_1
"Oohh tentang itu, maaf saya tidak mengatakan nya sebelum nya, namun saya sudah mencoba menawarkan kontrak baru namun mereka tidak mau."
"Itu semua karena Kakak sangat galak kepada mereka. Mereka semua takut tinggal lebih lama di sini," ucap Bela malah menyalahkan Dimas.