
Serli terdiam sejenak. "Baiklah, aku akan kembali ke tempat tidur ku kalau begitu," ucap Serli.
Namun Roi menahan nya. "Tidur saja di sini, seperti ini jauh lebih nyaman dan juga hangat."
Namun Serli tetap mau kembali ke tempat tidur nya. "Apa kamu tidak takut tidur sendirian? Kamu tau kan kalau penginapan yang sudah bertahun-tahun seperti ini pasti sangat banyak penunggu nya," ucap Roi.
Serli yang sangat penakut segera berlari ke tempat tidur Roi dan menutupi wajah nya dengan selimut.
Roi tertawa kecil, dia memeluk Serli dengan erat.
Sementara di rumah Bela dan Dimas. Yana sedang duduk di ruang tamu sendirian.
"Kok kamu belum tidur?" tanya Bela kepada Yana. Yana menoleh ke arah Bela.
"Gak apa-apa, aku hanya belum ngantuk saja."
"Sebaik nya kamu tidur, jangan banyak memikirkan hal yang tidak penting, kamu sudah aman di sini," ucap Bela.
"Baiklah, kamu juga istirahat," ucap Yana.
Yana masuk ke dalam kamar nya.
Tidak beberapa lama Dimas datang menghampiri istrinya. "Kenapa kamu belum tidur sayang? Kamu harus banyak istirahat," ucap Dimas memeluk istrinya dari belakang.
"Iyah, nih mau tidur kok," ucap Bela. Tiba-tiba Dimas mengangkat badan Bela membuat Bela kaget.
"Apa yang kakak lakukan? aku bisa jatuh kalau seperti ini," ucap Bela.
"Kamu jangan banyak gerak," ucap Dimas mereka tertawa sambil masuk ke dalam kamar. Yana yang melihat itu hanya bisa diam.
Dia masuk ke dalam kamar nya berbaring berusaha untuk tidur.
"Bagaimana ini? apa yang harus aku katakan kepada kedua orang tua ku? Aku sangat pusing," ucap nya kebingungan.
Keesokan harinya...
"Good morning....." tiba-tiba Kayla datang pagi-pagi sekali membuat kericuhan di rumah Bela.
"Ante cantik..." ucap Vira keluar dari kamar sudah berseragam.
"Ante sangat merindukan kamu."
"Aku juga rindu sama Ante cantik."
"Tante kenapa pagi-pagi sudah di sini?" tanya Dimas.
__ADS_1
"Emang gak boleh? Ingat ini rumah istri kamu yah, jadi kamu tidak punya hak untuk melarang siapapun datang ke sini," ucap Kayla.
Bela yang di samping Dimas hanya bisa tersenyum saja.
"Bukan gitu Tante, tapi ini benar-benar masih sangat pagi, bahkan kami baru saja bangun karena mendengar suara Tante."
"Aku hanya bercanda, ya udah deh maaf membuat kamu terganggu. Tapi sebelumnya aku sudah ada janji dengan bela."
Dimas menoleh ke arah istrinya, Bela mengangguk sambil tersenyum.
Kayla ikut tersenyum juga ke arah Dimas sambil menunjuk belanjaan yang dia bawa.
"Maaf belajar masak lagi?" tanya Dimas. Kayla mengangguk.
"Udah lah Tante, bisa pesan makanan dari luar, makan di luar kenapa harus susah-susah belajar? Lagian Fahri tidak mungkin menuntut Tante bisa masak."
"Iyah, benar gak di tuntut, tapi aku pengen, kamu gak usah ikut campur. Sebaiknya kamu anterin Vira ke sekolah sebelum dia Telat."
"Gak apa-apa Ante, aku bisa pergi sendiri."
"Yakin?" tanya kayla.
"Ya udah deh kalau begitu."
"Hari ini Bela pasti belum masak kan, nih jajan untuk kamu sarapan di sekolah."
"Loh bukannya itu teman kamu Bela? Kenapa dia bisa di sini?" tanya Kayla.
"Dia tinggal untuk sementara waktu di sini," ucap Bela.
"Bagaimana bisa? Dia kan orang kaya kenapa dia di sini?"
"Cerita nya panjang, dia sedang bersembunyi dari seseorang. Jadi karena ada kak Dimas di sini dia bisa berlindung agar r orang itu tidak macem-macem kepada nya."
"Oohh begitu. Tapi kelihatan nya dia sangat berbeda, jauh lebih menyedihkan," ucap Kayla.
"Sudah jangan membicarakan tentang dia," ucap Bela.
"Sayang, kamu bisa a siapin baju kan? aku akan berangkat ke kantor."
Bela mengangguk. "Tunggu sebentar yah," ucap Bela.
Kayla mengangguk dia terlebih dahulu ke dapur membawa semua bahan yang dia bawa.
Dia tersenyum ke arah Yana, namun Yana sama sekali tidak membalas nya.
__ADS_1
"Perasaan kemarin dia sangat ramah, baik, dan juga ceria, sekarang sangat berbeda seperti memiliki dua jiwa saja," ucap Kayla dalam hati.
Bela mengantar kan suami nya ke depan siap untuk berangkat ke kantor.
"Hati-hati yah kak, jangan lupa kabarin aku setelah sampai di kantor, oh iya sarapan dulu yah, aku gak bisa masak pagi-pagi karena Kakak sih!" ucap Bela.
"Iyah sayang, Iyah gak apa-apa kok, kalau gitu aku berangkat yah," ucap Dimas mencium kening istrinya dan mencium perut istri nya terlebih dahulu.
Tidak beberapa lama akhirnya dia pun berangkat. Bela hendak masuk namun dia baru menyadari ternyata Yana duduk di depan rumah.
"Loh, Yana kamu di sini?" tanya Bela. Yana mengangguk.
"Kenapa sih kamu masih memikirkan dia? lupakan sajalah pria itu."
"Masih banyak orang yang mau sama kamu."
"Enggak kok Bela, aku hanya merasa kamu sangat beruntung memiliki laki-laki baik seperti pak Dimas."
Bela mengangguk. "Iyah, aku sangat senang bisa menjadi istri nya karena sudah sangat banyak masalah yang Kami lalui bersama."
"Ayo kita masuk, apa kamu mau belajar masak juga?" tanya Bela.
"Seperti nya jangan sekarang, aku masih kurang enak badan."
"Oohh ya udah kalau begitu kamu duduk di dalam saja."
Di kampus...
Kevin dari tadi berusaha menghubungi nomor Yana namun tidak aktif begitu juga dengan Bela.
"Kenapa mereka berdua sama-sama gak datang ke kampus sih?" tanya kevin kebingungan.
"Bela, apa teman kamu tidak dibawa berobat Saja? seperti nya dia sakit," ucap Kayla.
"Dia tidak mau Tante, biarkan saja dia menenangkan diri dulu."
"Sebenarnya ada apa sih?" tanya kayla. Awalnya Bela tidak ingin cerita namun Kayla sangat penasaran akhirnya dia menceritakan apa yang terjadi.
"Wahh parah sih, kalau seperti ini jadi bingung mau bela siapa," ucap Kayla.
"Suami nya selingkuh karena tidak mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan, namun di sisi lain istri nya di bohongi sementara selingkuhan nya tidak tau apa-apa dan sekarang dia teraniaya," ucap Kayla.
Kayla jadi pusing memikirkan masalah Yana itu. "Sudah lah, kenapa Tante jadi membahas itu sih? Sekarang aku mau tanya Tante ke sini sama siapa?" tanya Bela.
"Dengan supir, hari ini Fahri ada kerjaan di luar dua hari dia tidak akan pulang."
__ADS_1
"Pantesan saja Tante ke sini," ucap Bela. "Dari awal niatnya sudah mau ke sini, hanya saja tidak sempat karena sangat sibuk sekali."
Bela tersenyum, mereka berbincang-bincang sambil terus memasak. Ternyata perlahan-lahan Kayla sudah mulai bisa dan paham.