
"Pasti kalau jadi kekasih pak Dimas hidup nya akan terjamin bahagia," nanti Tami.
Tidak beberapa lama akhirnya dia kembali dan memberikan Handphone kepada Dimas.
"Terimakasih banyak Tami, ini upah kamu." Dimas memberikan uang kepada Tami.
"Terimakasih banyak Pak."
"Kalau begitu kamu bisa lanjut bekerja."
Tami mengangguk.
"Wahh walaupun pak Dimas terkenal dengan watak yang sangat kejam tapi asli nya dia sangat baik, aku semakin jatuh cinta kepada nya." ucap Tami.
Dimas lanjut bekerja seperti biasa, namun dia tidak bisa berhenti memikirkan Bela yang membuat nya sangat ingin cepat-cepat pulang ke rumah bertemu Bela dan juga Vira.
Seiiring waktu berjalan akhirnya tiga pelayan dari rumah Dimas pulang, mereka berpamitan kepada orang yang di tinggal kan termasuk kepada bos nya.
Sedikit sungkan berpamitan kepada Dimas namun tetap saja mereka harus mengucapkan terimakasih.
Mereka sudah berangkat tinggal beberapa orang.
"Kamu tidak perlu sedih seperti ini." ucap Dimas kepada Bela yang dari tadi sangat murung sekali.
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak apa-apa kok, tinggal kan aku sendiri."
Dimas menghela nafas panjang.
"Om berangkat kerja saja, biar aku yang nemanin mbak Bela."
Dimas mengangguk. "Baiklah kalau begitu Om berangkat dulu yah."
Vira masih di rumah Dimas karena Dimas ingin memecahkan sebuah kejadian yang menurut nya janggal kepada orang tua yang mau mengadopsi Vira.
"Mbak jangan sedih dong..." ucap Vira sambil mengelus pipi Bela.
"Enggak kok, mbak gak sedih, mbak hanya merasa kesepian saja."
"Kan masih ada aku sama Om Dimas."
Bela tersenyum dia langsung memeluk Vira.
"Pokoknya kamu tidak boleh meninggalkan mbak, mbak sangat sayang sama kamu."
Vira mengangguk.
Tidak beberapa lama akhirnya Dimas sampai di kantor.
"Selamat Pagi Pak.." tiba-tiba detektif nya ada di sana.
"Rio kenapa kau di sini?" tanya Dimas.
"Saya mau membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan Bapak secara langsung."
Dimas mengangguk.
"Baiklah kalau begitu ayo ikut saya."
Mereka masuk ke ruangan Dimas.
"Ada apa?" tanya Dimas.
__ADS_1
Rio Membicarakan tentang apa yang di selidiki nya oleh nya membuat Dimas berfikir panjang tentang orang yang mau mengadopsi Vira.
Di malam hari nya Dimas baru saja pulang dalam keadaan lelah. Bela sudah menunggu dari tadi sangat khawatir karena sudah jam sepuluh malam namun Dimas tak kunjung pulang.
"Kakak dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Bela.
Dimas menatap wajah Bela.
"Saya sangat lelah, saya mau istirahat."
Bela mengangguk dia langsung mengambil tas, jas dan menyimpan sepatu Dimas.
"Apa Vira sudah tidur?" tanya Dimas.
"Iyah kak, dia kelihatan nya sangat lelah bermain dan belajar itu sebab nya dia cepat tidur, dia juga tidak berhenti bertanya tentang Kakak."
Dimas melihat ke arah Handphone yang masih terletak di atas meja.
"Kalau kamu mengkhawatirkan saya kenapa kamu tidak menelpon saya? Itu gunanya saya membelikan kamu Handphone."
Bela melihat ke arah handphone itu.
Bela dari awal menolak handphone itu, dia tidak mau karena merasa itu tidak lah terlalu perlu bagi nya.
Dimas menghela nafas panjang.
"Kalau kamu tidak mau menggunakan nya kenapa tidak kamu buang saja?" tanya Dimas.
Bela terdiam dengan kata-kata Dimas.
"Bukan seperti itu kak."
"Kalau kamu tidak mau, saya akan membuang nya." Dimas memasukkan nya langsung ke tempat sampah membuat Bela kaget.
Bela membongkar tempat sampah dan mengambil handphone itu tadi.
Tiba-tiba Bela mengingat dengan perkataan Serli beberapa hari yang lalu.
Setelah Dimas selesai mandi, dia keluar dari kamar bekerja di ruang tamu.
Bela mengikuti Dimas keluar.
"Ini sudah malam, sebaiknya kakak tidur," ucap Bela berdiri tidak jauh dari Dimas.
Dimas menoleh ke arah Bela.
"Jangan ganggu saya."
Bela menghela nafas panjang.
"Apa yang kamu lakukan di sana? Pergi lah dan jangan ganggu saya, saya tidak ingin melihat kamu di situ!"
Bela akhirnya langsung pergi dan menunggu Dimas di ruang tamu.
"Apa dia harus semarah ini karena aku menolak pemberian nya? aku rasa handphone itu terlalu berlebihan karena harga nya yang sangat mahal," batin Bela.
Sepanjang malam dia tidak bisa tidur menunggu Dimas masuk ke kamar.
Namun sudah tengah malam Dimas tak kunjung masuk ke dalam kamar dia memeriksa nya ke bawah dan ternyata Dimas tidur di sofa.
"Kenapa tuan tidur di sofa Bela?" tanya Pelayan yang bangun.
"Mungkin ketiduran." jawab Bela.
__ADS_1
Bela membawa selimut dan menyelimuti Dimas.
Namun Dimas tiba-tiba terbangun dia melihat Bela dia langsung duduk.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dimas.
Bela terkejut dia langsung minta maaf.
"Maaf kak, aku membuat kakak terganggu!"
Dimas tidak mengatakan apapun dia langsung pergi ke kamar.
Keesokan paginya Bela melihat Dimas yang sibuk berkemas mau berangkat bekerja.
Vira yang melihat Bela diam saja, semua apa yang di lakukan oleh Bela di tolak oleh Dimas.
Dimas bahkan tidak mau memakai pakaian yang di pilih oleh Bela.
"Kak aku minta maaf karena handphone itu."
Dimas yang mau keluar dari kamar Berhenti dan menoleh ke arah Bela.
"Aku bukan bermaksud untuk tidak menghargai pemberian kakak hanya saja aku rasa aku tidak pantas memiliki nya."
"Kalau begitu kamu juga tidak pantas memiliki saya."
Bela benar-benar kaget dengan kata-kata Dimas yang selalu menyakiti hati nya, namun dia mencoba untuk sabar karena itu juga kesalahan nya sendiri.
"Aku minta maaf kak, aku akan memakai handphone itu, aku mohon jangan marah lagi kepada ku."
Dimas tidak mengatakan apapun dia mendekati Dimas memeluk nya sambil minta maaf.
"Aku hanya tidak ingin kakak berfikir kalau aku mau sama kakak karena uang, aku takut kakak berfikir seperti itu."
"Apa kamu tau saya akan marah kalau kebaikan saya di tolak?" tanya Dimas..Bela mengangguk.
"Kalau kamu tau kenapa kamu menolak nya bahkan tidak menggunakan nya sama sekali."
"Maaf kak, aku akan memakai nya."
Dimas tersenyum dia mengelus rambut Bela.
"Bagus lah kalau begitu," ucap Dimas.
"Apa kakak mau maafin aku?"
Dimas mengangguk.
"Saya juga minta maaf karena sudah kasar dan mengabaikan kamu."
Dimas mencium bibir Bela. Namun Bela baru ingat kalau ada Vira di sana.
"Kak.." Bela mengehentikan Dimas.
Dimas menoleh ke arah Vira yang tertegun melihat mereka berdua.
"Apa kah semua orang ketika habis marahan langsung ciuman?" tanya Vira dengan polosnya.
"Eh Vira, itu tadi, itu tidak seperti apa yang kamu lihat, mbak sama om Dimas gak marahan kok."
Vira menghela nafas.
"Ibu guru ku pernah bilang kalau dalam hubungan pasti ada pertengkaran."
__ADS_1