
"Maksud nya? Aku tidak mengerti."
"Jangan berpura-pura lugu,.kamu pasti tau apa yang saya maksud."
Bela menahan dada Dimas yang hendak mencium nya. "Aku sudah minta maaf, aku tidak akan mengatakan nya lagi, aku minta maaf."
"Kamu selalu saja minta maaf, setelah itu kamu melakukan nya lagi."
"Ya Lagian kakak sangat mudah memberikan nomor kepada guru-guru muda itu."
"Vira yang minta mereka menghubungi saya ketika tidak ada yang datang menjemput nya, saya tidak memberikan nomor saya kepada orang lain kecuali nomor sekretaris saya."
Bela terdiam sejenak, dia sudah menuduh dan sangat malu sekarang.
"Seharusnya kamu takut pacar mu di ambil oleh orang lain, kamu malah merendahkan diri sendiri."
"Karena aku takut, itu sebab nya aku selalu introspeksi diri," batin Bela.
Namun tiba-tiba Vira datang, Dimas langsung bangun dan duduk .
"Apa yang sedang om dan mbak lakukan?" tanya Vira Heran.
"Enggak, gak ada kok." ucap Bela langsung mengambil buku dan berpura-pura membaca.
Dimas melihat ke arah Bela yang sama-sama malu.
"Huff ini karena kakak, untung saja Vira tidak melihat nya," ucap Bela.
Setelah malam Dimas memilih untuk pulang ke rumah nya.
Sementara Fahri dan Kayla sedang berada di luar makan malam bersama.
"Oh iya mbak, aku sudah meminta ijin kepada pak Dimas untuk ikut ke kota mbak."
"Lalu bagaimana? Apa dia mengijinkan nya?" tanya Kayla.
Fahri mengangguk. "Aku sudah menjadi pengawal mbak, tidak mungkin aku tidak ikut UN terus menjaga mbak," ucap Fahri.
Kayla tersenyum.
"Bagus deh kalau begitu, aku tenang kalau kamu ikut aku, jadi aku tidak perlu overtingking," ucap Kayla.
"Maksud nya apa?" tanya Dimas.
"Kamu terlihat sangat dekat dengan Serli, awal nya sih aku biasa saja, hanya saja semakin ke sini aku semakin takut kalau Serli menyukai kamu."
Fahri menghela nafas panjang. "Sudah lama aku bertemu dengan mbak Serli, kami juga sudah sangat dekat, di saat aku kuliah dia sering membantu dan juga menjemput ku."
"Karena itu, aku takut dia mulai menyukai kamu."
"Tidak mungkin mbak."
"Kamu Tampan, kamu juga pinter kamu memiliki kemapuan siapa yang tidak mau kepada kamu?"
__ADS_1
"Jadi ceritanya mbak sedang memuji ku atau memarahi aku?" tanya Fahri.
"Dua-duanya! Pokoknya kamu tidak boleh tebar pesona di depan perempuan mana pun itu!"
Fahri menghela nafas panjang.
"Oke baiklah, aku tidak akan melakukan itu karena aku hanya milik mu."
Kayla tersenyum. "Kamu jangan berfikir kalau aku tidak tidak posesif, aku ingin serius dan aku akan menjaga jodoh ku dengan baik sebelum orang lain mengambil nya dari ku," ucap Kayla.
Tiba di hari H Kayla pulang ke rumah orang tua nya.
"Maafin aku yah Tante, aku belum bisa ikut ke sana. Aku titip salam sama nenek dan Kakek."
"Mereka pasti sangat sedih kamu tidak jadi ikut, tapi mereka juga pasti paham dengan keadaan kamu."
"Fahri, titip Tante saya, Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, saya percaya kepada kamu."
"Baiklah pak, saya akan menjadi mbak Kayla dengan baik."
"Bagus kalau begitu." ucap Dimas. Mereka pun berangkat karena pesawat sudah mau berangkat.
Dimas tersenyum.
"Tante tidak bisa menyembunyikan bahagia nya karena Fahri ikut dengan nya," batin Dimas.
"Tapi ini juga sangat bagus untuk ku, jadi aku bisa bebas tidak memikirkan Tante Kayla.'"
"Oh iya besok Bela sudah mulai pindah ke rumah baru nya, seperti nya aku harus mencari jasa pemindahan barang-barang.
"Makasih yah sudah membantu ku, mungkin kalau aku Sendiri yang memindahkan semua nya bisa jadi seminggu."
Dimas tersenyum.
Mereka berangkat ke rumah baru, namun sebelum ke sana mereka menjemput Vira terlebih dahulu.
"Wahh kita memiliki rumah baru mbak? Bagus banget," ucap Vira.
"Kamu suka?" tanya Bela. Vira mengangguk.
"Sebentar lagi kamu sudah tamat, jadi mbak memutuskan pindah ke sini agar kamu bisa sekolah di depan sana."
"Sekolah nya bagus banget mbak, aku sangat suka sekali," Ucap Vira.
"Terimakasih banyak yah mbak," ucap Vira memeluk Bela.
Seharian Bela membersihkan rumah, merapikan barang-barang dan di bantu oleh Dimas.
"Oh iya besok aku harus mengambil beberapa barang-barang yang ada di rumah Ayah, kakak tidak perlu ikut aku tidak ingin orang lain bertanggapan aneh."
"Baiklah, saya akan meminta orang untuk membantu kamu."
Namun saat sedang asyik duduk, istirahat di ruang tamu ada tamu yang datang membawa kasur baru.
__ADS_1
"Loh saya tidak memesan ini." ucap Bela.
"Saya yang pesan, tempat tidur ini adalah keluaran baru dan sangat bagus dan juga empuk, saya yakin tidur di sini membuat badan tidak sakit dan sangat nyaman."
"Tapi..."
"Ssttt!!! jangan menolak apapun yang saya berikan selagi batas wajar.".
Bela hanya khawatir dengan harga kasur itu saja, namun tetap saja dia suka karena sangat cocok dengan kamar nya.
Selain tempat tidur ada juga meja belajar untuk Vira.
"Aku bingung harus membayar nya bagaimana, aku jadi gak enak," ucap Bela.
"Anggap saja ini tanggung jawab saya kepada kamu," ucap Dimas.
Setelah semua barang-barang di tata dengan rapi. Dimas pamit untuk pulang.
Bela dan Vira makan malam hanya berdua saja.
"Mbak," panggil Vira.
"Iyah, kenapa dek?" tanya Bela.
"Kenapa yah ibu sama Ayah tidak pernah datang lagi ke mencari kita?"
Bela terdiam sejenak. "Apa kamu merindukan mereka? Tumben banget kamu nanya."
"Aku tidak merindukan mereka, aku hanya ingin tau mereka di mana," Ucap Vira.
"Mereka memiliki kesibukan masing-masing, mereka sering kok menanyakan kabar kamu dan juga kabar Mbak."
"Mereka pasti tidak ingin menemui kita mbak, mereka tidak menginginkan kita."
"Jangan berbicara seperti itu," ucap Bela.
"Lagian yang aku bilang benar mbak, mereka hanya perduli kepada diri sendiri saja." ucap Vira.
"Siapa yang ngajarin seperti itu? jangan berbicara seperti itu tidak baik."
"Huff nasib kita dengan nasib om Dimas sama," ucap Vira.
"Maksud nya?"
"Iyahh, orang tua om Dimas juga gak ada, mereka meninggalkan Om Dimas."
"Kamu tau dari mana?"
"Aku tidak pernah melihat orang tua om Dimas, mungkin bisa jadi saja mereka pergi meninggalkan Om Dimas dan bekerja sampai lupa pada anak nya."
Bela menghela nafas panjang. "Kamu masih kecil tidak mengerti dengan hal seperti itu, jangan berbicara tentang itu lagi sekarang kamu ceritakan tentang sekolah mu saja."
"Tidak ada komentar yang bisa di ceritakan mbak, tidak ada yang menarik."
__ADS_1
"Loh kok gitu sih? sebentar lagi kamu akan berpisah dengan teman-teman mu." ucap Bela.