Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 169


__ADS_3

"Huff katakan saja Kalau sebenarnya Tante ingin bertemu dengan nya, namun karena gengsi dan malu Tante tidak berani."


"Kata siapa? aku sudah memutuskan hubungan dengan nya."


"Kalau seperti ini terus kapan Tante akan menikah? Apa karena perkataan orang lain yang menjatuhkan harga diri Fahri membuat Tante tidak suka?"


"Fahri adalah pria yang baik, dia pintar, bijaksana, tanggung jawab."


"Pria seperti ini sangat sulit di cari," ucap Dimas.


"Hanya karena rasa cemburu, Tante marah dan mengatakan hal-hal yang menyakiti perasaan nya."


"Jadi kamu membela nya?" tanya Kayla. Dimas menggeleng kan kepala nya. "Siapa bilang, aku membela nya, hanya saja. Pria mana yang tidak sakit hati ketika di hina oleh perempuan Tentang pekerjaan dan juga latar belakang nya.


"Tapi aku terlanjur kesal."


"Tante ingin memuaskan semua orang sehingga langsung memutuskan hubungan dengan Fahri?"


"Bukan seperti itu."


"Aku tau sebenarnya Tante malu memiliki pacar seperti Fahri karena dia jauh di bawah Tante kan?"


Kayla terdiam. "Tapi apakah itu penting? Apakah selama ini Tante tidak bisa melihat kalau Fahri itu anak yang sangat giat?"


"Dia akan melakukan apapun itu asalkan dia bisa berhasil."


"Kalau Tante benar ingin putus dengan Fahri, aku akan mengutus nya keluar provinsi untuk mengurus perusahaan di sana."


Kayla hanya diam saja.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai treatment. Dimas dan Kayla mencari tempat minum sebelum pulang.


"Sudah lah Tante, sebaik nya Tante dan Fahri Membicarakan jalan keluar nya seperti apa, untuk apa memikirkan perkataan orang lain?"


"Bagaimana kalau keluarga kita banyak yang tidak setuju?"


"Kita yang akan menjalani nya, kita sudah tau pasangan kita seperti apa," ucap Dimas.


"Kamu benar sih, hanya saja..."


"Sebaik nya Tante berbaikan dengan Fahri, bukan hanya Tante saja yang merasa kesal dengan permasalahan konyol seperti ini, dia juga jauh lebih kesal."


Kayla hanya diam saja. "Oh iya aku juga harus mengatakan kepada Tante kalau aku dengan Bela mau menikah, dan aku ingin membawa dia bertemu dengan semua keluarga kita."


"Aku akan memperkenalkan dia kepada keluarga kita."


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu itu?" tanya Kayla.


"Ini pasti akan sangat sulit, tapi aku akan terus berjuang."


Kayla memegang tangan Dimas. "Aku percaya sama kamu Dimas, kamu adalah pria yang Cerdas, semoga kamu bisa menyakinkan keluarga kita."

__ADS_1


Dimas tersenyum sambil mengangguk. "Bagaimana dengan tunangannya?"


"Tidak perlu tunangan Tante, karena aku sudah melamar Bela.


"Ya sudah kalau begitu, Tante akan mendukung mu, apa perlu Tante ikut untuk mendampingi kamu?"


"Tidak perlu Tante, aku sangat berterimakasih tapi ini saat nya aku menghadapi keluarga kita sendiri."


Kayla tersenyum. "Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita langsung pulang, ini sudah mau gelap."


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah namun ternyata Fahri belum pulang.


"Menunggu Fahri yah Tante?" tanya Dimas.


"Fahri hari ini tidak kembali ke sini karena dia lebih nyaman di apartemen nya."


"Ya sudah kalau begitu, aku istirahat dulu, Tante jangan lupa istirahat."


"Apa dia sengaja menghindari ku, aku benar-benar sangat kesal," ucap Kayla.


"Tapi sebelumnya aku lah yang mengatakan nya agar tidak perlu kembali ke rumah ini dan aku tidak mau melihat nya," ucap Kayla.


Dia duduk termenung, "Aku sangat merindukan nya sekarang," akhirnya Kayla mengakui nya juga.


"Apa aku terlalu egois? Setelah di pikir-pikir ternyata aku benar-benar sangat egois memikirkan diri sendiri tampa memikirkan perasaan pasangan ku sendiri.


"Sudah lah aku sebaiknya jangan memikirkan itu, aku akan menemui nya besok," ucap Kayla.


"Non Bela, Kenapa pagi-pagi non Bela ke sini?" tanya Bibik kaget.


Bela mengatakan niat nya. Bibik membawa nya masuk ke dalam. "Kak Dimas dimana yah Bik?" tanya Bela.


"Tuan Dimas masih tidur Non," ucap Bibik. "Kalau begitu aku akan memeriksa nya Bik."


Bibik mengangguk, Bela berjalan ke arah kamar Dimas.


Sebelum masuk dia mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun tidak ada jawaban bela langsung masuk saja.


"Loh, kok gak ada sih?" tanya Bela tidak melihat Dimas di atas tempat tidur.


Bela mendengar suara pintu kamar mandi.


Dimas kaget melihat Bela yang sudah ada di dalam kamar nya.


"Kamu sudah datang? Apa kamu sudah lama menunggu ku?" tanya Dimas.


"Aku baru saja sampai," ucap Bela.


"Kenapa kamu di kamar ku? Apa kamu sudah tidak sabar mau bertemu dengan keluarga ku? Atau kamu merindukan ku?" tanya Dimas.


"Berhenti main-main deh kak, aku serius. Aku ke sini karena berfikir kakak belum bangun. Aku sudah sangat gugup dan tidak bisa tenang dari kemarin."

__ADS_1


Dimas tersenyum.


"Baiklah-baiklah, tidak perlu marah-marah seperti itu, aku akan pakai baju karena aku tidak sabar lagi."


Dimas melihat ke arah Bela. "Ada apa?" tanya Bela.


"Mau sampai kapan kamu akan berdiri di situ? Apa kamu mau melihat aku pakai baju?"


Bela langsung keluar. Dimas tersenyum lepas.


Bela keluar dari kamar dia melihat Kayla ternyata sudah bangun.


"Bela, kamu di sini?" tanya Kayla. Bela mengangguk.


"Dimas sudah ngomong kemarin, semoga semua urusan kalian di Perlancar yah," ucap Kayla.


"Iyah mbak, terimakasih doa nya," ucap Bela.


Kayla Menatap wajah Bela.


"Pantesan saja sih, Fahri menyukai Bela dan Bela adalah cinta pertama nya walaupun aku adalah pacar pertama nya."


"Badan bagus, mungil, cantik, dan juga masih terlihat sangat muda."


"Apa yang sedang mbak pikirkan?" tanya Bela.


Kayla menatap Bela. "Aku ingin bertanya sesuatu kepada kamu, tapi kamu harus jawab dengan jujur."


Bela mengangguk. "Ada apa yah mbak?" tanya Bela .


"Apa benar sebelumnya kamu memiliki hubungan dengan Fahri?"


"Hubungan?" Bela menggeleng kan kepala nya.


"Jangan bohong Bela, aku tau sebenarnya Fahri pernah menyukai mu bukan?" ucap Kayla.


Bela mengingat tentang dulu. "Itu hanya sekedar hubungan seperti itu karena dulu kami cukup akrab mbak."


"Jadi benar kalian saling menyukai?"


"Tante.... Aku sudah mengatakan tidak ada hubungan di antara mereka berdua," ucap Dimas yang baru saja datang ke.


"Sudah lah, tidak perlu di bahas lagi," ucap Dimas.


Sebelum berangkat mereka sarapan terlebih dahulu, tidak beberapa lama Kayla pun pergi.


"Kak, apa kita harus berangkat sekarang? aku sangat gugup sekali," ucap Bela.


"Ayo berangkat jangan lama-lama, apa kamu mau ketinggalan pesawat?" tanya Dimas.


"Jangan ragu, kamu bersama ku, lagian Fahri sudah menunggu di depan."

__ADS_1


Bela mengangguk, sebelum berangkat dia membaca doa terlebih dahulu.


__ADS_2