
Satu bulan kemudian...
Bela dan Dimas sudah berpacaran satu bulan namun rasa canggung nya masih belum berkurang.
Hari ini Dimas berjanji akan membawa Bela menjemput Vira ke panti asuhan.
Bela sudah menunggu dari pagi sampai siang namun Dimas tak kunjung datang.
"Cie... cie... yang lagi nungguin kekasih pulang." ucap Bibik.
"Eh Bibik."
"Lagi nungguin Tuan Dimas pulang yah?" tanya Bibik.
"Iyah Bik, dia bilang akan datang sebelum siang mau mengajak ku menjemput Vira."
"Menjemput Vira anak yang di panti asuhan itu?" tanya Bibik karena mereka belum tau Vira pernah tinggal beberapa hari di rumah itu.
"Iyah Bik."
"Oohhhh." ucap Bibik seperti memikirkan sesuatu.
Tidak beberapa lama mobil Dimas datang. Bela tersenyum melihat Dimas datang.
"Bik aku berangkat dulu yah."
"Iyah hati-hati."
Dimas dan Bela berangkat ke panti asuhan bersama.
"Maaf yah sudah buat kamu lama nungguin nya." ucap Dimas.
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Tidak apa-apa kak, hanya saja jangan berjanji akan datang sebelum siang."
"Di kantor Tiba-tiba ada pekerjaan mendadak, saya benar-benar minta maaf."
"Ya sudah tidak apa-apa."
"Saya sangat lapar, kamu juga pasti belum makan siang, bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu?"
Bela mengangguk. Sebelum ke panti mereka makan terlebih dahulu.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di panti asuhan.
Seperti biasa siang hari anak-anak masih pada belajar di kelas masing-masing.
"Vira seperti nya belum keluar dari kelas nya, aku sangat merindukan dia kak."
"Kamu yang sabar, sini duduk dulu."
Ketua yayasan datang.
"Selamat siang pak Dimas, mbak." sapa Ketua yayasan.
"Selamat siang Bu," jawab mereka berdua.
"Kenapa Bapak datang tidak mengabari kami terlebih dahulu? Seharusnya bilang terlebih dahulu karena sekarang Vira sedang di luar."
__ADS_1
"Vira di luar? Kenapa?" tanya Dimas.
"Iyah Pak, Vira keluar bersama orang tua yang mau mengasuh nya."
"Loh kenapa bisa Bu? bukan nya sebelum nya saya sudah mengatakan kalau Vira tidak bisa di berikan kepada orang lain?" ucap Dimas.
"Pak Dimas jangan marah terlebih dahulu, ini sudah peraturan yayasan kalau sudah ada yang melengkapi persyaratan anak bisa di bawa."
"Tidak bisa seperti ini dong Bu, kalian tidak memegang janji kalau seperti ini!"
"Saya tidak mau tau sekarang Vira bawa kembali ke sini, siapa yang berani memberikan nya kepada orang lain begitu saja?" ucap Dimas.
"Pak sebaiknya kita bicarakan ini dengan baik-baik."
"Tidak bisa! Saya ingin Vira kembali ke sini sekarang."
Bela berusaha menenangkan Dimas.
pengurus lainnya berusaha menghubungi orang tua yang membawa Vira keluar.
Namun mereka tidak bisa di hubungi membuat Dimas semakin marah.
Tidak bisa menahan emosi Dimas membahas semua nya kepada mereka. Dia tidak perduli peraturan yang ada.
"Saya bisa menjamin kehidupan Vira lebih baik ke depannya bukan seperti di panti asuhan ini, namun kenapa kalian tidak memberikan hak asuh kepada saya?"
"Bukan seperti itu pak."
"Saya akan menuntut kalian kalau tidak membawa Vira kembali ke sini sekarang juga."
"Kak tenang juga, tenang, Vira pasti pulang."
Bela sangat takut dia memilih untuk diam.
Dia melihat Dimas menunggu di depan.
"Kenapa Vira sangat berarti sekali di kehidupan kak Dimas? Apa ada hubungan lain?" tanya Bela bertanya-tanya.
Sejujurnya Bela juga tidak ingin Vira di ambil oleh orang lain, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kak Bela, ajarin aku dong." ucap anak perempuan teman Vira.
"Eh Kamu cantik, bagaimana kabar kamu di sini?" tanya Bela.
"Baik Kak."
"Bagaimana dengan Vira?" tanya Bela.
"Humm Vira baik-baik saja kak, hanya saja dia selalu bertanya kapan Om Dimas dan kak Bela datang menjemput nya lagi," ucap Bela.
Bela terdiam sejenak.
"Sebenarnya Vira tidak mau di asuh oleh orang tua yang membawa nya, namun mereka memaksa untuk membawa Vira."
Namun tidak beberapa lama Vira datang dan keluar dari mobil mewah.
Mobil yang benar-benar sangat tidak asing bagi Dimas namun dia tidak ingat, melihat Vira berlari ke arah nya sudah membuat perasaan nya lega.
"Om Dimas kenapa baru datang? aku sangat merindukan Om."
__ADS_1
"Kamu dari mana saja sayang? Kenapa kamu pergi dengan orang lain?"
"Mereka adalah orang yang mau mengadopsi aku."
Dimas melihat sepasang suami istri yang mendatangi nya.
Mobil nya tidak asing namun orang itu benar-benar sangat asing di mata Dimas.
"Apa benar kalian yang akan mengadopsi Vira?" tanya Dimas.
"Iyah pak, kami sangat suka kepada Vira, kami sudah lama tidak memiliki anak."
"Pak, Bu, untuk sekarang kami seperti nya menunda untuk persetujuan hal adopsi ini, kami akan mengabari ibu dengan bapak selanjutnya."
"Baiklah Bu." Mereka di ijinkan untuk pergi.
"Apa kalian tau siapa sepasang suami istri itu? Apa secepat itu kalian percaya kepada orang lain?" tanya Dimas.
Mereka semua meminta maaf.
Dimas tidak bisa lama-lama di sana dia membawa Vira seperti perjanjian sebelumnya.
Selama perjalanan pulang Bela tidak mengatakan apapun karena Dimas hanya diam saja, dia masih terlihat sangat marah karena kejadian itu.
"Mbak aku sangat merindukan mbak, kenapa mbak tidak datang menemui aku?" tanya Vira yang duduk di pangkuan Bela.
"Mbak tidak bisa datang sendiri tanpa om Dimas, mbak harus menunggu Om Dimas."
"Om Dimas Sibuk yah? Maaf yah karena aku Om jadi capek datang menjemput ku."
Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Tidak apa-apa sayang." Dimas mengeluarkan kepala Vira dan setelah itu fokus ke jalan lagi.
"Mobil itu sangat tidak asing, aku sudah beberapa kali melihat mobil itu di saat ada berita anak buah atau orang itu ke daerah sini."
memaksudkan pembunuh Orang tua nya.
Dan yang membuat dia bingung karena tidak jelas ingat mobil yang dia lihat sebelumnya.
Hanya dua angka yang dia ingat.
Berusaha untuk mencari tau butuh waktu satu hari, dia harus sabar menunggu itu.
Sesampainya di rumah Bela, Vira dan yang lain nya makan bersama sementara Dimas langsung istirahat.
Bela dan Vira masuk ke kamar ternyata Dimas sudah tidur di sofa.
"Kenapa dia malah tidur di sofa?" batin Bela.
Dimas menyadari mereka masuk ke dalam.
"Tidur lah di kasur agar Vira bisa tidur dengan nyenyak, jangan ganggu saya karena saya sangat lelah."
Bela mengangguk.
"Ayo kita tidur sayang, besok kamu harus bangun pagi karena mbak mau menunjukkan sesuatu."
Vira mengangguk.
__ADS_1