
"Apa yang Bapak bicarakan dengan baik Serli? kenapa kelihatan nya sangat senang sekali?" tanya Bela.
Dimas melihat ke arah sekitar mereka.
"Bapak mau ngapain? Jangan aneh-aneh karena di sini sangat banyak orang"
"Saya a tidak melakukan apapun kenapa kamu begitu negatif kepada saya?"
"Bapak makan lah, Makanan sudah selesai, jangan marah lagi karena Bapak yang rugi sendiri tidak mencicipi masakan ku."
"Kamu menyindir saya?"
Bela langsung pergi ke dapur meninggalkan Dimas.
"Sebenarnya sangat sepi kalau Fahri tidak ada di sini, namun hari ini perhatian Bela full kepada ku." ucap Dimas.
Berhari-hari Dimas menikmati hari menggoda Bela sepanjang waktu ketika sudah di rumah, dia sangat ingin cepat pulang ketika berada di kantor.
Dia sungguh tidak sabar bertemu Bela.
Orang yang ada di rumah belum menyadari kalau hubungan Bela dengan Dimas sudah membaik, Bela bersifat biasa saja ketika di depan semua orang begitu juga dengan Dimas.
Mereka berdua sama-sama malu harus menunjukkan kedekatan mereka sekarang.
Sementara di tempat lain Fahri sedang duduk sendiri di depan TV.
"Apartemen ini sangat membosankan sekali, selama dua Minggu aku tinggal di sini, tidak ada tanda-tanda aku betah tinggal di sini, aku sangat merindukan rumah tuan Dimas dan juga Bela." ucap Fahri sambil merengek.
"Bela kenapa kamu sama sekali tidak datang ke sini? apa dia tidak merindukan aku?" tanya Fahri.
"Tapi mana mungkin bela datang ke sini, tuan Dimas akan sangat marah kalau dia keluar, percuma saja aku berharap di datang ke sini." ucap Fahri.
Keesokan harinya..
"Selamat pagi Bela.." sapa Dimas melihat Bela yang sedang santai duduk di meja makan.
Bela melihat ke arah sekitar.
"Tumben banget bapak cepat bangun?" tanya Kania.
"Saya sudah janji hari ini bakalan bantuin kamu masak."
"Jangan aneh-aneh deh pak, nanti kalau ada yang lihat mereka akan berfikir aneh-aneh."
"Biarkan saja, bukan kah lebih baik jika mereka berfikir kita mempunyai hubungan?"
Bela menghela nafas panjang.
"Huff saya tidak tau sampai kapan kamu akan menolak saya, namun saya tidak akan pernah menyerah, kamu akan segera menjadi kekasih saya."
"Tuan.." ucap Bibik yang sudah bangun, Dimas yang berdiri sangat dekat dengan Bela langsung menghindar dan memasang wajah datar.
"Kenapa Tuan bangun sangat cepat? Bukan kah hari ini Tuan tidak ke kantor?"
"Saya ingin bangun pagi mau olahraga." jawab Dimas.
__ADS_1
"Oohh begitu yah Pak, ya sudah kalau begitu saya ke dapur dulu." ucap Bibik.
"Setelah alasan mau bantu masak, sekarang mau olahraga, yang benar mana sih pak?" tanya Bela sindir nya dengan pelan.
Dimas menatap gemas kepada Bela.
"Kamu ikut lah dengan saya olahraga."
"Tapi Tuan."
"Tidak ada tapi-tapian, kamu harus ikut dengan saya."
Bela sebenarnya sangat malas, namun Bibik juga meminta Bela untuk tetap pergi.
"Huff aku sangat malas sekali mau pergi." ucap Bela.
"Calon pacar saya harus sehat."
"Siapa juga yang mau jadi pacar Bapak?"
"Sstt!!!!!" Dimas memasang wajah kesal.
"Baiklah pak."
"Nah gitu dong anak baik."
Mereka pun segera berangkat menuju tempat lari pagi tadi enak.
"Wahh tempat ini bagus banget." ucap Bela setelah sampai.
Namun baru beberapa meter berlari dia sudah sangat lelah, Dimas membeli minum dan memberikan nya kepada Bela.
"Masih kuat?" tanya Dimas, Bela tersenyum melihat perhatian dan kesabaran Dimas kepada nya akhir-akhir ini.
"Aku pasti bisa. Aku juga harus sehat," batin nya.
Mereka mulai berlari kecil-kecil, Dimas yang terus mencari perhatian Bela membuat Bela letih, namun dia terus lanjut.
Semua wanita-wanita yang melihat Dimas sangat romantis kepada Bela mereka sangat cemburu.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai, Bela sangat lelah dia berbaring di rumput sambil menutup mata nya menarik nafas dalam-dalam.
Dimas juga ikut berbaring di samping Bela.
"Kamu tau, saya tidak berfikir kalau kamu memiliki tenaga yang lebih kuat dari saya."
Bela tersenyum.
"Aku sangat tidak suka olahraga. Tapi hari ini aku suka."
"Apa karena ada saya?" Tanya Dimas dengan percaya diri nya.
Bela menggeleng kan kepala nya, Dimas seketika langsung memasang wajah cemberut.
"Huff kamu membuat mood saya hilang Saja." ucap Dimas.
__ADS_1
Bela tersenyum.
"Kalau bukan karena bapak, lalu siapa lagi?" batin Bela.
Dimas melihat mata hari yang sangat silau, Dimas menutupi nya dengan tangan nya, Bela membuka mata nya dia sangat kaget karena wajah nya dengan Dimas sangat berdekatan sekali.
"Kamu sangat cantik sekali." ucap Dimas.
Bela tersipu malu dia langsung duduk.
"sebaik nya kita pulang saja pak, matahari juga sudah sangat panas."
"Tunggu Bela, kenapa kamu meninggal kan saya? Apa kamu malu? Kenapa kamu malu?" tanya Dimas sambil mengejar Bela.
Bela tidak berhenti dia terus berjalan sampai ke arah mobil.
Dimas mau masuk ke dalam mobil menyusul Bela namun seseorang memanggil nya.
"Kak Dimas kan?" tanya wanita cantik yang seperti nya baru juga olahraga.
"Iyah saya Dimas, kenapa yah?"
"Kenalin saya Putri pak, saya sangat mengidolakan Bapak."
Dimas yang tidak bisa menolak gadis cantik dia langsung menerima perkenalan wanita itu, dia berbicara cukup lama dan sangat akrab dengan wanita itu membuat nya betah cukup lama bersama wanita itu.
"Siapa wanita itu? Kenapa begitu akrab dengan pak Dimas? Apa dia wanita baru pak Dimas?"
Bela sudah sangat membutuhkan melihat Dimas bersama perempuan itu.
"Huff aku rasa semua perempuan yang mendekati pak Dimas di tanggapi oleh pak Dimas." batin Bela.
Tidak beberapa lama Dimas masuk ke dalam mobil dia melihat Bela yang hanya diam saja sambil membaca buku yang di dalam mobil.
"Maaf yah saya membuat kamu lama menunggu," bela tidak menjawab nya.
"Kita pulang yah, saya sudah berkeringat sekali."
"Huff aku rasa Bapak sangat akrab dengan wanita yang baru saja di kenal." ucap Bela.
Dimas menoleh ke arah Bela.
"Itu tadi adalah teman lama saya di kampus, kebetulan dia sangat mengidolakan saya."
"Apa iya? aku pikir tidak hanya mengidolakan, seperti nya juga menyukai." ucap Bela.
Dimas tersenyum tipis dia melihat ke arah Bela.
"Apa kamu sedang cemburu? saya baru melihat kamu cemburu seperti ini."
"Siapa yang cemburu? Aku tidak berhak untuk cemburu." ucap Bela.
Dimas melihat wajah Bela yang cemberut.
"Kamu membaca buku nya terbalik." ucap Dimas sambil membenarkan buku yang di tangan Bela.
__ADS_1
"Aku bisa membaca buku terbalik." ucap Bela membuat Dimas terdiam.