
"Saya tidak tenang bik, bagaimana kalau ternyata dia dalam dia kenapa-napa."
"Tuan selalu seperti ini setiap hari Non, kita tidak bisa melakukan apapun."
"Huff padahal akhir-akhir ini Dimas sudah terlihat bahagia, namun sekarang dia kembali mengurung diri." ucap Kayla.
"Oh iya Non, hari ini adalah keputusan bersama tahun Pak Irfan di hukum."
"Apa sebaik nya saya pergi bik?" tanya Kayla.
"Saya akan mengantar mbak ke sana," ucap Fahri Dengan senang hati menawarkan diri.
Kayla menatap Fahri. "Saya belum memutuskan untuk pergi atau tidak."
"Apa mbak tidak penasaran berapa tahun pak Irfan di hukum?" tanya Fahri.
Kayla menggeleng kan kepala nya.
"Aku yakin dia akan di hukum sesuai dengan kesalahan nya," ucap Kayla.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi sendiri."
"Tunggu dulu!" Kayla menahan Fahri.
"Saya ingin sekali bertemu dengan pembunuh itu sebelum dia di tetapkan di penjara. Tapi bagaimana dengan Dimas?"
"Ada apa dengan Tuan Dimas?" tanya Fahri.
"Dimas dari pagi tadi belum keluar sama sekali, aku sangat mengkhawatirkan dia," ucap Kayla.
"Seperti biasa Tuan Dimas akan keluar kalau dia sudah lelah di dalam kamar nya," ucap Fahri.
"Kamu selalu saja berbicara seperti itu, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan keponakan saya."
"Tuan Dimas terkenal Kejam, dia memiliki badan yang kuat tidak mungkin dia mati hanya karena di dalam kamar seharian."
"Fahri aku serius!"
Fahri menghela nafas panjang.
"Oke baiklah-baiklah, aku juga akan serius. Mungkin Tuan Dimas memiliki masalah lagi dengan Bela."
"Huff seberapa penting nya Bela bagi Dimas sehingga dia menjadi seperti ini?" tanya Kayla.
"Ya ibarat nya Bela itu adalah dunia tuan Dimas, sama seperti mbak yang sudah menjadi Dunia saya."
"Fahri kamu bisa sopan gak? Kamu akan saya adukan ke Dimas."
"Saya hanya bercanda mbak, lagian mana mungkin mbak mau sama pengawal yang muda seperti saya," ucap Fahri.
Fahri tiba-tiba menjadi pria yang banyak bicara ketika bersama Kayla yang selalu di anggap lucu oleh Fahri ketika dia kesal.
"Baiklah aku akan pergi. Tunggu sebentar aku akan siap-siap," ucap Kayla.
Fahri mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Fahri kenapa sifat kamu seperti itu kenapa non Kayla?" tanya Bibik.
"Kenapa bik? Bukan kah kami terlihat akrab kalau seperti itu?" tanya Fahri.
"Fahri jangan seperti itu kepada non Kayla."
"Baiklah bik, aku hanya bercanda saja agar mbak Kayla tidak ikut sedih karena melihat tuan Dimas."
"Ya sudah kalau begitu, berangkat lah."
Hari ini Bela juga datang ke pengadilan untuk menyaksikan keputusan pengadilan.
Walaupun hati yang sangat hancur dia tetap berangkat untuk melihat nya.
Tidak sengaja dia melihat Kayla bersama Fahri. Bela membungkuk kan badan nya kepada Kayla, namun Kayla mengabaikan dan masuk ke dalam.
"Sudah tidak perlu di hiraukan. Kamu datang sendirian?" tanya Fahri.
"Iyah, aku tidak mungkin membawa Vira," ucap Bela.
"Ya sudah kalau begitu ayo masuk ke dalam."
Mereka masuk ke dalam dan menunggu tahanan di bawa ke ruangan itu.
Dari kejauhan Bela melihat Ayah nya sudah tidak terurus sama sekali.
"Bebas kan Ayah nak, ayah tidak ingin di sini," ucap pak Irfan kepada Bela.
Namun Bela tidak bisa mengatakan apapun dia hanya diam menahan air mata nya.
Mendengar itu Bela menjadi sangat lemas, Fahri yang duduk di samping nya berusaha menguat kan Bela.
Pak Irfan tidak terima dia berontak dan masih menyalah kan almarhum yang bersalah karena sudah berselingkuh dengan istri nya.
Namun secepatnya tahanan di bawa kembali ke dalam.
"Kamu yang sabar yah Bela, kamu pasti kuat," ucap Fahri.
Kayla melihat Fahri yang sangat perhatian dan perduli kepada Bela. Dia tidak mengatakan apapun namun langsung pergi menunggu di dalam mobil.
Tidak beberapa lama Fahri datang masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana keadaan Bela?" tanya Kayla.
"Dia sangat terpukul."
"Dia pantas mendapatkan itu," ucap Kayla.
"Bela tidak salah apa-apa, dia hanya menjadi korban."
"Keluarga ku lah yang menjadi korban."
"Tapi Bela tidak bersalah."
"Dia sudah membuat Dimas seperti sekarang, apa dia masih belum bersalah?" tanya Kayla.
__ADS_1
Fahri menghela nafas panjang.
"Kenapa? Kamu tidak terima aku menyalah kan Bela? Apa karena kamu menyukai dia?" tanya Kayla.
Fahri tidak bisa menjawab dia memilih untuk diam.
"Sudah jangan membahas itu lagi, sebaiknya kita pulang saja," ucap Fahri.
Bela menghampiri Ayahnya yang sudah di dalam jeruji besi.
"Untuk apa kamu ke sini? Pergi dari sini, kamu sama sekali tidak bisa di andalkan dasar anak yang tidak berguna!" ucap pak Irfan.
Bela menangis mendengar itu. Dia mendekati Ayah nya.
"Maaf kan aku ayah, aku tidak bisa melakukan apapun untuk ayah."
"Percuma saja saya memiliki anak yang bodoh seperti kamu! Pergi dari sini!"
"Ayah, aku anak Ayah. Aku tidak menginginkan semua nya terjadi seperti ini."
"Kalau bukan karena kamu dan ibu mu yang tidak berguna itu, saya tidak akan ada di sini!"
"Ayah seharusnya harus menyadari kesalahan ayah," ucap Bela.
"Bukan Ayah yang salah! Tapi Pria itu, pria itu ingin merebut ibu mu dari ayah!"
Bela terdiam dia melihat Ayah nya dalam keadaan emosi dia tidak bisa mengajak nya berbicara akhirnya dia memilih keluar dan pergi dari sana.
Bela meninggalkan kantor pengadilan dan menemui ibu nya yang sudah di jeruji besi dan di tetapkan satu tahun penjara.
"Bagaimana kabar ibu?" tanya Bela.
Dia melihat badan ibu nya yang sangat kurus sekali.
"Seperti yang kamu lihat nak. Di sini sangat tidak nyaman.. Tapi jika di bandingkan dengan rumah sakit, di sini jauh lebih nyaman karena ibu tidak perlu merasakan sakit dan takut."
Bela terdiam. "Bagaimana dengan Ayah mu?" tanya Ibu nya.
"Ayah di tetapkan di dalam penjara seumur hidup Bu,"
"Dia pantas mendapatkan nya," ucap Bu Sisi.
Bela menatap wajah ibu nya.
"Bu apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Bela.
"Tanyakan saja, apa yang ingin kamu tanyakan nak." ucap bu Sisi.
Bela sedikit ragu untuk menanyakan nya, namun dia sangat penasaran dengan kebenaran nya.
Tapi melihat keadaan ibu nya dia harus mempertimbangkan pertanyaan nya itu.
"Kenapa kamu diam? Selagi ibu bisa menjawab ibu akan menjawab nya."
"Ibu tidak akan marah kan, kalau aku bertanya hal ini?" tanya Bela. Bu Sisi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apakah yang di katakan Ayah tentang perselingkuhan itu benar?" tanya Bela.