Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 29


__ADS_3

"Bapak dari mana? kenapa Bapak tidak membangun kan saya?"


Bela lagi-lagi sangat suka melihat wajah Bela yang ketakutan karena pemikiran nya sendiri.


"Om Dimas..." ucap Vira datang bersama ketua yayasan.


"Loh Ibu." Bela mengingat perempuan yang datang bersama Vira.


Ibu itu tersenyum kepada Bela yang kebingungan.


"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu yah Bu," ucap Dimas.


"Baiklah Pak, saya menitipkan Vira kepada Bapak,"


Bela melihat anak perempuan yang ada di lukisan itu.


"Hore akhirnya aku ikut sama Om Dimas," ucap anak itu bersorak sangat senang sekali.


Dimas membawa Vira pulang ke rumah nya.


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun, Bela juga tidak berani banyak tanya di tambah lagi badan nya yang semakin malam semakin lemas.


Dimas mengingat beberapa jam yang lalu di panti asuhan.


Panti asuhan akan di gusur oleh salah satu perusahan yang sudah berhasil membeli tanah itu.


Karena panti itu tidak memiliki dana untuk membayar tanah itu ke perusahaan tersebut akhirnya mereka meminta tolong kepada Dimas.


Dimas tidak mau awal nya menolong mereka karena Dana nya cukup tinggi.


Namun ketua yayasan menyerahkan panti asuhan kepada Dimas karena dia percaya Dimas akan membantu mereka.


Melihat anak-anak yang masih kecil-kecil membuat nya tidak tega di tambah lagi Vira yang memohon bantuan Dimas.


Dimas akhirnya mau dengan syarat dia bisa membawa Vira keluar dari panti kapan pun dia mau dan mengembalikan Vira ketika Vira sekolah.


Guru-guru sangat keberatan karena tidak semudah itu membiarkan anak-anak di bawa keluar oleh orang lain.


Namun demi memperjuangkan panti itu akhirnya mereka setuju dengan satu syarat jangan sampai yayasan lain dan pengurus-pengurus lain tau.


Dimas cukup curiga Kenapa para pengurus panti membuat peraturan yang cukup ketat kepada Vira berbeda dengan anak-anak yang lain.


Mereka hanya membuat alasan karena Vira memiliki keistimewaan dan juga Vira anak yang sangat cantik dan pintar siapapun menginginkan nya.


Alasan mereka cukup masuk anak, Dimas menginyakan saja asal kan sekarang Vira menjadi milik nya.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.


"Kita sudah sampai, ayo turun," ajak Dimas.


Namun ternyata Bela sudah tidur dan juga Vira tidur di belakang.


Wajar saja mereka tidur karena sudah jam dua malam.


Dimas menatap wajah Bela dan Vira.


"Apapun yang terjadi aku akan menemukan orang tua kalian dan membalas kan kejahatan yang sudah dia buat."


Dimas menyentuh pipi Bela.


"Kenapa semakin ke sini saya tidak tega memperalat kamu dan Vira? ada apa dengan saya?" batin Dimas.


"Cepat lah sembuh saya tidak tau harus bagaimana kalau kamu sakit seperti ini," ucap Dimas.

__ADS_1


"Hummm" Bela bergeliat.


Dimas mendekati wajah Bela.


"Sial apa yang mau aku lakukan? Jangan gila Dimas."


Dimas langsung membangun kan Bela.


"Hei bangun lah kita sudah sampai."


Bela langsung bangun dia membuka mata nya menatap Dimas.


Bela langsung melihat ke belakang.


"Kamu bisa jalan sendiri kan? Saya akan menggendong Vira ke dalam."


Sampai di kamar Bela langsung membaringkan badannya di tempat tidur Dimas.


Dimas juga membaringkan Vira di samping Bela.


Dimas diam-diam mengambil foto mereka berdua ketika lagi tidur.


"Sangat cantik."


Bela tiba-tiba bangun karena batuk, Dimas mengambil air dan juga obat.


"Terimakasih banyak Pak, saya sudah merepotkan Bapak," ucap Bela menatap wajah Dimas.


"Cepat lah sembuh."


Bela mengangguk.


"Saya tidak suka sakit Pak, tapi saya sangat suka karena ini pertama kali saya sakit di perduli kan seperti ini."


"Saya tidak memperdulikan kamu."


"Ketika Bapak memasang wajah kalem dan berbicara dengan nada lembut aku sangat suka."


"Emang biasanya saya berbicara seperti apa?"


"Bapak selalu memasang wajah dingin, bapak selalu menatap tajam dan marah kepada ku. Ketika berbicara denganku Bapak akan meninggikan suara membuat aku selalu takut."


Dimas diam mendengar Bela jujur dengan sifat asli nya.


"Aku selalu berfikir Bapak memiliki dendam kepadaku, namun setelah aku ingat aku tidak pernah bertemu dengan Bapak sebelum nya bahkan tidak pernah membuat kesalahan yang sangat fatal."


"Bukan kamu, tapi orang tua mu yang membuat aku seperti ini Bela. Dia membuat kehidupan ku dan kehidupan mu berantakan," ucap Dimas dalam hati.


"Kamu terlalu banyak berbicara tidur lah."


Bela menoleh ke arah Vira.


"Kenapa Bapak membawa anak cantik ini ke sini? Bagaimana kalau dia menangis?" tanya Bela.


"Dia sudah cukup dekat dengan saya."


"Apa ini yang Bapak bilang anak Bapak itu?"


Dimas mengangguk.


"Humm pantesan saja Bapak membawa nya pulang dia sangat cantik dan juga tidak rewel,"


Bela melihat sofa.

__ADS_1


"Bapak istirahat lah, aku akan kembali ke sofa."


Dimas menahan Bela.


Bela kaget karena Dimas memegang tangan nya.


Dimas tidak mengatakan apapun dia mendorong perlahan badan Bela untuk tidur di tempat tidur.


Perlahan lampu mati dan tidak beberapa lama Bela tidur.


Setelah Bela tidur Dimas keluar dari kamar itu entah kemana.


Keesokan paginya..


"Kenapa kamu bangun sangat pagi?" tanya Dimas yang baru saja bangun dan langsung ke bawah.


"Keadaan saya sudah membaik Pak, saya minta maaf merepotkan Bapak."


Dimas melihat Bela membawa kan susu hangat untuk nya.


"Apa Vira sudah bangun?"


"Belum Pak, seperti nya dia masih ngantuk."


"Buat kan lah untuk nya susu hangat setelah dia bangun."


"Bagaimana kalau dia tidak suka Pak? Awal nya Bapak juga tidak mau susu hangat karena tidak enak."


"Susu hangat buatan kamu e...." tiba-tiba terhenti.


"Buat kan saja, karena susu itu sehat untuk badan."


Bela mengangguk saja.


Dimas meletakkan tangan nya di dahi Bela.


"Badan mu belum sepenuhnya sembuh, minum lah obat agar sembuh total karena dalam sepuluh hari kamu yang akan bekerja sendiri."


Bela mengangguk.


"Om Dimas..." ucap Vira baru saja bangun dan turun langsung ke bawah.


"Kamu sudah bangun?"


Vira tersenyum sambil mengangguk.


"Selamat pagi om, selamat pagi Tante," sapa Vira.


Bela sangat gemas kepada Vira dan tersenyum.


"Jangan panggil Tante yah, panggil mbak aja karena mbak masih sangat muda tidak seperti orang yang kamu panggil Om," ucap Bela.


Dimas langsung menatap tajam, Bela langsung menutup mulut nya.


"Saya hanya bercanda Pak, saya tidak terbiasa di panggil Tante."


"Terserah kamu saja, sekarang buat kan sarapan."


"Mbak itu kekasih om kan? dia sangat cantik sekali dari pada di foto."


"Iyah, selama kamu tinggal di sini kamu akan tinggal bersama dia karena Om akan pergi kerja."


"Iyah Om," Vira mengangguk.

__ADS_1


Dimas tersenyum dan mengelus kepada Vira.


"Oh iya kamu sama mbak Bela jangan nakal yah, mbak Bela sedang sakit," Vira mengangguk lagi.


__ADS_2