
"Aku pinjam handphone mbak Bela om,"
"Ada apa kamu nelpon om? Apa kamu sakit lagi?"
"Aku sudah sehat om, aku hanya mau tau apa Om sudah makan siang?"
"Ini baru saja mau Makan, kamu sudah makan dan minum obat?"
"Sudah om, aku juga sangat suka sama masakan om pagi tadi walaupun sedikit asin."
Dimas tertawa mendengar nya. "Om janji akan masak lebih enak Besok untuk kamu yah," ucap Dimas.
"Sebaik nya kamu istirahat Vira, agar kamu cepat sembuh," ucap Dimas.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat gih," ucap Dimas dari balik telpon.
"Aku masih merindukan om Dimas."
"Sudah Vira, ayo matikan handphone nya."
"Om nanti datang lagi kan?"
"Hari ini om tidak bisa datang, bagaimana kalau besok malam saja?"
"Iyah Om gak apa-apa, aku tunggu ya Om." telpon nya langsung mati setelah Bela mengambil handphone nya.
Dimas menghela nafas berat. Serli menatap Dimas.
"Apa bapak baru saja menemui Vira?" tanya Serli.
Dimas mengangguk.
"Vira demam tinggi sehingga ingin bertemu dengan saya."
Serli duduk di depan Dimas. "Apa Bapak masih memiliki perasaan kepada Bela?" tanya Serli.
Dimas menatap Serli. "Huff tidak perlu di jawab, saya sudah tau Pak."
Dimas kembali diam lagi dan memasang wajah yang sangat lesu.
"Kalau begitu Bapak harus berjuang untuk mendapatkan hati Bela lagi."
"Tapi sekarang sudah berbeda Serli, semua orang bahkan menentang saya berhubungan dengan anak pembunuh orang tua saya sendiri."
Serli terdiam, dia tidak bisa mengatakan apapun karena yang di katakan oleh Dimas benar.
Keesokan harinya Bela berangkat ke kampus seperti biasa, Vira belum bisa ke sekolah karena Bela belum percaya dia sembuh total.
Bela meminta Bibik untuk datang menjaga nya.
"Bik, pinjam handphone Bibik."
Bibik memberikan handphone nya kepada Vira.
Vira menghubungi Dimas. Di tengah-tengah meeting tiba-tiba Serli datang membawa handphone Dimas.
"Pak, ada panggilan dari Vira."
__ADS_1
Dimas langsung pamit keluar menjawab telpon dari Vira.
"Halo, Vira.. Kenapa kamu menelpon om pagi-pagi?"
"Aku sangat bosan om, aku hari ini tidak sekolah, apa aku boleh ke tempat Om?"
"Jangan, nanti mbak Bela bisa marah."
"Aku sudah Ijin kepada mbak Bela."
Dimas tidak bisa melarang nya.
"Baiklah kalau begitu, Om akan meminta supir menjemput kamu ke sana."
"Non Vira kenapa mengatakan hal seperti itu? Bagaimana kalau Non Bela marah?"
Vira tidak menjawab nya dia langsung keluar, Bibik berusaha menghubungi Bela namun tidak di jawab.
Vira kabur masuk ke dalam mobil yang menunggu nya. Bibik menghela nafas panjang.
"Huff dia benar-benar sangat cerdik dan tidak bisa di larang sama sekali."
Vira sudah sampai di kantor Dimas. Serli langsung menyambut nya dan membawa ke ruangan Dimas.
"Om Dimas di mana Tante?" tanya Vira.
"Om di sini!" Dimas tiba-tiba datang dan memeluk Vira.
"Kamu sudah sehat?" Vira mengangguk.
Serli melihat Dimas memperlakukan Vira seperti adiknya sendiri bahkan lebih sudah terlihat seperti anak dengan ayah nya.
"Boleh Om."
"Apa saya boleh ikut pak?" tanya Serli. Dimas mengangguk.
Mereka pergi mencari makan siang yang tidak jauh dari perusahaan.
Vira terlihat sangat bahagia bersama Dimas sampai di sore hari tanpa memikirkan Bela yang sudah sangat kebingungan kenapa adik nya tidak di rumah.
Bibik juga tidak bisa di hubungi sama sekali. Namun tiba-tiba ada pesan masuk dari Bibik.
"Maaf non saya baru bisa mengabari, saya di kantor polisi karena tuan melakukan masalah dan Vira bersama pak Dimas."
"Bersama Dimas? Kenapa bisa?"
Bela langsung membuka handphone nya mencari nomor yang di telpon oleh Vira dan menelpon nya.
Dimas menatap Vira Yuniar yang tidur di Sofa ruangan nya mungkin karena kelelahan.
Handphone nya berdering dan langsung menjawab nya.
"Di mana Vira? Kenapa bapak membawa nya tidak ijin sama sekali kepada ku?"
"Bela, Vira bersama saya di sini."
"Di mana?"
__ADS_1
"Di kantor saya." Telpon langsung mati, satu jam kemudian Bela datang mendorong pintu Dimas dengan sangat kuat.
Dimas sangat kaget namun berusaha menenangkan Bela yang sangat marah karena Vira masih tidur.
"Kita bicara di luar."
"Tidak perlu! Aku akan membawa Vira."
Dimas menarik tangan Dimas keluar dari ruangan nya.
Bela langsung menepis tangan Dimas dari lengan nya.
"Berani-beraninya Bapak membawa Vira Tampa Ijin dari ku? Bagaimana kalau aku melaporkan Bapak?"
"Vira yang minta di jemput karena dia tidak sekolah dan sangat bosan, dia juga sudah bilang kalau kamu mengijinkan dia ke sini itu sebabnya supir saya menjemput dia."
Bela mendorong Dimas.
"Aku tidak pernah mengijinkan nya, Bapak sendiri kan yang mau mengambil nya dan memperalatnya lagi?".
"Bela kamu tenang dulu, ini bukan seperti yang kamu pikirkan."
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Kayla yang baru saja datang.
Bela melihat Tante Dimas datang. Dia tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam menggendong Vira dan pergi dari sana.
Dimas menghela nafas panjang.
"Dimas! Sampai kapan kamu akan berhubungan dengan mereka? aku sudah bilang agar berhenti berhubungan dengan mereka!"
Dimas tidak menjawab dia mengejar Bela.
"Biar saya bantu." ucap Dimas karena badan Vira sudah besar mau di gendong oleh Bela.
Dimas berjalan ke arah mobil Bela.
"Vira belum sembuh total, kalau bisa kamu harus menjaga pola makan nya dengan baik."
Bela tidak mengatakan apapun selain menatap Dimas dengan tatapan marah.
Bela meninggalkan perusahaan Dimas.
Tiba-tiba Vira bangun, dia kaget karena sudah bersama Bela.
"Om Dimas mana mbak? kenapa aku di sini? aku mau sama Om Dimas?"
"Jangan membuat mbak marah Vira! Kamu sudah cukup membuat mbak khawatir hari ini!"
Vira di bentak langsung nangis. "Berhenti menangis!"
"Pak Dimas tidak menyanyangi kamu, dia tidak ingin bersama kita, kenapa kamu terus mengganggu nya?" tanya Bela.
Vira hanya diam saja, ketika Bela marah. Seperti nya Bela benar-benar tidak bisa menahan amarah nya sehingga dia melampiaskan nya ke adik nya itu.
Di malam hari nya Dimas berbaring di kasur nya menatap langit-langit kamar nya.
"Maafin Om yah Vira, om tidak bisa menepati janji Om akan membawa kamu tinggal bersama Om setelah keluar dari panti asuhan."
__ADS_1
Di tempat Bela dia duduk di taman apartemen nya sambil melihat ke arah langit.
"Kenapa hidup ku harus seperti ini? Aku di kelilingi oleh uang namun aku sama sekali tidak bahagia, sangat banyak orang yang membenci ku termasuk diri ku sendiri karena kesalahan orang tua ku," ucap Bela sambil menangis.