Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 77


__ADS_3

Dimas mendengar itu memikirkan nya dia memutar kembali pikiran nya, namun tidak ada salah nya mendatangi wanita yang ikut di saat pak Irfan membunuh kedua orang tua nya.


"kalau begitu kita berangkat sekarang."


"Jangan sekarang pak, mereka semua pasti sedang berkeliaran mencari bapak, sebaik nya bapak melakukan pengobatan untuk luka-luka bapak dan istirahat karena keadaan bapak sangat buruk.


"Keadaan Bela sedang tidak baik-baik saja, bagaimana saya bisa istirahat. Dia yang membantu saya kabur."


Fahri terdiam sejenak.


"Walaupun Bela sudah melakukan kesalahan namun pak Dimas masih tetap memikirkan nya, seperti nya cinta mereka adalah cinta sejati," batin Fahri.


Di kediaman Pak Irfan Bela sudah sangat panik, dia sangat takut kalau dirinya ketahuan karena sudah malam Dimas tak kunjung kembali.


"Kenapa non Bela terlihat sangat khawatir? Apa yang sedang non Bela pikir kan?" tanya Bibik yang di tugas kan untuk mengawasi Bela dan juga Vira.


"Enggak bik, aku hanya memikirkan bagaimana keadaan Ibu sekarang di rumah sakit."


"Apa non mau pergi menjenguknya?" tanya Bibik. Bela mengangguk. "Baiklah kalau begitu saya akan membantu berbicara kepada Pak Irfan.


Keesokan harinya Dimas dan juga Rio serta Fahri sudah sampai di rumah sakit.


"Apa kau yakin ini adalah rumah sakit nya?" tanya Dimas kepada Rio.


"Iyah pak, Istri pak Irfan akan di pindahkan setiap dua bulan sekali."


"Kalau begitu kalian berjaga-jaga lah di luar."


"Apa Bapak tidak membawa ini?" tanya Rio menunjuk rekaman Cctv.


"Tidak perlu, saya takut kalau keadaan nya buruk setelah melihat itu, saya akan membawa album ini saja."


Dimas masuk ke dalam, ternyata ada pengawal yang berjaga di sana. Terpaksa Dimas berpura-pura menjadi seorang dokter tidak lupa memakai seragam dokter dari laundry.


Dimas melewati dua Pengawal itu dengan mudah. Setelah merasa bebas dia masuk ke ruangan istri pak Irfan.


Dia masuk ke ruangan seperti yang di periksa di bawah tadi.


Setelah masuk ke dalam dia melihat Bu Sisi tidur.


Ketika melihat wajah Bu Sisi membuat Dimas mengingat wajah ibu nya. Mereka adalah teman dan banyak orang bilang kalau mereka mirip.


Bu Sisi terbangun ketika merasa seseorang datang.

__ADS_1


Bu Sisi melihat pria yang bermasker di dekat nya menatap nya dengan tatapan campur aduk.


Dimas menurun kan masker nya, Bu Sisi tampak terkejut.


"Anda pasti mengingat saya bukan? Walaupun sudah bertahun-tahun saya rasa wajah saya tidak pernah berubah karena wajah saya sangat mirip kepada ayah saya ."


Bu Sisi menatap Dimas. "Tidak perlu khawatir Bu, saya tidak akan melakukan apapun kepada ibu."


Dimas duduk di kursi samping tempat tidur Dimas.


"Sudah sangat lama kita tidak bertemu, saya juga mendengar kabar ibu berbaring di rumah sakit sudah sangat lama setelah kematian orang tua saya."


"Kedatangan saya ke sini hanya ingin Ibu sembuh, saya sudah bertahun-tahun mencari bukti untuk membuktikan kalau pak Irfan adalah pembunuh orang tua saya. Dan sekarang saya tidak memiliki bukti yang begitu kuat."


"Saya tau ibu bisa merasakan apa yang saya rasakan saat ini, saya sangat butuh bantuan Ibu."


Dimas menangis di depan Bu Sisi.


"Saya ingin tau apa yang membuat pak Irfan membunuh orang tua saya, apa yang di lakukan kedua orang tua saya sehingga membuat orang tua saya meninggal dunia?"


Dimas menangis dan meletakkan kepala di sisi tempat tidur Bu Sisi.


"Saya mencintai Bela, anak pertama ibu yang sudah ibu titip kan di panti asuhan karena takut di bunuh oleh pak Irfan dan saya menyanyangi Vira anak kedua ibu yang juga ibu lahir kan diam-diam dan ibu titip kan di panti asuhan."


"Sekarang saya harus membuktikan kalau yang saya katakan benar kepada Bela agar dia kembali percaya kepada saya karena saya mencintai nya Bu, saya benar-benar mencintai Bela."


Bu Sisi berusaha menggerakkan tangan nya menyentuh kepala Dimas. Namun masih kurang kuat dia menggigit bibir nya dan mengangkat tangan nya.


Dimas sangat kaget dia langsung menatap Bu Sisi.


"Ibu bisa menggerakkan tangan ibu?" tanya Dimas kaget.


"Di-dimas, ka-kamu sudah dewasa sekarang," ucap Bu Sisi mengelus wajah Dimas.


Bela juga sangat terkejut mendengar suara ibu nya untuk pertama kalinya.


Namun dia masih ingin mendengar kelanjutan nya.


"Ibu Ingat saya? Ibu juga pasti ingat kejadian beberapa tahun lalu kan?"


"Pergilah ke rumah lama saya, saya menyimpan sesuatu di sana."


Dimas mengangguk.

__ADS_1


"Berhati-hati lah, jaga diri baik, setelah kamu bisa membuktikan nya masuk kan pria itu ke dalam penjara."


Dimas mengangguk. Setelah itu dia mohon diri, namun ketika Dimas keluar dia sangat terkejut melihat Bela di sana.


"Apa yang Kakak lakukan di sini?" tanya Bela.


"Bela, saya butuh kesempatan dari kamu, saya mohon agar kamu Sabar menunggu saya, saya akan segera membuktikan nya."


Bela memegang tangan Dimas.


"Hati-hati lah."


Dimas mencium kening Bela dan langsung pergi, Bu sisi melihat Dimas mencium Bela dia tersenyum karena dia bisa merasakan ketulusan Dimas.


"Ibu.." ucap Bela mendekati Bu Sisi.


"Mana adik kamu?" tanya Bu Sisi Sudah mulai lancar berbicara.


"Alhamdulillah ibu sudah bisa bicara, Vira tidak ikut karena dia tidak mau Bu."


"Ibu mohon jangan sampai Ayah kamu tau dengan keadaan ibu sekarang."


"Kenapa Bu? Bukan nya Ayah Akan senang kalau ibu sudah membaik."


Wajah Bu Sisi terlihat sangat ketakutan sekali.


"Jangan nak, Ayah kamu akan menyuntik dan memberikan obat ke tubuh ibu lagi."


"Jadi selama ini Ayah membuat ibu seperti ini?"


"Ayah kamu tidak ingin ibu menjadi saksi atas pembunuh orang tua Dimas."


"Jadi benar Ayah yang membunuh orang tua kak Dimas?" Bu Sisi mengangguk.


Bela menghela nafas panjang, dia tidak menyangka Kalau Ayah nya itu adalah pembunuh.


Dia menyesal sekali telah percaya dan memberikan bukti itu kepada ayahnya.


Sekarang dia membuat Dimas semakin kesulitan. "Ibu mohon kamu harus merahasiakan ini, ibu bisa seperti ini karena kamu juga nak, kamu yang tidak sengaja menjatuhkan obat ibu sehingga tidak ada stok lagi."


Bela mengingat beberapa hari lalu dia datang ke rumah sakit namun melihat Suster menyuntik kan obat, namun tidak jelas itu obat untuk apa, Bela sudah curiga karena obat itu sama sekali tidak ada nama.


Bela langsung memeluk ibunya.

__ADS_1


"Maafin ibu nak, maafin ibu, ibu selama ini sudah membuang kamu, maafin ibu."


Bela dan Bu Sisi menangis sambil berpelukan melepaskan kerinduan yang sangat mendalam.


__ADS_2