
Bibik memberikan obat kepada Dimas. Dan benar saja Vira sangat penurut. Bahkan mengikuti semua apa yang di katakan oleh Dimas.
Bela dan Bibik keluar membiarkan Dimas di dalam bersama Vira.
"Bibik sudah bisa pulang non?" tanya Bibik.
"Kenapa sangat cepat bik?" tanya Bela.
"Bibik tidak bisa lama-lama di sini karena Bibik juga harus mengantarkan makanan setiap hari ke kantor polisi," ucap Bibik.
"Tapi bik,"
"Pak Dimas tidak akan melakukan apapun." ucap Bibik menenangkan Bela.
Bela tidak bisa menahan Bibik lebih lama karena Bibik juga memiliki tugas nya sendiri.
"Baiklah bik, kalau begitu terimakasih banyak sudah mau menemani Vira di sini."
Bibik mengangguk.
"Oh iya bik, jangan sampai ada yang tau kalau pak Dimas datang ke sini," ucap Bela.
"Iyah non, Non tidak perlu khawatir. Bibik akan merahasiakan nya."
Bela tersenyum. Dia mengantarkan Bibik keluar dan kembali lagi ke dalam apartemen nya.
Bela tidak berani masuk ke dalam kamar Vira dia lebih memilih menunggu di ruang tamu.
Namum Hari semakin sore, matahari sudah terbenam Bela baru saja selesai masak bubur untuk adik nya.
Dia masuk ke kamar dan melihat Dimas yang sedang membaca buku di samping Vira.
Dimas melihat ke arah Bela.
"Saya minta maaf karena naik ke kasur," ucap Dimas.
"Tidak apa-apa."
"Waktu nya makan Vira, agar kamu cepat sembuh."
"Om suapin aku yah," ucap Vira.
"Pak Dimas sudah mau pulang, sebaiknya mbak saja yang menyuapi kamu."
"Om Dimas akan tidur di sini sama aku, aku mau sama Om Dimas."
Bela menghela nafas panjang.
"Vira, kamu mengerti kan apa yang mbak katakan, om Dimas sudah mau pulang karena sudah sore kamu juga harus makan."
"Om mau kan tidur di sini?" tanya Vira.
Dimas menoleh ke arah Bela.
__ADS_1
"Baiklah Om akan tidur di sini tapi kamu harus makan yah."
"Tuh kan, Om Dimas mau tinggal di sini mbak, boleh yah Mbak?" Vira masih berusaha membujuk Bela.
"Terserah kamu saja." Bela segera keluar dari kamar dengan wajah yang sangat kesal sekali.
Tidak terasa hari semakin malam. Bela duduk belajar di sofa ruang tamu dia melihat Dimas keluar dari kamar Vira.
"Humm Vira sudah tidur," ucap Dimas sembari duduk di depan Bela.
Bela mengangguk. "Kalau begitu Bapak bisa pulang."
Namun tiba-tiba Vira merengek dari kamar.
Bela menghela nafas panjang.
"Hari sudah malam, di luar juga dingin, Bapak bisa tidur di kamar sini."
Dimas mengangguk. "Apa kita bisa bicara sebentar?* tanya Dimas.
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Aku sedang belajar."
Dimas mengangguk mengerti, dia beranjak dari tempat duduk nya melihat ke arah dapur. Perut nya cukup lapar akhirnya memutuskan untuk mencari sesuatu yang bisa di makan di dapur Bela.
"Kenapa kamu tinggal di apartemen yang kecil seperti ini? Tempat ini juga kurang nyaman dengan Vira," ucap Dimas kembali membawa mie instan di mangkuk.
"Sekarang kamu sudah sangat kaya karena semua harta kekayaan orang tua kamu jatuh ke tangan mu, seharusnya kamu mencari tempat tinggal yang lebih bagus."
"Maksud bapak apa sih? Bapak mengatakan kalau tempat ini tidak layak? yang tinggal di sini aku dan juga Vira, kalau terlalu kecil membuat bapak tidak nyaman silahkan pergi!" ucap Bela kesal tidak sengaja menyenggol meja dan membuat mie Dimas tumpah.
Dimas kaget dengan respon Bela yang penuh emosi.
"Sekarang dia sudah jadi Bela yang asing," ucap Dimas, dengan rasa sedih dia membersihkan mie yang tumpah dan tidak jadi makan.
Dimas sengaja mengatakan itu agar bisa berbicara dengan Bela karena tidak ada yang bisa dia sampai kan, semua kata-kata yang sudah disiapkan sebelum nya hilang begitu saja sehingga dia mengatakan apapun yang tidak sengaja membuat Bela emosi.
Keesokan paginya...
Bela bangun dan langsung memeriksa suhu badan Vira karena dia tidur di kamar Vira.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya panas nya berkurang juga, semoga saja segera membaik," batin Bela.
Dia baru ingat kalau Dimas masih di rumah nya dia mengingat kejadian tadi malam.
Setelah keluar dia melihat Dimas sudah tidur ada di sofa, dia mendengar sesuatu dari dapur dan ternyata Dimas sedang masak.
"Seperti nya dapur mu sangat jarang di gunakan, saya akan masak sarapan pagi untuk Vira."
"Tidak perlu bersusah payah pak, saya bisa melakukan nya sendiri, bapak bisa pergi."
"Huff belum penuh satu hari saya di sini, kamu sudah mengusir saya tiga kali," ucap Dimas.
__ADS_1
Dimas mendekati nya sambil membawa apa yang dia masak.
"Ini untuk kamu dan juga Vira, seperti nya lama-lama di Sini membuat kamu tidak nyaman, kalau begitu aku akan pergi."
"Om Dimas mau kemana?" tanya Vira.
"Om harus pergi bekerja," ucap Dinas.
"Kapan Om datang lagi?"
"Hum secepat nya kalau om tidak Sibuk,"
"Om janji?" Dimas mengangguk.
Setelah selesai membujuk Vira akhirnya Dimas pergi dari sana. Bela menghela nafas panjang, dia sangat lega melihat Dimas pergi.
"Makanan ini tidak baik untuk kamu yang masih sakit, sebaiknya di buang saja," ucap Bela.
"Tumis sayur seperti ini enak dan sehat mbak, aku sangat suka, aku yang minta ini kepada Om Dimas."
Vira mengambil dan memakan dua piring sekaligus. Bela memegang kepala nya yang tidak sakit sama sekali namun sangat kesal.
Hari ini Bela tidak bisa ke kampus karena Vira belum bisa di tinggal, namun selama tinggal satu hari bersama Vira dia selalu menceritakan tentang Dimas, seperti masa depan dengan Dimas sampai Bela menutup telinga nya menggunakan Handset.
"Mbak, telpon om Dimas, aku ingin tau apa dia sudah makan siang?"
"Mbak tidak memiliki nomor nya,"
"Aku hapal nomor om Dimas mbak."
"Sejak kapan kamu menghapal nya? apa kamu juga hapal nomor mbak?" Vira menggeleng kan kepala nya membuat Bela menatap kesal.
"Bela memberikan Handphone nya.
Dimas yang sedang bekerja mendapatkan telpon dari nomor baru membuat nya penasaran siapa yang menghubungi nya.
Namun dia tidak berfirasat buruk sehingga dia menjawab nya.
"Om Dimas, ini aku Vira."
"Oohh kamu sayang, kamu pakai handphone siapa?" tanya Dimas.
"Aku pinjam handphone mbak Bela om,"
"Ada apa kamu nelpon om? Apa kamu sakit lagi?"
"Aku sudah sehat om, aku hanya mau tau apa Om sudah makan siang?"
"Ini baru saja mau Makan, kamu sudah makan dan minum obat?"
"Sudah om, aku juga sangat suka sama masakan om pagi tadi walaupun sedikit asin."
Dimas tertawa mendengar nya. "Om janji akan masak lebih enak Besok untuk kamu yah," ucap Dimas.
__ADS_1