
"Pak Dimas yang ngomong, saya ke sini karena mau bertemu dengan Bela, sudah lama kita tidak bertemu." ucap Fahri.
"Bagaimana kabar kamu di tempat tinggal yang baru? Pasti sangat seru kan?" tanya Bela.
"Sangat tidak seru, aku lebih betah tinggal di rumah."
" justru kamu bersyukur karena pak Dimas sudah sangat baik sama kamu."
"Iyah sih mbak, hanya saja aku tidak memiliki teman di sana, aku sudah terbiasa dengan keramaian." ucap Fahri.
"Itu juga demi kebaikan kamu, di sana kamu bisa fokus bekerja dan fokus menatap kehidupan kamu kedepannya seperti apa." ucap Serli.
Fahri menoleh ke arah Bela.
"Eh ngomong-ngomong saya dengar kamu dekat dengan anak magang itu, apa itu benar?" tanya Serli.
"Anak magang?" tanya Fahri sambil menoleh ke arah Bela yang juga menatap nya.
"Kamu sudah punya gebetan yah?" tanya Bela.
"Enggak kok, hanya saling tukar pengalaman saja, lagian kamu sama-sama baru perusahaan. Kami sama-sama belajar jangan salah paham."
"Lagian gak apa-apa kali Fahri, Bela juga pasti sangat senang kalau kamu memiliki pasangan agar kamu tidak bosan sendiri terus."
"Enggak kok, Kalian sudah salah paham, aku dengan anak magang itu hanya berteman Saja."
"Gak apa-apa kok Fahri, lagian pak Dimas juga tidak akan marah." ucap Bela.
Fahri menggeleng kan kepala nya.
"Saya tidak menginginkan orang lain Bela, seandainya kamu tau kalau saya sudah menyukai kamu dari pertama kali ketemu," batin Fahri.
"Fahri sebentar lagi jam istirahat sudah habis, sebaik nya kamu segera pergi sana."
Fahri mengangguk.
"Aku pamit dulu yah Bela."
"Iyah kamu yang semangat yah kerja nya, semoga di lain hari kita bisa ketemu lagi," ucap Bela.
Fahri akhirnya pergi meninggalkan Serli dan Bela.
"Hubungan kamu dengan Fahri seperti nya sangat spesial banget sih, jujur saja setelah Fahri dekat dengan kamu Fahri yang dulu kepribadian nya sama seperti pak Dimas sekarang sudah sangat hangat dan sangat ramah sekali."
"Hanya teman biasa, dia baik sama aku, aku juga baik sama dia."
Serli tersenyum. "Jadi kamu itu enak yah, semua orang yang dekat sama kamu pasti sangat senang sama kamu."
"Alhamdulillah mbak, hanya saja aku rasa tidak seperti itu, banyak juga yang tidak suka kepada ku."
"Siapa yang gak suka sama kamu? Coba bilang sama saya, saya akan menghukum mereka," ucap Serli.
Bela tersenyum.
__ADS_1
"Mbak bisa saja."
"Ya sudah kalau begitu kita cari oleh-oleh untuk di bawa pulang."
Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk mencari barang-barang yang lain karena belanja sudah selesai.
Di malam hari nya Bela seperti biasa menyiapkan makan malam ini Dimas.
"Bela..." panggil Bibik.
"Iyah Bik."
"Sebentar lagi tuan Dimas akan pulang, sebaiknya kamu siap kan air mandi, biar Bibik lanjut untuk melakukan itu."
"Tapi Bibik istirahat saja seperti yang lain, aku akan melakukan nya sendiri."
"Yakin kamu gak apa-apa?"
"Gak apa-apa Bik, lagian seharian Bibik sudah bekerja."
Setelah beberapa lama akhirnya Dimas pulang.
Bela tersenyum ketika dia membuka pintu dan melihat Dimas berjalan masuk ke dalam.
"Saya sudah menyiapkan air mandi bapak, Bapak bisa langsung mandi sebelum makan."
Dimas tidak mengatakan apapun dia melewati bela begitu saja membuat Bela kebingungan.
Bela mengikuti masuk ke dalam kamar.
Tiba-tiba Dimas menarik tangan Kania masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
"Pak! Pak!" Bela panik ketika Dimas mendorong nya ke arah dinding.
"Apa hari ini kamu melupakan saya? apa hari ini kamu terlalu bahagia sehingga tidak mengingat saya?"
"Maksud bapak apa? Saya tidak melupakan bapak."
"Kenapa kamu tidak mengantarkan Bekal makan siang saya?"
Seketika Bela terdiam sejenak.
"Saya juga tau kalau kamu bertemu dengan Fahri."
"Pak saya minta maaf soal itu, saya tidak janjian dengan Fahri dan soal makan siang, bukan kah sebelum nya saya sudah bilang kalau saya akan berangkat pagi dan pulang Sore?" tanya Bela balik.
Dimas menatap Bela.
"Sekarang saya sangat lapar, apa kamu masak?" tanya Dimas.
"Bapak mandi saja terlebih dahulu."
Bela mau pergi namun Dimas menahan tangan Bela.
__ADS_1
"Saya sangat merindukan kamu," ucap Dimas menatap Bela.
Bela Terdiam. "Huff mau sampai kapan sih hubungan kita seperti ini, kapan kamu akan menerima saya menjadi pacar kamu? saya tidak bisa melakukan apapun kalau tidak ada kepastian dari kamu."
Bela diam tidak menjawab, Dimas menghela nafas panjang.
"Kamu selalu saja diam, apa kamu juga akan diam kalau saya mempe*k*sa kamu?" tanya Dimas menatap Bela dengan tatapan tajam.
"Jangan aneh-aneh deh pak, saya mau keluar."
Bela langsung pergi dari kamar meninggalkan Dimas.
Bela duduk di kursi meja makan sambil termenung.
"Aku tidak boleh terlalu baper, aku harus sadar diri kenapa aku bisa di sini dan aku juga tidak boleh terjebak oleh sifat pak Dimas."
Tidak beberapa lama Dimas keluar dari kamar dia melihat Bela di meja makan.
"Apa semua orang sudah tidur?" tanya Dimas.
Bela mengangguk. "Kasihan mereka sudah bekerja dari pagi hari."
"Humm apa yang kamu beli hari ini? Apa kamu membeli seperti apa yang saya suruh?" tanya Dimas.
Bela mengangguk dia mengembalikan kartu Dimas.
"Aku tidak tau berapa uang bapak habis karena mbak Serli yang memilih semua nya."
"Tidak sia-sia kamu saya Ijin kan pergi dengan Serli." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak pak, saya juga minta maaf sudah membuat uang bapak habis."
Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Saya tidak mempermasalahkan itu, saya ingin kamu tampil cantik hanya untuk saya."
Bela Diam saja tidak tau harus mengatakan apa karena sudah salting.
Mereka makan bersama karena Bela di suruh menunggu Dimas untuk makan malam bersama.
Di tempat lain Fahri duduk bersama rekan-rekan nya yang lain dia termenung sendiri.
"Fahri kamu sedang memikirkan apa sih? kenapa kamu dari tadi sibuk dengan pikiran kamu sendiri?" tanya rekan perempuan nya.
"Apa lagi yang kamu pusing kan Fahri? Kamu adalah tangan kanan pak Dimas, kamu juga di lakukan dengan layak di sini, kenapa kamu masih memasang wajah sedih seperti itu?" tanya Mereka.
"Bukan tentang pekerjaan."
"Apa tentang perempuan?"
Fahri mengangguk.
"Katakan siapa yang berani menyia-nyiakan anak kesayangan pak Dimas? Perempuan itu harus di kasih paham!" ucap teman-teman nya.
__ADS_1
"Sudah lah tidak ada gunanya aku bercerita di sini, aku hanya memikirkan satu perempuan yang tidak mungkin aku miliki karena saingan nya sangat berat." ucap Fahri.