
Sepanjang Malam mereka bertiga di sana, karena sudah jam tiga subuh tidak terlalu lama mereka di sana.
Keesokan paginya polisi datang memeriksa kondisi korban. Namun Bela belum sadar sampai sekarang.
Di kantor polisi tidak sengaja pak Irfan melihat Rio. Pak Irfan menatap tajam ke arah Rio.
"Kenapa pria itu ada di sini? Apa dia menangkap orang lalu memenjarakan nya?"
Namun ternyata buronan di bawa masuk ke dalam sel.
Pak Irfan kaget ternyata pria itu adalah pria yang di bayar untuk mengadopsi Bela.
Sudah lama dia tidak bertemu, di tambah lagi pak Irfan tau pria itu mau memperkosa putri nya.
Pak Irfan memang membenci Bela karena tidak mengeluarkan nya, namun dia tidak akan membiarkan orang lain Melakukan hal seperti itu kepada putri nya.
Karena pak Irfan menghajar pria itu, akhirnya pak Irfan di pindahkan.
Namun sebelum dipindahkan pak Irfan bertemu dengan Rio terlebih dahulu.
"Bagaimana kabar bapak di sini? Sudah hampir tiga bulan lebih, saya mendengar bapak sangat sering membuat keributan."
"Diam kau!"
Rio tersenyum tipis. "Amarah akan merugikan kita pak, berapa kali saya sudah mengatakan kepada bapak agar tidak mudah marah."
"Kau masih anak kecil! Jangan mencoba menasehati saya."
Rio menghela nafas panjang. "Apa Bapak tidak ingin tau Dengan keadaan Putri Bapak sekarang seperti apa?" tanya Rio.
"Saya tidak ingin tau, percuma saya memiliki anak kalau tidak bisa mengeluarkan saya dari sini."
Rio menatap pak Irfan. "Kapan bapak akan berfikiran terbuka? Kenapa bapak tidak terima saja dengan hukuman ini? Kenapa bapak selalu menyalah Putri Bapak?"
Pak Irfan diam. "Sekarang keadaan Bela koma akibat dari Pria yang sudah Bapak percaya untuk mengadopsi Bela."
"Kenapa tidak membawa nya ke rumah sakit? Saya memiliki banyak harta," ucap pak Irfan.
Rio tau sebenarnya pak Irfan mengkhawatirkan Bela.
"Sekarang sedang berada di rumah sakit, saya berharap Bapak berdoa untuk kesehatan nya."
Setelah itu pun Rio langsung pergi. Pak Irfan di pindahkan ke tempat yang lain lagi menunggu situasi aman.
Pak Irfan membayangkan Bela yang menahan rasa sakit dan trauma ketakutan karena ulah orang tua nya sendiri.
Pak Irfan hanya bisa menyesali semua nya, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Tidak beberapa lama Bibik datang mengantar kan makan siang pak Irfan.
Namun Bibik heran kenapa pak Irfan terlihat sangat lemas sekali.
"Tuan.. Tuan saya datang mengantar kan makan siang untuk Bapak," ucap Bibik.
__ADS_1
Pak Irfan langsung bangun. Dia menatap Bibik.
"Bagaimana keadaan Bela? Apa dia sudah sadar?"
Bibik kaget kenapa pak Irfan tau, dan kenapa tiba-tiba pak Irfan mengkhawatirkan Bela.
"Tuan tidak perlu khawatir sekarang non Bela di rawat oleh dokter."
Pak Irfan terlihat sangat sedih, tidak pernah Bibik melihat nya seperti itu, namun kali ini pak Irfan merasakan kesedihan yang Luar biasa.
Setelah pak Irfan selesai makan Bibik pamitan pulang karena Vira tidak bisa di tinggal karena badan nya demam, tadi malam dia tidak bisa tidur mengkhawatirkan Bela.
Ternyata perasaan Vira mengkhawatirkan Bela benar.
Di rumah sakit Yana dan Kevin masih setia menemani bela yang masih belum sadar.
Sementara Dimas berbicara dengan kepolisian di luar. Setelah polisi pergi Rio datang.
"Bagaimana keadaan Bela?"
"Sampai sekarang belum sadar," ucap Dimas.
Rio menepuk pundak Dimas. "Bela perempuan yang kuat, dia pasti akan sembuh. Sekarang Vira menangis di rumah mencari Bapak."
"Vira?" ucap Dimas dia baru mengingat Vira.
"Tadi saya tidak sengaja bertemu dengan Bibik Bela, Vira juga demam tinggi dan memanggil nama Bela."
"Bela akan segera di tangani oleh dokter, di sini pun Bapak tidak bisa melakukan apapun, ada saya dan juga teman-teman bela menunggu."
Akhirnya Dimas memilih untuk melihat keadaan Vira sebelum terlanjur parah.
Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di rumah. Vira melihat Dimas datang.
"Om Dimas, om Dimas di mana mbak bela?" tanya Vira.
Biasanya Vira Akan merengek mencari Dimas namun kali ini dia mencari Bela.
"Vira, kamu tidur dan tenang yah, mbak Bela baik-baik saja, mbak Bela baik-baik saja," ucap Dimas.
"Aku mau sama mbak Bela, om Dimas aku mau sama mbak Bela," ucap Vira.
"Kamu harus sembuh dulu yah," ucap Dimas.
Merasakan badan Vira yang sangat panas membuat Dimas khawatir sekali.
"Tuan, dari tadi Vira tidak mau minum obat, dia juga tidak mau makan," ucap Bibik.
"Sini bik saya bantu," ucap Dimas.
Dimas sudah selesai memberikan Vira makan dan juga minum obat.
"Sekarang tidur yah, setelah kamu sembuh kita akan melihat mbak Bela," ucap Dimas.
__ADS_1
Vira tidur di pangkuan Dimas, Vira tidak membiarkan Dimas pergi dari nya.
Bahkan ke kamar mandi saja Dimas tidak bisa.
Tidak beberapa lama Kayla dan juga Fahri datang.
"Apa yang terjadi Dimas?" tanya Kayla.
Dimas tidak bisa menceritakan semua nya karena ada Vira.
Setelah Vira tidur dengan nyenyak dia keluar berbicara dengan Dimas.
Kayla sungguh tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. "Huff sangat malang hidup Bela," ucap Kayla.
"Tan, aku boleh minta tolong untuk menjaga Vira kan? aku tidak bisa meninggalkan Bela di rumah sakit."
"Baiklah, m Tante akan menjaga nya," ucap Kayla.
Dimas kembali ke rumah sakit. Dan ternyata Bela sudah di bawa ke ruangan ICU.
Yana dan Kevin sangat mengkhawatirkan Bela. Dimas bisa melihat kesetiaan mereka terhadap Bela.
Dimas juga tau kalau Kevin sangat tulus kepada Bela, tapi itu hanya bisa sekadar sahabat saja.
Tidak beberapa lama dokter keluar dan mengabari Bela sudah sadar.
Yang di perbolehkan masuk hanya satu orang, Dimas masuk ke dalam dan melihat Bela yang menangis.
"Sayang... jangan nangis, aku disini untuk kamu, kamu tidak sendirian."
Bela mau berbicara namun dia tidak bisa. Dia hanya menangis sambil menggenggam tangan Dimas sangat kuat.
Dimas menguatkan Bela.
Malam ini kepada Bela semakin membaik, dia sudah bisa di pindahkan.
"Bela, apa yang kamu rasakan sekarang? Apa masih sakit?" tanya kevin.
"Iyah Bela, apa yang kamu rasakan? Kalau masih sakit katakan saja."
"Aku sudah membaik kok, terimakasih sudah mau menjaga ku di sini." Bela memegang tangan mereka berdua.
"Kami akan terus di sini menunggu kamu sampai sembuh," ucap Kevin.
Bela tersenyum dia sangat senang memiliki orang-orang tulus.
Dimas keluar dari sana, membiarkan Bela bersama Yana dan Kevin.
Dimas sangat lega dia bisa mengistirahatkan kepala nya sejenak. Tidak beberapa lama Rio datang.
"Sebaik nya setelah ini bapak segera menikahi Bela agar lebih aman untuk Bela dan juga Adek nya," ucap Rio.
Dimas menatap Rio seperti tidak percaya dengan saran yang di berikan oleh Rio.
__ADS_1