
Dimas tersenyum. Dia memangku Vira.
"Bagaimana tinggal di rumah Ayah? Apakah sangat menyenangkan?"
Vira menggeleng kan kepala nya, " Aku ingin tinggal di rumah mbak Bela, di sana tidak nyaman sekali."
"Sebentar lagi nanti pasti kembali ke sana kok, tapi untuk sementara waktu tinggal di sana dulu yah," ucap Dimas.
"Aku ke sini mau membahas tentang sekolah Vira kak, sebenarnya aku tidak mau merepotkan kakak,. hanya saja karena Vira masuk di kartu keluarga kakak, jadi aku butuh bantuan kakak mengurus sekolah nya."
"Ya ampun, bagaimana bisa aku lupa Minggu depan sudah harus daftar."
"Nah itu dia kak, padahal Minggu depan kita harus menemui keluarga kakak."
"Tidak perlu khawatir, kita bisa mengatasi nya dengan mudah."
Keesokan harinya seperti biasa, Dimas sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja, namun dia merasa aneh dengan Kayla dan juga Fahri mereka hanya diam saja.
Setelah selesai sarapan Kayla langsung pergi. Dimas bertanya kepada Fahri ada apa.
karena Fahri merasa Dimas adalah keluarga nya dan hanya pada Dimas dia bisa jujur. Dia menceritakan semua nya.
Dimas tidak bisa memberikan saran apapun selain meminta Fahri sabar.
Fahri sama sekali tidak mengajak Kayla berbicara, dia fokus bekerja dengan Dimas.
Kayla melihat Fahri dan Dimas berangkat bekerja sementara dirinya hari ini di rumah saja.
"Itu anak nyebelin banget sih, mentang-mentang sekarang dia tidak menjadi bodyguard ku lagi, dia bahkan tidak mau berbicara dengan ku lagi."
*Kayla mau loe apa sih?*
Sampai di kantor, Dimas juga heran melihat Sekertaris nya lesu, lemas tidak bersemangat seperti biasanya.
"Ada apa sih sebenarnya dengan para perempuan di dunia ini? Apa mereka semua nya sama saja?"
Dimas menghela nafas panjang. Dimas dan Serli sedang ada meeting di perusahaan bersama klien.
Namun Serli tampak tidak bersemangat sama sekali, dia juga tidak fokus.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai meeting walaupun kurang lancar. Fahri harus mengganti kan Serli beberapa kali.
"Serli ada apa? Apa kamu mempunyai masalah?" tanya Dimas.
"Tidak pak, saya minta maaf."
Dimas menatap Serli. "Katakan saja, apa Roi mengganggu kamu?"
"Tidak pak."
"Lalu kenapa? tidak biasanya kamu seperti ini."
"Tidak ada apa-apa pak, kalau begitu saya permisi dulu,* ucap Serli.
__ADS_1
Dimas melihat Serli keluar. Setelah itu dia menatap Fahri.
Mereka berdua menghela nafas panjang bersama-sama.
"Ada apa dengan mereka semua? Bela marah kepada saya, Kayla marah kepada kamu, dan sekarang Serli sangat lemas seperti orang yang patah hati."
"Saya juga tidak tau Pak."
"Serli?" panggil Roi. Dia datang ke kantor.
"Ada apa?" tanya Serli kaget melihat Roi sementara hari ini tidak ada tugas Roi di kantor.
"Kenapa kamu di sini? Apa ada kerjaan mendadak?" tanya Serli.
"Enggak kok, aku ke sini mau bertemu dengan pak Dimas."
"Tapi pak Dimas masih ada tamu."
"Tenang saja, aku ke sini mau menjemput tamu nya juga."
Serli Tampak Roi sangat bersemangat sekali. Dia melihat Roi masuk ke dalam ruangan Dimas.
Tidak beberapa lama keluar bersama perempuan tamu Dimas, ternyata itu adalah wanita kencan hutan nya.
"Serli, aku pamit dulu yah. Oh iya Kenalin ini dia perempuan yang aku ceritakan."
Serli melihat wanita itu, benar-benar sangat cantik sekali, sangat cocok dengan Roi yang tampan dan tinggi.
"Pantesan saja dia tergila-gila kepada wanita itu, selain kaya-raya, dia juga sangat cantik bak model."
"Apa yang kamu lihat Serli?" tanya Dimas. Serli menggeleng kan kepala nya dia langsung pergi.
Dimas bingung melihat Serli.
Minggu depan kemudian...
Dimas dan Bela sedang membawa Vira mendaftar ke sekolah yang tidak jauh dari rumah mereka.
Namum Bela harus menutupi wajah nya agar tidak banyak orang yang melihat nya.
Bela sampai sekarang masih memilih untuk tidak keluar sampai suasana menjadi lebih tenang.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai, mereka segera kembali ke rumah Bela.
"Huff hari ini sangat melelahkan sekali," ucap Bela membaringkan tubuhnya di sofa.
Dimas melihat ke arah Vira yang langsung masuk ke kamar nya main.
Dimas juga menindih badan Bela dengan badan besar nya. "Apa yang kakak lakukan?" tanya Bela.
"Kamu tau? Aku sangat merindukan mu, selama tiga hari kita tidak bertemu sama sekali."
Bela menghela nafas panjang. "Seharian kita sudah bersama, apa itu belum cukup?"
__ADS_1
Dimas menggeleng kan kepala nya. "Suasana sudah tenang, kamu jangan kembali ke rumah utama lagi yah."
Bela menghela nafas panjang. "Aku mohon, aku sama sekali tidak bisa bertemu dengan mu."
Bela menatap wajah memohon Dimas. "Iyah-iyah, Lagian besok kita harus menemui keluarga kakak."
Dimas tersenyum dia langsung memeluk Bela. "Saat mengantar kan Vira ke sekolah tadi, aku seperti menjadi seorang ayah yang mengantar kan anak nya mendaftar sekolah."
Bela tersenyum. "Aku pikir hanya aku yang berfikir demikian," ucap Bela.
"Apakah setelah kita menikah nanti, kakak ingin segera memiliki anak?"
Dimas menatap Bela. "Itu semua tergantung kamu."
"Bagaimana kalau aku tidak ingin punya anak semasa kuliah?"
"Tidak masalah, karena itu adalah keputusan yang terbaik menurut kamu. Tapi dimana pun itu sepasang suami istri pasti menginginkan anak."
Bela tersenyum dia mengelus rambut Dimas. "Aku sangat takut memiliki anak," ucap Bela.
"Kenapa? Apa kamu takut kesakitan? Apa kamu tidak kuat?"
Bela menggeleng kan kepala nya. "Bukan itu."
"Lalu?" tanya Dimas.
"Aku hanya takut mereka merasakan nasib yang sama seperti ku dan seperti kakak yang besar tumbuh dewasa tampa sosok orang tua?"
Dimas menghela nafas panjang, dia duduk memegang tangan Bela menatap nya dengan tulus.
"Kita harus berjanji dan berdoa kepada tuhan agar badan kita selalu sehat, selalu bersama sampai maut memisahkan kita."
Bela mengangguk. Belum apa-apa dia sudah menangis. Bela tidak bisa membayangkan hidup nya Tampa orang tua sangat lah sakit. Semua penderitaan sudah dia jalani dan lewati.
"Aku akan selalu ada untuk mu."
Dimas memeluk Bela.
"Mbak Bela?" panggil Vira, Bela langsung berhenti nangis.
"Apa dek?" tanya Bela. "Aku sangat lapar, aku mau makan."
"Bagaimana kalau kita makan di luar?" tanya Dimas. Bela langsung menggeleng kan kepala nya.
"Jangan di luar, sebaiknya di rumah saja, aku akan masak sebentar."
"Kamu tidak lelah?" Bela menggeleng kan kepala nya.
"Kalau begitu bagaimana kalau aku bantuin?"
"Kakak hanya bisa gangguin aku saja," ucap Bela. Namun Dimas dan Vira mengikuti nya ke arah dapur.
Bela hanya bisa tersenyum melihat Dimas dan Vira.
__ADS_1