Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 196


__ADS_3

Bela mengangguk. "Baiklah kak," Bela tersenyum.


"Yahh malah pelukan, ayo pergi dari sini Mbak," ucap Vira.


Bela dan Dimas langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara kekasih Yana mendatangi nya dan akhirnya mereka berbaikan. Mendengar kabar dari Yana, Bela juga ikutan lega.


Hari tidak begitu banyak kegiatan yang di lakukan oleh mereka, Dimas mengajak Bela ke rumah nya karena Nenek dan Kakek ingin bertemu dengan Bela dan Vira.


Sekalian mereka akan membicarakan pernikahan Fahri dan Kayla.


Dimas sangat kaget dengan keputusan nenek dan Kakek nya yang terlalu terburu-buru, namun tidak ada yang bisa menentang mereka.


Di tambah lagi semua keluarga inti sudah tau. Di malam hari nya.


Dimas, Bela, Fahri dan Kayla sedang memanggang daging di halaman belakang rumah Dimas.


"Kamu sudah siap untuk menikah Fahri?" tanya Dimas ketika sedang berdua di dekat panggangan, sementara kekasih mereka duduk menikmati angin malam di tenda yang sengaja di buat.


"Saya siap Pak, hanya saja saya belum siap dengan finansial."


"Harga diri seorang pria itu adalah bekerja, kalau kau terus berjuang pantang menyerah saya yakin kau bisa menjadi seperti apa yang kau mau."


"Kau harus yakin dengan diri mu sendiri. Saya hanya bisa memberikan mu nasehat sekarang, karena kalau kau sudah menikah, kau adalah suami Tante ku yang harus aku hormati."


"Saya tidak bermaksud Pak," ucap Fahri jadi sedikit kurang enak.


"Saya tidak pernah mempermasalahkan itu, saya hanya ingin kau tanggung jawab kepada hidup mu, dan juga istri mu kelak."


Fahri mengangguk. "Saya akan mengingat kata-kata Bapak."


Dimas tersenyum dia menepuk bahu Fahri.


"Hore... akhirnya daging nya datang juga, aku sudah sangat lapar," ucap Kayla.


Mereka makan bersama. "Oh iya Dimas, kapan kamu merencanakan pernikahan kalian?" tanya Kayla.


"Humm mau nya sih secepatnya," ucap Dimas sambil menoleh ke arah Bela.


"Sudah lah Bela, kamu jangan menunda-nunda, bagaimana kalau kita menikah di hari yang Sama?" tanya Kayla.


Dimas terdiam sejenak. Bela menoleh ke arah nya.


"Humm aku menyerahkan semua keputusan nya pada kak Dimas," ucap Bela.


"Tuh Bela sudah setuju, tergantung kamu Dimas," ucap Kayla.


Dimas tersenyum saja, dia belum berani mengambil keputusan kalau belum membicarakan nya berdua.


Karena sudah kenyang dan larut malam kayla dan Fahri masuk ke dalam rumah. Tinggal hanya Bela dan Dimas.

__ADS_1


"Aku ingin jagung," ucap Bela. Dimas mengangguk dia membakar dua untuk nya dan Bela.


Sambil menunggu masak Dimas menggenggam tangan Bela.


"Dingin yah?" tanya Dimas. Bela mengangguk.


Tidak beberapa lama jagung masak, mereka makan bersama sampai habis.


"Malam ini kamu nginap di sini kan?" tanya Dimas.


"Hum, nenek akan marah besar kalau aku pulang, Vira saja sudah di bawa tidur ke kamar mereka," ucap Bela.


"Bagus deh kalau begitu, aku memiliki waktu berduaan dengan kamu."


"Tapi ini sudah jam sembilan malam, aku harus tidur karena besok kuliah pagi."


Seketika wajah Dimas berubah menjadi sangat kesal.


"Kamu sangat jahat sekali," ucap Dimas. b


Tidak beberapa lama akhirnya mereka kembali ke dalam rumah. "Eh Bibik belum tidur?" tanya Bela.


"Saya mau berbicara dengan Tuan," ucap Bibik.


Dimas dan Bela kebingungan melihat ekspresi Bibik.


"Iyah Bik, ada apa?" tanya Dimas dan Bela.


"Iyah Bik, Bibik tau kan kalau Fahri dan Kayla pacaran, dan hubungan mereka sudah di Restui."


"Tapi saya sebagai keluarga Fahri kurang setuju Tuan, bagaimana bisa anak seorang pelayan bisa menikah dengan bos nya sendiri."


"BIbik kurang menyetubuhinya hubungan mereka karena hal itu?" tanya Dimas, Bibik mengangguk.


"Maaf tuan Kalau saya terlalu lancang, tapi kedua orang tua Fahri juga kurang setuju karena kamu sadar kami tidak Cocok berbesan dengan keluarga Tuan."


"Bibik jangan berfikir yang tidak-tidak, Fahri dan Kayla lah yang akan menjalani nya."


"BIbik istirahat saja yah bik, jangan memikirkan hal yang negatif."


Bela mengantar kan Bibik, dia kembali lagi sambil menghela nafas panjang ketika melihat Dimas.


"Kamu juga jangan berfikir yang macem-macem, ayo tidur," ucap Dimas.


"Tunggu, kakak mau tidur di kamar ku?" tanya Bela. Dimas menatap kebingungan.


"Jangan aneh-aneh yah kak, ingat kita belum menikah dan ini tidak di rumah ku, kakak tidur di kamar kakak sendiri," ucap Bela.


"Ijinkan aku mengantar kan mu ke tempat tidur," ucap Dimas.


Bela berbaring di tempat tidur, Dimas menyelimuti Bela.

__ADS_1


"Tidur yang nyenyak yah," ucap Dimas mengelus rambut Bela. Saat Dimas mau mencium nya tiba-tiba Bela menahan nya.


"Jangan coba-coba!"


"Pelit banget sih, kalau nanti kita sudah menikah aku tidak akan membiarkan kamu membatasi ku," ucap Dimas.


"Ya sudah kalau begitu kakak keluar, aku mau istirahat jangan lupa matikan lampu."


"Aku akan menemani kamu sampai tidur."


"Tidak bisa! kakak harus keluar sebelum aku panggil Nenek."


"Iyah-iyah, semenjak dekat dengan nenek kamu selalu mengancam ku dengan mengandalkan Nenek dan Kakek."


Dimas pamit keluar tidak lupa mematikan lampu.


Sementara di rumah Serli..


Dia baru saja selesai mengerjakan pekerjaan nya. Dia baru sadar ternyata Roi yang menemani nya dari tadi di ruang tamu sudah ketiduran.


Melihat jam sudah hampir jam sepuluh malam akhirnya dia membangun kan Roi.


"Roi.. Roi.. bangun, apa kamu tidak pulang? ini sudah malam."


Namun Roi cukup susah di bangun kan, Serli tidak bisa memaksa Roi untuk bangun.


Keesokan paginya dia bangun, Roi baru sadar dia ketiduran di rumah Serli. "Seperti nya aku ketiduran," ucap nya.


"Hoammm!!!" Serli juga baru bangun keluar dari kamar nya dan langsung minum.


Roi kaget melihat Serli keluar dengan pakaian tidur nya yang sangat seksi dan rambut yang berantakan wajah khas baru bangun tidur.


"Aaa!!!" Serli kaget ketika baru menyadari ada Roi di sana. Dia langsung menarik kain yang ada di dekat nya menutupi tubuhnya.


Roi langsung berbalik agar Serli menukar pakaian nya.


Tidak beberapa lama Serli keluar pakaian nya sudah ganti.


"Aku minta maaf sudah buat kamu tidak nyaman," ucap nya sambil meletakkan kopi di atas meja. Roi mengangguk saja.


Setelah selesai minum dia masuk ke kamar tidak beberapa keluar lagi.


Roi berfikir Serli mau berangkat bekerja di pagi hari yang menurut nya masih belum jam kerja. Namun setelah melihat pakaian Serli dia berubah pikiran.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau olahraga sebentar," ucap Serli.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Roi.


"Kamu yakin mau ikut?" tanya Serli. Roi mengangguk. Serli memberikan baju olahraga Kepada Serli entah milik siapa yang dia berikan namun sangat cocok kepada kekasihnya itu.

__ADS_1


__ADS_2