
Dimas meninggal kan parkiran apartemen.
"Apa ini adalah jalan untuk ku kembali kepada Bela? Seperti nya Bela sudah mulai memaafkan aku. Dan Vira sungguh pembawa keberuntungan."
"Tapi sebaik nya aku tidak memanfaatkan kesempatan ini, aku takut kalau Bela akan salah paham," batin Dimas.
"Tapi jika dipikir-pikir lagi, aku harus teguh dalam pendirian ku untuk menikahi Bela membawa nya hidup bersama ku dan mengurus Vira layaknya anak ku sendiri," batin Dimas.
"Arrghh!!! Seandainya saja semua nya tidak seperti ini, aku pasti lebih mudah bersama Bela." ucap Dimas.
Dimas sampai di rumah namun heran kenapa rumah sangat sepi, di rumah Hanya ada Bibik dan beberapa yang bekerja di sana.
"Apa Fahri dengan Kayla belum pulang?" tanya Dimas.
"Belum Tuan, Tuan dari mana saja?" tanya Bibik.
Bibik memerhatikan pakaian Dimas.
"Saya dari rumah teman saya," ucap Dimas.
"Kaos perempuan, celana tidur ini punya siapa tuan?" tanya Bibik heran karena tidak biasa nya.
"Saya mau mandi," ucap Dimas langsung pergi menghindari Bibik.
"Huff bagaimana bisa aku memakai baju ini pulang? Untung saja aku bia menghindari Bibik," batin Dimas.
Fahri dan Kayla sudah selesai belanja. Fahri sangat kelelahan mengikuti Kayla yang sangat kuat berjalan mengelilingi mall itu, selain itu dia juga harus membawa semua belanjaan Kayla.
Fahri juga bingung kenapa perempuan bisa membeli barang-barang sebanyak itu yang tidak penting menurut nya.
"Nih untuk kamu," ucap Kayla memberikan Fahri minum karena dia tampak kelelahan.
"Terimakasih," ucap Fahri menghabis kan minuman botol itu dengan cepat.
Kayla melihat Fahri yang sedikit berkeringat dan minum terlihat cukup menggoda sekali di mata nya.
Fahri memergoki Kayla memerhatikan dia.
"Ada apa mbak?" tanya Fahri.
"Keringat."
Fahri langsung menghapus menggunakan tisu yang ada di kantong nya.
"Sudah selesai kan? sebaiknya kita pulang saja, pak Dimas juga sudah di rumah," ucap Fahri.
Kayla menggeleng kan kepala nya.
"Masih banyak waktu, aku masih mau Nonton, makan dan melakukan banyak hal mumpung lagi ada di sini."
"Tapi ini sudah sore mbak."
"Kalau kamu tidak mau, kamu bisa pulang saja sendiri," ucap Kayla.
Fahri menghela nafas panjang, dia mengikuti Kayla yang kesal kepada nya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan ikut, kalau aku meninggalkan mbak di sini, pak Dimas akan sangat marah besar," ucap Fahri.
Kayla diam-diam tersenyum karena Fahri tidak akan berani menolak nya.
Mereka menonton film monster membuat Kayla menjerit sepanjang film.
"Sudah tau penakut, malah milih Flim ini!" ucap Fahri."
"Heh kamu diam aja yah, aku gak takut, cuman sedikit terkejut."
Namun tiba-tiba ada adegan menakutkan membuat Kayla menjerit dan mencekram kuat lengah Fahri.
Fahri hanya bisa menghela nafas panjang, dia membiarkan Kayla melukai kulit nya dengan kuku panjang nya.
Tidak beberapa lama akhirnya keluar dari sana.
"Flim tadi sangat seru sekali," ucap Kayla.
Namun dia baru sadar kalau Fahri tertinggal jauh di belakang.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa jalan sangat lambat sekali?" tanya Kayla.
Fahri menggeleng kan kepala nya, dia lanjut berjalan sampai ke luar tempat makan.
Tidak terasa ternyata sudah jam lima. Fahri dan Kayla makan dan setelah itu memutuskan untuk pulang.
Kayla baru sadar ternyata tangan sebelah kiri Fahri tergores-gores oleh kuku nya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau tangan mu luka?" tanya Kayla sambil menarik tangan Fahri.
Kayla jadi merasa bersalah, dia juga dengan sengaja membuat Fahri kecapean.
Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di rumah. Fahri melihat ada mobil Rio di sana.
"Tumben banget Rio ke sini?" ucap Kayla.
Mereka turun dari mobil masuk ke dalam, tidak lupa Kayla meminta penjaga yang menganggur mengangkat barang-barang dari dalam mobil.
"Tumben banget kamu datang ke sini?" tanya Kayla kepada Rio.
Rio melihat Kayla.
"Ini hari Minggu, aku tidak memiliki pekerjaan itu sebab nya aku datang ke sini, seperti nya kamu cukup nyaman di sini," ucap Rio karena Kayla tidak kunjung kembali ke kota nya.
"Aku akan tinggal di sini sampai Dimas menikah," ucap Kayla.
"Huff aku tau kamu hanya beda satu tahun dengan Dimas, tapi tetap lah kamu yang lebih tua, sebaik nya kamu memikirkan pernikahan mu saja," ucap Rio.
"Huff aku sangat tidak suka membahas pernikahan, aku sudah bilang kalau aku tidak akan menikah sebelum Dimas menikah."
Rio tersenyum tipis, sementara Dimas hanya bisa diam.
"Bagaimana kalau aku membantu mu mencari pasangan? Aku memiliki banyak teman," ucap Rio.
"Tidak perlu, sangat banyak pria yang ingin bersama ku, hanya saja aku tidak mau."
__ADS_1
"Sudah berhenti membahas hal seperti itu, pergi lah istirahat. Kami mau membicarakan sesuatu pekerjaan,"
"Baiklah." ucap Kayla dan meninggalkan mereka di ruang tamu.
Kayla masuk ke dalam kamar nya.
"Yang di katakan Rio benar juga, aku lebih tua dari Dimas, seharusnya aku juga memikirkan kebahagiaan ku."
"Tapi aku tidak boleh mengingkari janji ku kepada almarhum orang tua Dimas kalau aku akan menjaga nya sampai ada perempuan yang mau menjaga nya."
Di tempat lain Vira tidur di kamar nya sendiri. Namun dia tetap merindukan Dimas.
Lagi asyik-asyik berbicara dengan Rio dan Fahri tiba-tiba handphone Dimas berdering.
Awal nya Dimas mengabaikan nya, namun ketika Rio bilang nama yang menelpon Dimas langsung mengambil nya.
"Vira, bisa ngambek dia kalau tidak di jawab," ucap Dimas.
"Jawab saja," ucap Rio.
Dimas menjawab dan tidak lupa menguatkan loudspeaker nya.
"Halo, Vira. Ada apa?" tanya Dimas.
"Aku sangat merindukan Om Dimas, om lagi di mana?" tanya Vira.
"Ini Om lagi di rumah," jawab Dimas.
"Kapan Om ke sini?"
"Besok yah, kamu tidur lah ini sudah malam, besok sekolah."
"Gak bisa Om, aku belum ngantuk."
"Kamu sedang bersama siapa? Bagaimana dengan keadaan mbak Bela?" tanya Dimas.
"Mbak Bela masih sakit Om, mbak Bela tidak mengijinkan aku tidur di kamar nya karena takut sakit."
"Ya sudah kalau begitu kamu tidur yah, Besok Om akan datang menjemput kamu dan mengantar kan ke sekolah," ucap Dimas.
"Om gak bohong kan?"
"Om janji, tapi sekarang kamu harus tidur."
Vira cukup penurut kalau sudah dengan Dimas, dia langsung mau tidur.
Rio menatap Dimas.
"Jangan bilang selama dua hari tidak pulang, bapak tidur di apartemen Bela?" tanya Rio.
"Jangan kuat-kuat, kalau ada yang mendengar tidak enak," ucap Dimas.
"Berarti benar?" tanya tanya Rio lagi.
"Terpaksa, karena Bela sakit di tambah lagi Vira merengek dan merajuk ingin bersama saya," ucap Dimas.
__ADS_1