Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 63


__ADS_3

"Kamu tidak bisa lama-lama di sini, kamu tau kan kalau om belum bisa mengadopsi kamu."


Vira memeluk Dimas.


"Aku mau di sini sama Om dan juga mbak bela, aku mau main bersama Om di sana tidak enak."


"Tapi kamu harus pulang karena orang tua angkat kamu sudah menunggu."


"Maksud nya Om?"


"Om mau kamu di adopsi oleh orang tua angkat kamu agar kamu memiliki orang tua dan jangan khawatir Om pasti sangat sering menjenguk kamu dan juga mengajak kamu bermain.


"Tapi aku tidak mau om, aku mau sama Om dan Mbak Bela." ucap Vira.


"Sayang... kamu sama orang tua angkat kamu harus baik-baik yah, gak boleh jahat dan bandel," ucap Dimas.


Vira memeluk Bela langsung sambil menangis.


"Mbak aku gak mau pergi mbak, aku mau di sini."


Bela menoleh ke arah Dimas.


"Sebaiknya kamu siap-siap, saya akan menunggu di bawah."


"Kamu tunggu di sini sebentar yah, mbak ke bawah dulu."


Bela mengikuti Dimas keluar.


"Kak," Bela menahan tangan Dimas.


"Kenapa kakak malah setuju Vira di adopsi oleh orang lain? Bukan nya kakak sendiri yang ngomong kalau Vira akan kakak adopsi?"


"Saya belum menikah, tidak ada salah nya membiarkan Vira di adopsi oleh orang tua yang lengkap."


"Tapi kak aku juga tidak ingin Vira bersama orang lain."


"Ini demi kebaikan Vira dan masa depan dia."


"Vira juga tidak mau kak, kasian dia."


"Saya tau orang tua angkat nya pasti baik, saya juga sudah tau keluarga nya," ucap Dimas.


"Kak aku mohon jangan berikan Vira kepada siapapun itu, aku mohon."


Dimas menatap Bela.


"Kamu tau kan persyaratan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan apa? Saya harus menikah terlebih dahulu."


"Aku akan menikah dengan kakak, aku mohon jangan setujui Vira dengan orang lain."


Dimas menatap Bela, dia juga sangat terkejut karena Bela langsung mau menikah dengan nya.


"Bukan kah sebelum nya kamu sendiri yang bilang kalau kamu belum mau menikah dengan saya?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, aku hanya ingin Vira tinggal di sini."


"Jadi kamu menikah dengan saya hanya karena Vira?"


Bela jadi bingung harus bilang bagaimana karena Dimas jadi salah paham.


"Mbak dengan Om jangan berantem lagi, aku mau pulang dan di adopsi oleh orang lain, asal kan mbak dan Om jangan berantem."


Dimas menghela nafas panjang.


"Kalian siap-siap lah, jangan membuang-buang waktu seperti ini!"


Setelah selesai mereka berangkat, sepanjang perjalanan Bela terus memeluk Vira di kursi belakang, tidak ada percakapan apapun namun Dimas melihat wajah Bela sangat sedih.


"Ini adalah kesempatan besar saya untuk menikah dengan Bela tampa saya memaksa Bela, namun kalau saya mengikuti hasrat saya, sampai kapan pun aku tidak akan menemukan bukti yang sangat akurat siapa pembunuh Mamah sama Papah," batin Dimas.


Bela dan Dimas sampai di panti.


"Kak malam ini kita nginap di sini bersama Vira yah, aku..."


"Terserah kamu saja," jawab Dimas.


Bela sedikit tidak enak karena raut wajah Dimas yang seperti nya kesal.


Namun itu hanya bualan Dimas agar tidak terlihat mencurigakan kalau dia memperalat Vira untuk mencari bukti.


Di Kamar Vira Bela melihat Dimas baru masuk.


"Di sini sangat panas kak, di sini juga kasur nya hanya kasur lantai. Kakak tidur saja di kamar yang sudah di siapkan."


"Vira.."


"Iyah Om."


"Kamu jangan nakal yah nanti."


"Iyah Om, tapi Om janji kan gak bakal berantem sama mbak Bela?"


Dimas menatap Bela.


"Iyah Om janji, kamu juga di sana jaga diri, nanti om pasti sangat sering melihat kamu ke sana."


Vira mengangguk dia memeluk Dimas sangat erat, tidak lupa mengajak Bela juga.


"Ya Allah kenapa aku benar-benar sangat sedih ketika Vira mau di adopsi oleh orang lain? Aku tidak menerima ini ya Allah," batin Bela.


Mereka bertiga akhirnya tertidur. Dimas memeluk Vira dan Bela di tangan nya yang panjang.


Keesokan harinya Bela dan Dimas berpamitan kepada Vira.


Bela terlebih dahulu masuk ke dalam mobil sementara Dimas harus berbicara dengan ketua yayasan.


Setelah selesai dia masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Kita akan pulang, pasang sabuk pengaman kamu."


Dimas melihat Bela menyembunyikan wajah nya.


"Kamu baru saja bangun kenapa sudah tidur lagi?" tanya Dimas.


"Apa kamu menangi?" tanya Dimas. Bela tetap tidak menjawab nya.


"Saya minta maaf Bela, bukan saya tidak mau membawa Vira bersama kita, namun kamu juga harus memikirkan masa depan Vira."


Bela menatap Dimas.


"Kakak tidak menepati janji! Kakak pembohong, bukan kah sebelum nya kakak yang ngomong kalau Vira akan tinggal bersama kita?" tanya Bela.


Dimas memeluk Bela.


"Cup.. Cup.. Sudah jangan sedih, saya tidak memberikan Vira kepada orang sembarangan, kita masih bisa seperti biasa mengajak nya bermain."


"Tetap saja beda kak."


"Apa kamu tidak ingin Vira bahagia? Dia akan bahagia memiliki orang tua angkat."


"Mereka tidak benar-benar mencintai Vira." ucap Bela sangat trauma dengan apa yang di alami oleh nya.


"Bela kamu tidak bisa menyamakan orang tua angkat kamu dengan orang yang mau mengadopsi Vira, kamu jangan egois!"


"Mereka tidak mencintai Vira kak, aku mohon jangan berikan Vira kepada mereka."


Dimas menghela nafas panjang.


"Bela jangan seperti ini, apa kamu ingin Vira bernasib sama seperti kamu?"


Bela seketika langsung terdiam.


"Saya tetap mengawasi Vira, hidup dengan kita belum tentu Vira akan bahagia," ucap Dimas.


"Saya sudah tau Vira akan bahagia bersama kita di sini karena dia bersama dengan saudara kandung nya dan saya anak yang benar-benar masih butuh kasih sayang orang tua," batin Dimas.


"Sudah jangan menangis lagi, kita tidak akan pulang kalau kamu masih menangis."


Dimas menghapus air mata Bela. Bela melihat ke arah Vira yang juga menangis di pelukan ustazah."


"Vira maafin mbak yah, mbak gak bisa bawa kamu."


Dimas mempercepat meninggalkan panti asuhan.


Selama perjalanan Bela hanya diam, Dimas mengajak nya berbicara namun Bela hanya diam.


"Saya tau ikatan batin mereka pasti ada sehingga sangat sedih ketika berpisah," batin Dimas.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah, Bela tidak mengatakan apapun dia langsung masuk begitu saja mencari Bibik untuk mencurahkan semua isi hati dan pikiran nya.


"Tolong jaga Bela yah bik, saya ada pekerjaan di luar."

__ADS_1


Dimas meninggal kan rumah dan bertemu dengan Rio yang sudah menunggu nya dari tadi di perusahaan.


"Maaf Rio membuat kamu lama menunggu," ucap Dimas setelah sampai.


__ADS_2