
"Ada apa Pak? Apa saya melakukan kesalahan lagi?" tanya Bela.
"Saya bilang bahas setelah makan sebelum tidur di kamar, jangan di sini," ucap Dimas.
Bela jadi kefikiran karena takut apa yang mau di bicarakan oleh mereka secara privasi.
"Baiklah Pak."
"Habis lah aku, aku yakin pak Dimas pasti akan menghukum ku habis-habisan, siapa yang sudah mengadukan aku duduk di balkon bersama Fahri."
Setelah selesai makan Dimas terlebih dahulu masuk ke dalam kamar sementara Bela masih bersih-bersih di dapur.
"Kemana dia? Apa dia tidak ingat apa yang aku katakan tadi?"
Dimas menunggu Bela di kamar nya.
"Huff apa yang harus aku kerjakan lagi? Kenapa tiba-tiba kerjaan tidak ada padahal biasanya sangat banyak," batin Bela yang mencoba-coba cari pekerjaan agar dia tidak masuk ke dalam kamar.
"Pokoknya pak Dimas harus tidur dulu sebelum aku masuk ke dalam kamar."
Namun percuma saja dia tidak memiliki alasan untuk tidak masuk ke kamar. Dari pada kena marah akhirnya dia memutuskan masuk ke dalam kamar.
"Aku sudah pasrah mau di marahin atau mau di perlakukan seperti apapun itu."
Bela membuka pintu namun ternyata Dimas sudah tertidur.
Bela menghela nafas lega, dia sangat senang karena akhirnya Dimas tidur seperti apa yang dia harapkan.
Dia menutup pintu namun tiba-tiba Dimas terbangun.
"Akhirnya kamu datang juga, saya sudah menunggu kamu dari tadi."
Bela sangat panik melihat Dimas bangun.
"Ma-maaf Pak, pekerjaan saya di luar sangat banyak."
"Sudah lah besok saja, saya juga sudah sangat mengantuk."
Dimas lanjut tidur akhirnya Bela bisa sangat lega dan tidur di sofa seperti biasa nya.
Namun Bela sudah satu jam berbaring di sana dia tidak bisa tidur sama sekali karena memikirkan apa yang mau di bicarakan oleh Dimas kepada nya.
"Kira-kira apa ya yang mau di bicarakan oleh pak Dimas kepada ku?" batin Bela bertanya-tanya.
Tidak beberapa lama akhirnya dia berhasil tidur walaupun sudah tengah malam.
"Selamat pagi...."
Pagi-pagi Bela sudah langsung ke dapur dan menyapa teman-teman nya.
"Pagi juga Bela."
"Kok lesu banget sih, ada apa?" tanya Bela.
Semua nya langsung menghela nafas panjang dan memasang wajah sedih.
"Ada apa sih?" tanya Bela yang sangat penasaran sekali.
__ADS_1
"Seharusnya minggu ini kami semua sudah gajian dan juga bulan ini adalah jatah semua para pelayan libur satu minggu," jelas pelayan.
"Emang nya Gajian dan libur nya berapa lama?"
"Biasanya lima bulan sekali Gajian, begitu juga dengan libur."
"Kenapa tidak langsung tanya saja?"
"Huff ini bukan pertama kalinya Bel, Tuan Dimas selalu saja melupakan nya."
Bela tidak bisa mengatakan apapun karena dia juga tidak tau urusan nya seperti apa.
Namun tiba-tiba Serli datang.
"Bu Serli."
Melihat Serli datang mereka sangat senang sekali dan langsung berkumpul.
Bela hanya bisa melihat-lihat mereka dari dapur.
"Mereka enak banget yah bisa gajian, ada hari-hari yang membuat mereka bahagia sementara aku tidak," batin Bela.
Dari atas Dimas melihat Bela yang tersisihkan sendiri di dapur.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa hanya diam saja tidak membuat sarapan?" tanya Dimas membuat Bela terkejut.
"Iyah pak, maaf."
"Jangan lupa buat kan saya minum."
Mereka sangat senang sekali dan mengucapkan terimakasih kepada Dimas.
"Apa saya juga memiliki hari libur Pak?" tanya Bela sambil meletakkan minum di atas meja.
Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Selama mereka semua tidak ada di sini kamu bertanggung jawab atas semua pekerjaan di rumah ini karena itu sudah menjadi tugas dan kewajiban mu."
Bela mengangguk mengerti. Semua pelayan terlihat iba kepada Bela namun mereka tidak bisa melakukan apapun.
"Bibik rencana nya mau liburan kemana?" tanya Bela yang sambil membantu Bibik merapikan pakaian untuk pergi.
"Bibik mau pulang kampung saja menjenguk keluarga Bibik."
"Oohhhh begitu yah Bik, hati-hati yah bik," ucap Bela.
"Iyah, kamu juga di sini jaga diri baik-baik yah," ucap Bibik.
Mereka semua pun pergi meninggalkan rumah di hari itu juga karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarga masing-masing.
Mereka semua memiliki suami dan anak, keluarga dan juga orang tua.
Bela melihat mereka pergi menggunakan bus membuat nya sangat sedih.
"Aku sudah terbiasa dengan mereka, kalau mereka tidak ada rumah ini pasti akan sangat sepi."
"Permisi..." tiba-tiba ada satu perempuan paruh baya menggunakan jilbab menghampiri Bela.
__ADS_1
"Iyah Bu, mau cari siapa?"
"Saya mau mencari pak Dimas, apa ini benar rumah pak Dimas?"
"Iyah ini benar rumah pak Dimas, tapi kalau boleh tau ada keperluan apa yah? Soalnya pak Dimas tidak ada di rumah."
"Tidak apa-apa mbak, tolong berikan saja ini kepada beliau. Saya percaya sama Mbak," ucap perempuan itu memberikan satu amplop putih.
Bela mengangguk.
"Humm kalau boleh tau nama mbak siapa? Seperti nya kita pernah ketemu."
"Nama saya Bela Bu."
"Mungkin Ibu salah lihat mungkin, saya tidak pernah melihat Ibu sebelum nya," jawab Bela.
"Kamu sangat mirip dengan salah satu Anak murid saya."
Bela hanya tersenyum saja, Bela mengajak ibu itu masuk namun ibu itu tidak mau. karena terburu-buru juga.
Bela menutup gerbang dan masuk ke dalam.
Di kantor Dimas bekerja seperti biasa namun lagi-lagi dia tidak bisa fokus karena kefikiran kepada Bela.
"Ada apa dengan ku kenapa akhir-akhir Ini aku sangat sering memikirkan dia?"
"Aaarrggghhh!!! Percuma saja aku memaksa kan diri untuk bekerja sebaik nya aku keluar saja."
Dimas keluar dari ruangan nya namun tidak sengaja bertemu dengan Serli.
"Pak kita boleh berbicara sebentar?" tanya Serli.
"Kalau tentang pekerjaan saya lagi tidak fokus untuk membahas itu."
"Bukan pak, ini tentang Bela."
Dimas langsung menginyakan mereka naik ke atas tempat untuk diskusi private.
"Ada apa? Apa kamu menemukan sesuatu tentang Bela?" tanya Dimas.
"Bukan Pak, bukan tentang itu saya
mau membahas kejadian pagi ini."
Dimas menghela nafas panjang.
"Ada apa?"
"Apa Bapak tidak memikirkan untuk memberikannya Bela gaji dan juga libur sama seperti yang lain nya?"
"Kalau di lihat-lihat Bela yang cukup lelah karena dia memiliki tanggung jawab yang sangat banyak dan juga besar."
"Kamu lupa sebelum dia bekerja dengan saya, saya sudah memberikan uang senilai 500 juta kepada nya."
"Tapi itu bukan untuk Bela Pak, itu untuk orang tua angkat nya yang serakah itu. Bela memiliki kebutuhan yang harus dia beli sendiri."
Dimas hanya diam saja.
__ADS_1