
Mereka membicarakan tentang hubungan Dimas dan Bela. Mereka menyarankan untuk menikah saja di sini pakai wali saja.
Dimas sih setuju, hanya saja pernikahan itu adalah sesuatu yang sangat sakral, tidak mungkin hanya dengan wali saja mereka bahagia.
Semua keputusan ada di tangan Bela, mereka semua sudah sangat mendukung menikah terlebih dahulu, karena kalau menunggu keluarga mereka tidak akan menikah.
Perbedaan pendapat akan membuat acara nya semakin lama, antara benci dan dendam akan membuat urusan semakin ribet.
"Aku akan memikirkan ini semua terlebih dahulu," ucap Bela.
"Kamu tidak boleh lama-lama Bela, sesuatu yang baik jangan di perlambat, kita tidak tau apa masalah yang akan terjadi di kemudian hari."
Bela mengangguk. "Aku mengerti, terimakasih semangat dan juga dukungan mbak Kayla, mbak Serli, Fahri dan juga Roi," ucap Bela.
"Kamu tidak ingin berterimakasih kepada ku?" tanya Dimas. Mereka semua tertawa.
"Kami tidak bisa lama-lama di sini, ini juga sudah malam, kamu harus pulang ke tempat masing-masing." ucap Serli.
"Iyah, kami permisi dulu," ucap Roi ikut pamitan.
Fahri melihat Roi sambil tersenyum. Ternyata saran dari nya kepada Roi sedikit berjalan lancar.
Roi mengantar kan Serli ke rumah nya. "Apa kamu tidak pulang? kenapa kamu masih di sini?" tanya Serli kepada Roi.
"Aku mau memastikan kamu masuk terlebih dahulu ke dalam." Serli menghela nafas panjang. "Oke baiklah, aku akan masuk ke dalam, kamu juga bisa pula sekarang.. Setelah serli masuk Roi pun pulang.
"Ada apa dengan nya? Kenapa tiba-tiba dia berubah lagi?" batin Serli.
Keesokan harinya.. Dimas bangun lebih awal karena hari ini dia dan bela akan membeli peralatan sekolah Vira.
"Sayang.... bangun," ucap Dimas masuk ke kamar Bela.
Bela bergeliat. "Aku masih sangat ngantuk."
"Kamu bilang hari ini kita harus membeli peralatan sekolah Vira," ucap Dimas.
"Iyah-iyah, aku bangun," ucap nya dan langsung duduk. Dia melihat ke arah Dimas.
"Aku baru saja mimpi kalau nenek dan kakek datang ke sini," ucap Bela. Dimas tersenyum. "Itu karena kamu kefikiran."
"Mungkin bisa jadi, aku ke kamar mandi dulu," ucap Bela.
Setelah mereka siap-siap, sebelum berangkat sarapan terlebih dahulu apa adanya di atas meja.
Setelah selesai mereka pun segera berangkat. "Kak, boleh gak hari ini belanja baju, aku sudah lama tidak beli baju baru."
__ADS_1
"Kamu dan Vira bebas mau beli apa saja tanpa mengeluarkan uang sepeser pun," ucap Dimas.
"Kakak seriusan?" tanya Bela. Dimas mengangguk sambil tersenyum.
Sementara di apartemen Fahri, mereka berdua masih tidur. Berhubungan hari libur Fahri ingin menghabiskan waktu di tempat tidur sama seperti Serli.
Namum impian nya itu tidak akan terjadi, karena pintu rumah nya sudah ada yang mengetuk. Dia mau marah namun ketika melihat Roi di balik pintu dia tidak jadi marah.
"Apa yang kamu lakukan hari Minggu di sini?" tanya Serli.
"Aku mau menemui kamu, oh iya aku juga mau ngajak kamu ke sesuatu tempat?"
"Ngapain? Aku tidak mau."
"Kenapa? apa yang mau kamu lakukan di sini?" tanya Roi.
"Hufff aku ingin menghabiskan waktu tidur, dan istirahat. Besok sudah harus bekerja lagi."
"Aku bilang, aku tidak mau pergi kemana pun."
"Kalau kamu tidak mau pergi, aku tidak akan membiarkan kamu istirahat dengan tenang."
Serli menghela nafas panjang. "Emangnya mau kemana?"
"Ke sirkuit balapan motor."
"Hari ini aku akan lomba, apa kamu tidak mau mendukung ku?"
"Aku tidak mau! Kenapa kamu tidak ajak Clara saja?"
"Huff dia tidak akan mau, lagian dia tidak boleh tau aku adalah anak motor."
"Aku juga tidak mau ikut," ucap Serli masuk ke dalam.
"Kamu harus ikut aku," ucap Roi menarik tangan Serli dan mendorong nya ke dinding.
Serli kaget karena Roi mengunci nya di dinding.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Serli. "Kalau kamu tidak mau ikut, aku tidak akan melepaskan kamu."
"Kenapa kamu maksa aku sih?" tanya Serli.
"Aku ingin di temanin oleh perempuan Sama seperti teman ku yang lain juga."
"Aku sangat lelah aku mau istirahat."
__ADS_1
"Kamu bisa istirahat setelah pulang dari sana."
"Aku mohon," ucap Roi menatap wajah Serli.
"Roi benar-benar kelewatan, kenapa harus seperti ini sih, jantung ku bergetar hebat, aku sama sekali tidak bisa menolak nya."
Setelah beberapa lama akhirnya dia mau. "Baiklah aku mau, tapi tidak bisa lama-lama."
"Oke, kalau begitu kamu siap-siap, aku akan menunggu kamu."
Roi melepaskan Serli menunggu nya di sofa.
Di kamar Serli sangat bingung mau pilih baju apa yang harus dia pakai.
Dia tidak terbiasa memakai celana panjang, namun karena naik motor dia harus pakai celana panjang dan kaos serta topi untuk menutupi Wajah nya dari paparan matahari.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai. "Ayo kita berangkat," ucap Serli.
"Wahhh Serli... kamu sangat berbeda sekali ketika berpakaian seperti ini."
"Jangan mencoba mengalihkan suasana deh, aku sedang kesal, ayo buruan berangkat."
"Jangan marah-marah gitu dong, kamu sudah cantik kalau marah tambah cantik."
candaan Roi membuat Serli sangat salting, dia tidak bisa menutupi nya namun Untung saja Roi berjalan di depan nya.
Satu jam di perjalanan akhirnya sampai. Serli sangat heran kenapa tidak ada perempuan lain di sana selain pengurus, penjaga dan juga beberapa wanita yang bekerja di sana saja.
"Kamu bilang semua teman mu membawa pasangan, kenapa hanya ada aku?" tanya Serli.
"Wahh Roi, kau benar-benar sengaja memamerkan pacar mu yang cantik itu?" tanya teman nya.
Roi tertawa kecil. "Enggak lah bro, kalian selalu saja memamerkan perempuan kepada ku, sekarang saat nya gantian, sekarang tunjukkan dia mana wanita yang kalian bawa itu."
"Kami sudah putus, aku akan mencari yang baru."
"Eh tapi ngomong-ngomong dia sangat cantik sekali, di mana kamu menemukan nya?"
"Dia adalah sekertaris pak Dimas."
"Pantesan saja wajahnya tidak asing, gila loe bro membawa orang kedua dari perusahaan pak Dimas."
"Dia belum menjadi pacar ku, tapi sebentar lagi akan menjadi pacar ku," ucap Roi.
"Aku yakin dia tidak mau sama kamu, secara kamu hanya pengangguran. kerjaan nya hanya lomba motor saja, punya uang hanya karena menang saja."
__ADS_1
"Oohh ternyata semua teman-teman Roi tidak tau status Roi seperti apa, kalau bisa di bandingkan, penghasilan Roi jauh lebih besar dari ku," batin Serli tidak sengaja mendengar pembicaraan yang terakhir karena dia mendekati Roi.
"Serli, Kenalin mereka semua adalah teman-teman ku," ucap Roi. Roi tersenyum kepada mereka semua yang memperkenalkan diri.