Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 42


__ADS_3

Dia memberikan bekal Fahri kepada Serli karena Serli mau Bela lah yang mengantarkan Bekal ke Dimas, melihat wajah Dimas saja Serli sudah sangat takut.


"Tok!! Tok!! Tok!!"


ketukan pintu ruangan Dimas.


"Masuk!"


Bela mendorong pintu dia melihat Dimas ternyata bersama Tami di dalam.


Bela melihat Tami duduk di kursi kekuasaan Dimas dan Dimas membahas pekerjaan dengan jarak cukup dekat dengan Tami.


Dimas melihat ke arah pintu.


"Maaf pak, saya tidak tau kalau Bapak sedang bekerja," ucap Bela.


"Kalau begitu saya permisi dulu yah pak."


"Baiklah, jangan lupa periksa pekerjaan kamu lagi yah," ucap Dimas sambil tersenyum kepada Tami.


"Perempuan itu siapa? Kenapa dia terlihat sangat dekat dengan pak Dimas? Bahkan tidak ada perempuan yang di senyumin oleh pak Dimas selain aku," batin Bela.


"Ada apa kamu ke sini?"


"Saya mau mengantar kan makan siang Bapak karena supir hari ini tidak datang."


"Baiklah saya ambil, segera lah pulang."


Dimas sangat dingin sekali tidak seperti biasanya membuat Bela bingung.


"Kenapa pagi tadi Bapak tidak sarapan, kalau bapak sering mengabaikan waktu makan, bapak akan sakit."


"Saya buru-buru."


"Tidak ada lagi kan yang penting? sebaiknya kamu pergi, besok kalau tidak ada supir tidak perlu antar makanan untuk saya."


"Dia pasti datang ke sini mau bertemu dengan Fahri," batin Dimas.


"Baik pak." Bela langsung keluar dari ruangan Dimas dengan perasaan gundah.


"Sudah selesai?" tanya Fahri yang menunggu Bela keluar.


"Kebetulan banget ketemu kamu, ngomong-ngomong ada apa dengan pak Dimas? kenapa seperti nya mood nya tidak baik?" tanya Bela.


"Perasaan dari tadi tidak ada masalah, mungkin hanya lelah saja."


"Oohh ya udah kalau begitu sebaiknya aku pulang saja."


Fahri mengangguk.


"Sudah ku tebak kalau dia ke sini tujuan utama nya hanya mau bertemu dengan Fahri," batin Dimas yang mengintip mereka dari pintu.


Di sore hari nya Dimas dan Fahri pulang bersama dari perusahaan.


"Ambil lah ini."


Dimas memberikan satu kunci apartemen kepada Fahri.

__ADS_1


"Ini apa Tuan?"


"Ini kunci apartemen yang baru saya beli untuk kamu."


"Apartemen Tuan? Untuk saya?" tanya Fahri.


"Iyahh, apartemen yang dekat dengan perusahaan agar kamu tidak terlalu jauh dari sini. Anggap saja ini sebagai hadiah karena kamu sudah berhasil."


"Seharusnya aku sangat senang di berikan apartemen seperti ini, tapi aku tidak mau tinggal jauh dari Bela, aku sudah sangat betah di rumah itu."


"Kamu tidak suka?"


"Bukan Tuan, saya sangat suka sekali, saya berterimakasih banyak."


Dimas tersenyum.


"Mulai besok kamu sudah bisa pindah ke sana."


"Baik Tuan."


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Dan seperti biasa Bela menunggu mereka di ruang tamu.


Bela melihat Fahri yang tersenyum sambil menyapa nya. Dimas yang biasa di sambut oleh Bela merasa cemburu sekali melihat Bela sangat hangat kepada Fahri.


Dimas duduk di sofa kamar nya sambil bersandar.


Tiba-tiba Bela masuk ke dalam kamar, dia langsung duduk dengan benar menatap Bela.


"Apa Bapak mau mandi? Saya akan menyiapkan pakaian untuk bapak."


Dimas tidak menjawab nya dia langsung pergi ke dalam kamar mandi.


"Fahri ini sudah malam sebaiknya kamu pergi tidur!" ucap Dimas Dari atas.


mereka berdua terkejut.


"Baik Tuan."


"Bela aku pergi tidur dulu yah, selamat malam." Fahri masuk ke dalam.


"Apa kamu mau tidur di luar sana?" tanya Dimas kepada Bela yang diam saja.


Bela masuk ke kamar dia melihat Dimas yang duduk di pinggir kasur.


"Saya sudah pernah bilang agar kamu menjaga jarak dengan Fahri kan? kenapa semakin hari hubungan kalian semakin dekat?"


"Kami hanya..."


"Jangan membuat alasan! Saya sudah membuat peraturan di perusahaan mau pun di rumah tidak di bolehkan untuk berpacaran!"


"Tapi Pak!"


"Jangan membantah saya Bela! Kamu tidak pantas untuk Fahri, jangan mencoba mengganti pekerjaan nya dan juga waktu nya dan jangan datang lagi ke perusahaan hanya untuk mengganggu pekerjaan nya!"


"Apa kamu tau setelah kamu dengan Fahri dekat, kinerja nya cukup buruk!"


Bela langsung terdiam mendengar itu.

__ADS_1


"Saya minta maaf Pak."


Melihat Dimas sangat marah seperti itu membuat hati nya sangat sedih.


Dia langsung berbaring di sofa membelakangi Dimas dan menahan air mata nya agar tidak jatuh.


"Tidak Bela, kamu tidak boleh menangis, dia hanya menasehati kamu, kamu tidak boleh menangis."


Dimas menghela nafas panjang melihat Bela langsung diam.


"Saya tidak bermaksud untuk marah, saya hanya ingin Fahri mengejar cita-cita nya dengan baik tampa ada yang menggangu nya."


Bela tidak merespon nya dia sudah menangis dan tidak beberapa lama ketiduran.


Sementara Dimas sama sekali tidak bisa tidur karena merasa bersalah, di tambah lagi dia mendengar suara isakan Bela.


Dia menarik bahu Bela dan benar saja pipi Bela masih basah.


"Bagaimana aku mengakui nya Bela? saya takut."


Dimas menghela nafas.


Keesokan paginya Bela bangun sudah tidak melihat Dimas di kamar dia mencari keluar namun Dimas tidak ada.


"Cari Fahri yah?" tanya teman nya.


"Emangnya Fahri kemana?"


"Loh kamu gak tau kalau hari ini Tuan Dimas meminta Fahri tinggal di apartemen yang baru saja di beli oleh Tuan hadiah untuk Fahri karena Fahri sangat rajin dia juga berhasil mengurus proyek."


Tiba-tiba Bela ingat kalau Dimas mengatakan kinerja Fahri tidak bagus namun kenyataannya sangat bagus.


"Oohh gitu yah, kalau pak Dimas kemana?"


"Loh kamu gak tau kalau pak Dimas pagi-pagi sekali sudah pergi."


Bela melihat jam sudah jam delapan Lewat.


"Kenapa dia tidak membangunkan kan aku?"


"Mungkin tuan tidak mau mengganggu kamu."


"Eh tunggu mata kamu kok bengkak sih? Habis nangis yah?" tanya Bibik.


"Enggak bik, ini hanya karena tidur terlalu lama."


"Ya ampun, ya sudah sebaik nya kamu pergi mandi."


"Bagaimana dengan makanan?"


"Hari ini Tuan Dimas dan Fahri tidak makan di rumah, dan juga tuan Dimas dia akan makan siang di luar jadi kamu tidak perlu repot-repot untuk memasak, kamu hari ini istirahat saja."


Bela sangat heran.


"Ada apa sih dengan pak Dimas, kenapa tiba-tiba seperti ini? Kalau Pak Dimas marah tentang aku dengan Fahri ya sudah, tidak harus seperti ini, bagaimana kalau dia tidak makan sama sekali di luar sana?"


Bela sangat mengkhawatirkan Dimas.

__ADS_1


Walaupun Bela di larang untuk masak bekal untuk Dimas, tetap saja di memasak dan berniat mengantarkan ke kantor Dimas.


Dia harus memastikan Dimas makan atau tidak.


__ADS_2