
Banyak orang yang tidak tau kalau Vira adalah anak pak Irfan itu sebabnya tidak ada yang banyak bicara, mereka berfikir kalau Vira adalah keponakan nya Dimas.
Bela terbangun karena merasa dingin sekali, dia membuka mata nya namun di luar sudah sangat gelap.
Bela turun dari tempat tidur namun masih kesakitan karena luka di kaki nya infeksi dan badan nya terasa berat, di tambah lagi kepala nya sangat pusing sekali.
"Vira... Vira..." panggil Bela mencari Vira ke kamar nya namun ternyata Vira belum pulang. Bela sangat khawatir dia langsung menghubungi Dimas.
Dimas baru saja selesai bekerja dia melihat Vira ketiduran di sofa ruangan nya. Dia baru saja mau membawa Vira pulang namun handphone nya berdering dari Bela.
"Halo..."
"Di mana Vira? Di mana dia? Kenapa sampai malam seperti ini, Bapak belum juga mengantarkan nya pulang?" tanya Bela.
"Saya minta maaf, saya membawa nya ke kantor saya,"
"Aku akan datang menjemput nya," ucap Bela.
"Tidak perlu, saya sudah mau ke rumah kamu."
Telpon langsung di matikan, tidak beberapa lama Dimas dan Vira sampai.
Bela menunggu di luar apartemen kedinginan karena sudah malam.
Bela langsung menggendong Vira.
"Biar aku saja yang membawa nya ke kamar,"
"Vira cukup berat, biarkan saya membawa nya masuk ke dalam."
Dimas membawa Vira masuk ke dalam. Namun ketika di baring kan ke tempat tidur Vira malah kebangun karena terkejut dia memeluk Dimas agar kembali tidur lagi.
"Saya minta maaf karena sudah marah kepada bapak tadi," ucap Bela. Dimas menggeleng kan kepala nya. "Tidak apa-apa, saya juga salah karena tidak mengabari kamu," ucap Dimas.
Bela melihat Vira yang tidur di pangkuan Dimas.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Dimas karena terlihat sangat pucat bahkan kaki nya masih belum sembuh.
"Sudah membaik," jawab Bela.
Dimas tersenyum tipis, dia berusaha melepaskan Vira namun Vira tidak mau melepaskan Dimas.
"Apa malam ini bapak bisa tidur di sini?" tanya Bela.
Dimas terdiam sejenak, dia mengingat dulu Bela yang selalu membenci nya dan mengusir nya.
__ADS_1
"Kamu yakin tidak apa-apa saya tidur di sini?"
"Saya takut Vira ngambek dan menyalah kan saya lagi," ucap Bela.
Dimas mengangguk. "Tapi saya tidak memiliki baju ganti," Bela mencari baju untuk Dimas.
Setelah Dimas dan Vira tidur Bela keluar dari kamar Vira, dia memegang kepala nya yang sangat sakit sekali.
Mencari obat untuk meredakan sakit kepala nya, namun tiba-tiba Kepala nya sangat pusing sampai tidak sengaja dia menjatuhkan gelas.
Dimas yang baru saja mau tidur kaget mendengar suara gelas itu, dia buru-buru keluar dan sangat terkejut melihat Bela.
"Ada apa?" tanya Dimas.
"Maaf, saya membuat tidur Bapak terganggu," ucap Bela sambil jongkok mau membersihkan pecahan kaca.
"Kamu duduk saja, saya akan membersihkan nya," ucap Dimas tidak sengaja menyentuh tangan Bela.
Dimas kaget karena tangan Bela sangat panas. Dia menatap wajah Bela yang semakin Pucat dan mata nya sangat sayu sekali.
"Kenapa tangan kamu sangat panas? Kamu demam?" tanya Dimas meletakkan tangan nya di dahi Bela, namun ternyata Bela lemas.
Dimas langsung menahan dan mengangkat nya. Dimas bingung harus apa namun dia membawa Bela ke sofa terlebih dahulu.
Dimas langsung menghubungi dokter untuk Bela. Setelah di periksa oleh dokter ternyata Bela kecapean, banyak Fikiran di tambah lagi luka di kaki nya infeksi.
Dimas sangat khawatir sehingga bingung bagaimana mengobati Bela.
"Om Dimas..." ucap Vira terbangun menangis keluar dari kamar.
Dimas yang baru saja mau tidur sambil duduk di atas karpet tiba-tiba kaget karena Vira keluar sambil menangis.
Vira berfikir kalau Dimas pergi, namun setelah Dimas dia lihat dia berhenti menangis dan lanjut tidur di paha Dimas.
Dimas layak nya seperti ayah untuk Vira dan Bela malam Ini, dia harus bergadang untuk menjaga Bela.
"Aku bukan anak pembunuh... Aku bukan anak pembunuh..." Bela mengigau sepanjang malam.
Dimas tau sebenarnya Bela sangat depresi dengan kenyataan sebenarnya.
Keesokan harinya untung saja hari Minggu jadi Dimas libur, Vira libur begitu juga dengan Bela.
Bela membuka mata nya dan memegang kain basah di dahi nya.
Dia baru menyadari kalau Dimas menggenggam tangan kanan nya sepanjang malam.
__ADS_1
Bela juga sangat kaget karena Vira tidur di pangkuan Dimas yang kelihatan nya sangat mengantuk namun harus duduk.
Dimas menyadari Bela bangun. "Bagaimana keadaan kamu? apa masih ada yang sakit?" tanya Dimas.
Dimas memeriksa badan Bela yang masih sama panas nya, bahkan mata nya masih terlihat sangat sayu.
Dimas memindahkan Vira ke sofa dan langsung ke kamar mandi agar ngantuk nya hilang.
Dimas berjalan ke dapur mencari sesuatu untuk bisa di masak sarapan pagi.
Tidak beberapa lama akhirnya jadi dia memberikan nya kepada Bela, namun Bela tidak memiliki kekuatan untuk mengangkat sendok.
Dimas menyuapi Bela walaupun terasa sangat canggung.
Setelah selesai dia memberikan Bela obat.
Tidak beberapa lama Vira juga bangun, dia tau Bela sakit dan merasa bersalah karena sudah sangat Jahat kepada Bela.
Tidak beberapa lama Bibik datang, Bibik datang di hari Minggu karena mendengar Bela sakit.
Karena sudah ada Bibik yang mengurus Vira dan Bela, Dimas memilih untuk mengistirahatkan tubuh nya di sofa ruang tamu tempat Bela tidur sepanjang malam.
Bela tidak betah di kamar seharian, sudah siang dia berjalan keluar. Dia berfikir Dimas sudah pulang namun ternyata Dimas tidur dengan sangat nyenyak di sofa.
Bela meminta Vira memberikan Bantal dan juga selimut, Bela juga meminta Vira agar jangan ribut.
Bibik melihat Bela perhatian kepada Dimas membuat Bibik sangat senang.
"Non ini sudah siang, saya harus ke sel pak Irfan, apa non gak apa-apa?" tanya Bibik.
"Iyah Bik gak apa-apa, terimakasih sudah mau datang ke sini."
Bibik mengangguk, Bibik berpamitan kepada Vira dan setelah itu pergi.
"Mbak Bela tidur saja," ucap Vira sambil memijit-mijit lengan Bela di kamar.
"Maaf yah, mbak jadi merepotkan kamu, seharusnya hari Minggu ini kita sudah ada di kolam berenang."
"Mbak harus sembuh dulu, kalau mbak sakit seperti ini tidak akan ada yang nemanin aku."
"Kata siapa? Kan ada Bibik sama Om Dimas."
Vira naik ke tempat tidur dan memeluk Bela.
"Aku minta maaf sudah nakal, aku minta maaf karena bikin mbak banyak Fikiran," ucap Vira.
__ADS_1
Bela tersenyum. "Ini bukan salah kamu, badan mbak aja yang tidak bisa di ajak kerja sama, akhirnya sakit deh," ucap Bela.