Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 154


__ADS_3

Dimas bangkit dan menatap wajah Bela dia memegang tangan Bela.


"Aku sangat heran kenapa pria kasar, jahat, kejam dan juga keras seperti pak Irfan bisa membuat anak yang begitu lembut, baik, ramah dan juga cantik seperti mu," ucap Dimas.


Bela tersipu malu. "iiihh kak Dimas, ini lagi serius, kenapa kakak bercanda?"


"Aku tidak bercanda, kamu memiliki sifat kebalikan dari pak Irfan."


"Walaupun sebenarnya wajah nya sangat mirip," ucap Dimas.


Bela mengelus rambut Dimas. "Terus lah berjuang, aku tau hal seperti ini tidak lah susah untuk kakak," ucap Bela.


"Demi kamu dan juga Vira, aku akan melakukan semua nya," ucap Dimas.


Bela tersenyum.


Di malam hari nya...


"Non, saya ijin untuk satu minggu ke depan saya tidak ke sini yah non," ucap Bibik.


"Loh kenapa bik?" tanya Bela.


"Tidak apa-apa Non."


"Bilang saja bik, ada apa?" tanya Bela.


"Tidak apa-apa Bik, percayakan saja Bela dengan Vira kepada saya," ucap Dimas.


"Baiklah Non, kalau begitu saya permisi dulu," Bibik pulang karena sudah malam.


"Mau kemana?" Bela menahan tangan Dimas.


"Iyah kenapa sayang?"


"Jangan tanya kenapa, sekarang jelas kan kenapa Bibik Ijin seperti itu?" tanya Bela.


"Mungkin Bibik mau istirahat, atau Bibik mau merawat pak Irfan."


"Jangan bohong, melihat kakak seperti ini membuat aku curiga."


"Jangan bilang, kakak yang meminta Bibik untuk tidak datang ke sini?!"


Dimas menggeleng kan kepala nya, semakin di sangkal oleh Dimas, Bela semakin curiga.


"Jangan bohong lagi deh kak," ucap Bela dengan kesal.


Dimas tersenyum. "Setiap kali ada Bibik membuat kita harus menjaga jarak, aku tidak ingin kita seperti itu."


Bela menghela nafas panjang. "Terserah kakak saja deh."


Di Hotel tempat Serli menginap.


"Akhirnya aku bisa bersantai tampa di ganggu oleh siapapun," ucap Serli.


Namun ternyata dia salah, handphone nya berbunyi tiba-tiba telpon dari Dimas mau membahas pekerjaan. Tidak beberapa lama akhirnya selesai.


Dia memutuskan untuk menonton TV sambil tiduran namun tiba-tiba ada yang mengetuk pintu hotel nya.

__ADS_1


"Ya ampun siapa lagi sih?" tanya Serli.


Dia membuka pintu dan sangat kaget ternyata di balik pintu adalah Roi dalam keadaan mabuk.


"Roi?!"


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Serli.


Roi berdiri dia langsung masuk begitu saja ke dalam kamar hotel itu.


"Apa yang kamu lakukan? jangan masuk ke kamar ku sembarangan."


Namun Roi langsung berbaring di sofa. Serli tidak bisa mengatakan apapun lagi dia menghela nafas panjang.


Tidak ada cara lain selain menyewa kamar baru.


Keesokan harinya Roi terbangun karena merasa hujan lebat membasahi wajah nya.


Dia membuka mata nya ternyata itu adalah Serli.


"Akhirnya kamu bangun juga! sudah sadar kan?" tanya Serli.


"Kenapa kamu menyiram ku?" tanya Roi.


"Jangan banyak tanya! kamu mabuk datang ke kamar ku, mengganggu ku dan membuat aku harus pindah kamar!"


"Kamu sangat menyebalkan, sekarang pergi dari kamar ku!"


Roi mengusap wajah nya. "Aku minta maaf," ucap Roi langsung pergi.


Melihat Roi pergi Serli merasa lega.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di markasnya.


"Akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh dengan ku, kenapa setiap waktu aku memikirkan Serli?" batin Roi.


Roi melihat banyak foto Serli, data-data Serli di kamar nya.


"Dia pasti sangat membenci ku karena datang pas mabuk berat, ini semua karena mencari tau hubungan Bu Sisi dengan orang tua pak Dimas aku terjebak seperti ini," ucap Roi.


Dia membaringkan tubuhnya di kasur. Karena sangat mengantuk dia akhirnya tidur.


Serli dan Dimas bertemu di sore hari nya.


"Bagaimana dengan pertemuan bapak dengan pak Irfan?" tanya Serli.


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Belum berhasil."


"Bapak tidak boleh menyerah pak, mau bagaimana pun Bapak harus segera menikah dengan Bela."


Dimas mengangguk. "Kamu benar, tapi persyaratan dengan Bela cukup sulit."


"Sebenarnya itu bukan lah persyaratan pak, itu sudah kewajiban Bapak untuk meminta ijin kepada orang tua Bela."


Dimas menghela nafas panjang. "Apa kamu punya ide?"


Serli menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


"Huff saya berharap Roi bisa menemani saya, namun dia kurang enak badan."


"Kurang enak badan? Bagaimana bisa? Tadi malam dia datang ke hotel saya mengganggu dan dalam keadaan mabuk."


"Saya minta maaf tentang itu, tapi tadi malam dia kehujanan setelah di paksa minum oleh beberapa orang dan setelah itu dia kurang tidur dan dia pulang kamu menyiram nya lupa menukar pakaian dan akhirnya masuk angin."


"Dia seperti nya sengaja bilang seperti itu agar aku yang bersalah," batin Serli.


"Tapi bagus deh dia sakit, jadi dia tidak perlu mengganggu ku."


keesokan harinya..


"Bela, apa saya bisa minta tolong berikan ini kepada Roi?" tanya Dimas.


"Kepada Roi? kenapa tidak suruh dia ke sini pak?"


"Dia masih sakit, ini harus segera di lihat oleh nya, tidak mungkin orang lain saya suruh karena tempat tinggal nya harus di jaga dengan baik, ini juga sangat penting."


Serli tidak bisa menolak dia menghela nafas panjang.


Dimas memberikan alamat Roi.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di alamat tertentu.


"Humm seperti nya ini deh, tapi yakin orang seperti dia tinggal di tempat seperti ini?" batin Serli.


Apartemen yang jauh dari pemukiman warga, terlihat sangat sepi dan juga bangunan lama.


"Permisi Mbak, ada yang bisa kami bantu?" tanya Tukang bersih-bersih di luar.


"Humm apa benar di apartemen ini ada yang bernama Roi?"


"Oohh mas Roi ada di lantai dua kamar no 155."


"Makasih yah Bu."


Serli masuk ke dalam, walaupun bangunan lama tapi tempat ini cukup bersih, masih ada beberapa orang yang tinggal di sini," batin Serli.


"Tok!!! Tok!! Tok!!" ketukan pintu.


Roi bangun dari tidur nya dia membuka pintu karena dia tau itu Serli.


Serli melihat Roi berdiri di depan pintu dengan keadaan pucat sekali, berantakan, dan juga memakai baju yang tebal, celana yang tebal serta mata yang lusuh.


"Aku ke sini tidak berniat mengganggu kamu, aku ke sini mengantarkan ini suruhan pak Dimas."


"Kamu masuk dulu," ucap Roi.


"Tidak perlu, aku sebaik nya langsung pergi."


"Aku meminta pak Dimas kamu yang datang kesini bukan hanya untuk mengantarkan surat itu, tapi aku butuh bantuan kamu."


Serli berhenti dan berbalik menatap Roi.


"Aku sakit seperti ini karena air yang kamu siram kemarin. Aku masuk angin dan ini sangat menyiksa ku karena tidak ada yang bisa merawat ku."


"Jadi kamu mau apa?"

__ADS_1


"Aku mau kamu merawat ku."


__ADS_2