Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 179


__ADS_3

"Aku sudah mendapatkan banyak masalah setelah bersama Bela ataupun sebelum bersama Bela, kami berdua janji akan melewati nya bersama-sama."


"Kami tidak tau, apa yang membuat mu sangat jatuh cinta kepada perempuan itu, tapi kami tidak bisa melarang kamu, terserah apa saja keputusan kamu."


Dimas mengangguk. Dia permisi dan keluar dari sana. Walaupun dengan perasaan yang sangat sedih dia keluar dari kamar Nenek nya.


"Sudah tidak apa-apa, semua nya Akan baik-baik saja, kamu harus menjaga hubungan kamu dengan Bela." ucap Tante kedua langsung memeluk Dimas.


Dimas mengangguk. "Terimakasih banyak Tante."


Keesokan harinya Bela dan Dimas sudah siap mau pulang.


"Aku dan adik ku hari ini akan pergi, kamu berjanji tidak akan menggangu dan membuat masalah di sini, kami juga tidak akan kembali ke sini. Semua yang sudah aku lakukan aku minta maaf."


"Dan aku sebagai anak dari pak Irfan dan Bu Sisi, aku minta maaf atas kesalahan orang tua ku, aku layak di benci, karena maaf saja tidak lah cukup."


"Aku sangat menyukai Nenek dan Kakek, aku juga menyukai Tante kedua, Tante pertama, aku sangat berharap aku di terima di keluarga yang sangat lengkap dan ramai seperti ini, namun ternyata tidak bisa," ucap Bela.


"Aku sangat ingin memiliki keluarga yang banyak, aku ingin memiliki keluarga yang perduli kepada ku, itu sebabnya aku sangat ingin Nenek dan kakek menerima ku."


"Tapi seperti nya itu semua hanya angan-angan saja, tidak mungkin aku bisa masuk ke dalam keluarga ini," ucap Bela.


Mereka semua hanya diam saja. "Terimakasih sudah membiarkan aku tinggal di sini beberapa hari, aku sangat senang bisa bertemu dengan kalian semua," ucap Bela.


Bela Keluar terlebih dahulu. "Kalau begitu kami pulang dulu yah Nek, Kakek, semua nya." ucap Dimas.


Dia menarik koper meninggalkan rumah Kakek nya.


"Tante akan mengantar kan kalian ke bandara," ucap Tante kedua. Setelah mereka pergi rumah yang tadi nya terlihat sangat ramai dan hangat mendadak jadi sangat dingin.


"Yahh Vira sudah pergi, kita tidak ada teman lagi," ucap anak-anak teman Vira.


"Aku juga sangat menyukai nya, aku berharap dia akan datang ke sini lagi," ucap mereka.


Nenek dan kakek tinggal berdua di ruang tamu karena mereka semua sudah sibuk dengan urusan masing-masing.


"Kakek kenapa diam saja? Apa n


Kakek sakit?" tanya cucunya.


"Enggak kok, Kakek hanya merasa lelah saja."


"Kenapa kakek membiarkan mereka pergi? Seharusnya Kakek menahan mereka."


Bela dan Dimas sudah meninggalkan kota itu. Tante kedua langsung menghubungi Kayla.

__ADS_1


Kayla kaget karena mendadak saja, mereka berdua sangat sedih karena keinginan Dimas tidak dapat di penuhi oleh keluarga nya.


"Sudah lah, sebaik nya kita selalu mendukung mereka."


"Iyah kak, mereka berdua pasti sangat sedih," ucap Kayla.


"Kamu sendiri bagaimana di sana?"


"Aku dengan Fahri baik-baik saja kok kak."


"mamah sama Papah selalu bertanya tentang hubungan kalian, alangkah baik nya kamu membawa Fahri ke sini lagi dan membicarakan hari H nya."


"Kak aku sudah bilang kan, sebelum Dimas menikah aku tidak ingin menikah terlebih dahulu."


"Ya sudah kalau begitu, kakak paham kok, kamu juga baik-baik jaga diri di sana."


"Iyah kak."


Telpon pun langsung mati.


Setelah beberapa lama Tante kedua pun langsung pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah Kakek dan nenek hanya duduk berdua termenung. Bahkan dia datang tidak di sapa sama sekali.


"Kakek... Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian sudah makan siang?" tanya Tante kedua.


"Kenapa rasa makanan nya sangat lain?" tanya Nenek. "Maksudnya nek?" tanya Tante kedua.


"Apakah ini masakan Bibik yang biasa?" tanya Nenek.


"Humm sebenarnya yang masak kemarin adalah Bela, beberapa hari dia yang masak, dan makanan yang dia masak benar-benar sangat enak."


"Tidak mungkin," ucap Kakek.


"Papah tidak percaya yah, apakah sekarang rasa nya sama seperti beberapa hari yang lalu?"


Kakek mencoba nya lagi, dan ternyata rasanya benar-benar sangat berbeda sekali.


Kakek dan nenek menghela nafas panjang. Ada wajah penyesalan dan kebingungan di wajah mereka.


"Mamah sama papah jangan berfikir keras mengenai hal itu, aku tau ini sangat berat bagi kalian."


"Apakah Dimas dan Bela sudah berangkat?" tanya Kakek.


Tante kedua itu tersenyum ketika di tanya tentang mereka. "Mereka sudah berangkat Pah, nanti kalau sudah sampai di Jakarta mereka akan mengabari kita."

__ADS_1


"Bagus lah kalau begitu, kalian kapan Akan pulang ke rumah masing-masing?"


"Seperti nya aku dengan anak-anak ku akan tinggal di sini lebih lama Pah, melihat keadaan papah sama mamah aku sangat takut meninggalkan kalian berdua."


"Kamu sama seperti kakak kamu Mamah nya Dimas, terimakasih sudah perduli kepada kami."


Tante kedua tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kita lanjut makan."


Di malam hari Dimas dan Bela baru saja sampai di Jakarta.


Bela sama sekali tidak mengatakan apapun, dia hanya diam entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang.


"Aku dengan Vira langsung ke rumah ku saja kak," ucap Bela.


"Iyah," ucap Dimas. Tidak beberapa lama Fahri dan Kayla datang menjemput mereka.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Kayla.


"Baik Mbak," jawab Bela. "Kamu yang sabar yah, aku dengan Dimas minta maaf atas sifat keluarga ku yang kurang baik kepada kamu."


"Enggak kok mbak, aku baik-baik saja."


"Sebaiknya kita langsung pulang saja, Vira dan bela pasti butuh istirahat," ucap Fahri.


Fahri dan Kayla mengantarkan mereka ke rumah Bela. Mereka sebenarnya masih ingin di sana namun melihat Bela tidak mau di ganggu akhirnya mereka memutuskan untuk pergi.


"Aku sangat kasihan kepada Bela, aku tidak tau membantu nya dengan cara apa, tapi aku sangat ingin membantu nya."


"Mendukung mereka saja sudah membantu mereka," ucap Fahri.


"Iyah kamu benar."


"Kakak kalau mau pulang tidak apa-apa kok," ucap Bela.


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Aku akan di sini bersama kamu," ucap Dimas.


Bela tersenyum. "Oh iya kak, apa kakak hari ini tidak ke kantor?" tanya Bela.


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Serli ada di kantor, aku akan menemani kamu di sini walaupun kamu mengusir ku, aku tetap tidak akan pergi."


"Aku tidak mau menunjukkan rasa sedih ku kak, aku ingin sendiri."


"Kamu bisa melakukan apapun, kamu bisa mengatakan apapun, jangan di tahan, kamu tidak perlu berpura-pura kuat," ucap Dimas.

__ADS_1


Dia mengelus kepala Bela, Menatap nya dengan sangat tulus.


__ADS_2