
100
Keysa kembali ke ruang make up, tampak si penata rambut masih ada di sana.
"Makasih pitanya," ucap Keysa kepada di penata rambut sambil mengembalikan pita tersebut. Berkat pita yang dipinjamkan wanita itu, Keysa bisa menjadi juara.
Setelah itu, Keysa pergi dari sana. Suasana di sekitar kampus sudah mulai sepi. Para mahasiswa pun sudah meninggalkan area kampus. Hingga, langkah Keysa terhenti saat mendengar suara orang bertengkar di balik dinding gedung. Keysa yang merasa kenal dengan suara itu pun, perlahan mendekat ke arah suara. Terdengar Devano dan Damar sedang bertengkar yang disebabkan oleh dirinya. Keysa merasa bersalah, karena lagi-lagi membuat ayah dan anak itu berselisih paham. Ia pun berinisiatif untuk melerai keduanya. Namun, kakinya langsung membeku, kaki Keysa tiba-tiba mematung saat mendengar ucapan Devano yang membuat Keysa terkesiap dan langsung mengurungkan niatnya.
"Dad, apa kau pikir aku benar-benar mencintai gadis itu?" ujar Devano saat Damar memarahinya habis-habisan karena bisa-bisanya suka kepada Keysa yang dari segi apapun Keysa tidak pantas untuk Devano.
"Kalau kau tidak mencintainya, lalu apa? Sampai-sampai kau membelanya mati-matian dan kau juga meminta aku untuk memilihnya."
"Aku tidak meminta Daddy untuk memilihnya, aku hanya meminta Daddy untuk bersikap objektif," tandas Devano. "Lagian, Daddy itu berpikir terlalu jauh. Aku tidak pernah menyukainya. Aku hanya bermain-main saja dengan Keysa," ucap Devano dengan begitu entengnya supaya Damar memercayai ucapannya. Namun, satu yang Devano tidak ketahui, gadis itu ada di sana dan mendengar semuanya.
Di sisi lain, tangan Keysa langsung mengepal sempurna. Wajahnya pun berubah merah padam menahan marah dan kesal saat mendengar semua ucapan Devano. "Kau ...." ucap Keysa dengan gigi yang bergemeretak, menahan amarah, bisa-bisanya ia hampir terlena dengan semua perhatian Devano yang hanya menganggapnya sebagai mainan saja. "Kau tidak jauh beda dengan lelaki lainnya, hanya melihat seseorang dari penampilan fisiknya saja. Tidak! Kau lebih parah, Dev. Kau sangat pintar mempermainkan perasaan seorang wanita. Bahkan, aku hampir saja terlena oleh permainanmu. Untung saja, aku segera mengetahui semuanya sebelum aku benar-benar masuk ke perangkapmu." Di dalam hati, Keysa terus memaki dan merutuki Devano, hingga akhirnya ia memilih pergi tanpa menemui Devano terlebih dahulu.
"Jadi, kau tidak benar-benar mencintainya?" tanya Damar memastikan kebenaran ucapan anaknya itu.
"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku mencintai gadis jelek macam dia," jawab Devano.
Mendengar jawaban Devano, Damar langsung mendekati sang anak lalu menepuk bahu Devano. "Bagus! Kau memang anak daddy," ucapnya dengan seutas senyum, kemudian pergi.
Devano bernapas lega saat Damar meninggalkannya dan percaya dengan ucapannya. Devano sendiri masih berdiam diri di sana, menunggu Keysa sesuai janji gadis itu yang akan memberi jawabannya di sana. Namun, setelah cukup lama menunggu, Keysa tidak kunjung datang.
"Sekali lagi kau mengingkari janjimu, Key." Dengan wajah sendu, Devano meninggalkan tempat itu. Sesekali menoleh ke belakang berharap gadis itu datang meskipun terlambat.
***
Di perjalanan pulang ke asrama, Keysa mendapat telepon dari sang kakek. Dengan enggan, ia pun menerima panggilan itu.
"Iya, Kek. Ada apa?" ucap Keysa dengan tidak bersemangat.
"Bukankah kamu telah menjadi putri kampus? Seperti yang kamu inginkan, tapi kenapa seperti tidak bersemangat seperti itu?" tanya Kakek Surya dari seberang sana.
__ADS_1
"Aku hanya kelelahan. Perlombaan sangat menguras waktu, tenaga juga emosi, Kek," kilah Keysa. "Apa Kakek menelpon untuk mengucapkan selamat untukku?" tanya Keysa, dengan seutas senyum— berubah antusias.
"Tidak. Kakek menelponmu untuk memberitahu kalau besok akan ada orang yang menjemputmu ke sana sesuai dengan janjimu sebelumnya," jawab Kakek Surya yang membuat senyum itu kembali menghilang.
Keysa terdiam. Ia tidak ingin pulang, tetapi ia juga tidak punya alasan untuk tetap tinggal. Semua orang tidak menyukai kehadirannya, bahkan seorang yang selalu menjadi penguatnya pun hanya menjadikan dirinya sebagai ajang main-main.
"Aku tunggu jemputannya," ucap Keysa kemudian. Ia menyetujui keputusan sang kakek.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Kakek Surya yang sedikit kaget cucunya menerima keputusannya tanpa perdebatan seperti sebelum-sebelumnya.
"Bukankah itu yang ingin kakek dengar. Aku akan pulang sesuai perintah Kakek. Sekarang, aku sangat lelah. Aku ingin istirahat dulu," ucap Keysa, lalu mengakhiri panggilannya tanpa menunggu jawaban sang kakek.
Jangan tanya bagaimana reaksi Kakek Surya. Lelaki tua itu memaki perbuatan cucunya yang tak berakhlak itu.
***
Hari telah berganti. Keysa mencoba melupakan semua yang terjadi semalam. Mencoba melupakan semua kata-kata yang terasa sangat menyakitkan yang keluar dari mulut Devano.
"Aku tak seharusnya merasakan hal seperti ini. Toh, dia bukan siapa-siapa aku. Dia hanya orang yang selalu menggangguku dengan ketengilan dan kearoganannya." Keysa yang sedang berjalan di koridor kampus terus menasehati dirinya sendiri.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu. Apa kau tidak merasa bersalah kepadaku?" tanya orang itu yang tidak lain adalah Devano.
'Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Arogan!' umpat Keysa dalam hati.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Keysa dengan seutas senyum yang setengah dipaksakan.
"Ya. Kesalahanmu fatal. Aku menunggu di belakang gedung sampai menjadi santapan nyamuk, tapi kau sama sekali tidak datang. Apa ingkar janji sudah menjadi kebiasaanmu? Kau yang berjanji, tapi kau sendiri yang mengingkarinya." Devano mengeluarkan unek-uneknya yang merasa Keysa ingkar janji.
'Aku tidak ingkar janji. Aku datang,' jawab Keysa dalam hati.
"Maaf aku lupa. Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku," jawab Keysa.
"Aku mau jawabannya sekarang juga," ujar Devano lagi.
__ADS_1
Keysa menarik kedua sudut ujung bibirnya membentuk lengkungan senyum, kemudian meraih tangan yang masih menggenggam pergelangan tangannya. "Apa yang ingin kau dengar dari jawabanku?"
"Tentu saja jawaban dari perasaanku," tandas Devano. "Key, aku sangat mencintaimu. Aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar teman." Devano menatap Keysa dengan begitu intens.
Lagi-lagi Keysa tersenyum, tetapi senyum itu terlihat sangat dipaksakan. "Jika itu yang kamu inginkan. Maaf, aku tidak bisa. Aku dan kamu tidak akan pernah cocok untuk bersama. Terlalu banyak perbedaan di antara kita. Kita itu bagaikan minyak dan air, yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menyatu." Keysa dengan tegas menolak perasaan Devano.
Namun, Devano juga memaksa untuk tetap jadian dengan Keysa. "Kalau belum dicoba, darimana kau tahu kalau kita tidak cocok. Aku sangat mencintaimu. Aku mohon terimalah perasaanku. Kita bisa menjadi pasangan yang serasi," ujar Devano lagi, memohon.
Devano mulai menyadari hari ini Keysa terlihat aneh.
"Jangan seperti itu, Dev! Aku tidak bisa," ucap Keysa, sambil melepaskan tangan yang masih digenggamnya. Kemudian ia sedikit berjinjit, menyentuh bibir Devano, memberikan lelaki itu ciuman perpisahan.
Devano pun dengan cepat menahan kepala Keysa, Ia sedikit menunduk, hingga Keysa tidak lagi berjinjit. Keduanya berciuman sangat lama dan tidak ingin saling melepaskan. Hingga, Keysa mendorong Devano saat pasokan oksigen di tubuhnya kembali menipis.
"Ini adalah ciuman ke lima. Berarti hutangku sudah lunas," ucap Keysa. "Dan hubungan antara kita pun sudah berakhir," lanjutnya, lalu pergi meninggalkan Devano.
Sementara itu, Devano masih mematung mencoba mencerna ucapan Keysa yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.
Tidak terasa air mata pun menetes begitu saja di pelupuk mata Keysa. Ia pun mengusapnya dengan kasar, lalu berlari dari gudang dan tidak ingin mengikuti kelas hari ini. Keysa memilih pulang ke asrama dan beres-beres.
Setelah selesai beres-beres, Keysa lantas masuk ke sebuah mobil hitam. Dari dalam mobil, untuk terakhir kalinya, Keysa memerhatikan gedung yang beberapa bulan terakhir menjadi tempatnya menimba ilmu.
"Selamat tinggal semuanya! Aku senang bisa menjadi bagian dari kalian di kampus," gumam Keysa dalam hati.
Ia larut dalam kesedihannya sendiri, hingga ia menyadari suasana di mobil sangatlah berbeda. Mobil yang ditumpanginya bukanlah mobil sang kakek. Mereka yang ada di dalam mobil memakai kacamata hitam dan jas hitam. Dengan salahsatu dari mereka merupakan lelaki yang menyeramkan dengan luka di wajah.
"Oh, ya, ampun sepertinya aku salah masuk mobil. Sepertinya mereka itu penculik," gumam Keysa dalam hati. Menyadari dirinya masuk mobil penculik.
"Hei, kau siapa? Hentikan mobilnya! Turunkan aku di sini!" perintah Keysa kepada lelaki berwajah seram.
"Diamlah! Jangan pernah bermimpi aku akan menghentikan mobil ini," sarkas lelaki itu.
"Lepaskan aku! Jika kakekku tahu kalian telah menculikku, aku pastikan kalian tidak akan pulang dengan tubuh yang utuh. Sebelum itu terjadi, lepaskan aku! Dan aku akan menganggap hal ini tidak pernah terjadi," tandas Keysa lagi. Ia bahkan sampai mengancam orang-orang itu dengan kekuasaan yang dimilikinya. Namun, bukannya takut mereka malah menertawakan Keysa dan menganggap Keysa sedang bermimpi.
__ADS_1
Menyadari mereka yang tidak takut dengan ancamannya, membuat Keysa mulai berpikir kalau dirinya tidak akan selamat.