
Beberapa hari telah berlalu.
Dua hari terakhir Devano tidak pernah menghubungi Keysa. Setiap kali Keysa menghubungi Devano pun selalu tulalit. Sudah dua hari Devano menghilang tanpa kabar, nomornya juga tidak aktif, membuat Keysa merasa cemas.
"Kenapa nomornya tidak bisa dihubungi? Apa terjadi sesuatu dengan dia?" Keysa tidak bosannya mendial nomor Devano, berharap ada keajaiban—tiba-tiba tersambung.
Namun, hasil yang didapat hanya kekecewaan. Nomor Devano masih saja sejak dua hari terakhir, tidak bisa dihubungi. Hati Keysa pun semakin cemas.
"Sepertinya aku harus memastikan sendiri. Aku tidak akan tenang sebelum tahu apa yang terjadi." Akhirnya, Keysa memutuskan untuk kembali ke kota B. Ia langsung mencangklong tas dan bergegas untuk menyusul lelaki yang seminggu lalu datang ke ibu kota.
"Key, mau ke mana?" Kakek yang berada di ruang keluarga bersama Zian melihat sang cucu menuruni tangga dan melewati mereka begitu saja dengan buru-buru.
Keysa menghentikan langkahnya, kemudian berbalik dan menghampiri Surya yang sedang duduk di sofa. Ia melupakan sesuatu, tidak pamit pada lelaki itu.
"Aku harus pulang ke kota B, Kek," ucap Keysa, kemudian pamit.
"Sebaiknya kamu di sini saja dulu beberapa hari lagi sampai Kakek sembuh total." Zian mencoba mencegah kepergian Keysa dengan kesehatan Kakek Surya sebagai alasan.
"Aku sudah terlalu lama libur kuliah. Menurut dokter Kakek juga sudah baik-baik saja. Kakek tidak apa, 'kan' kalau aku kembali ke kota B?" Keysa meminta izin kepada Kakek Surya. Namun, siapa sangka, sang kakek juga sependapat dengan Zian. Lelaki itu juga menyuruh Keysa untuk tetap tinggal.
"Yang dikatakan Zian ada benarnya juga. Sebaiknya kamu di sini dulu saja sampai kakek benar-benar sembuh," tandas Kakek Surya.
Keysa menyipitkan mata. Tidak biasanya Kakek Surya melarangnya seperti itu jika masalah pendidikan.
"Tapi, Kek ...."
"Kakek tahu kamu ke sana bukan karena kuliah tapi karena lelaki itu. Lupakan dia, Key, dia bukan yang terbaik untukmu. Lihatlah, di sini ada Zian yang selalu dengan setia menantimu!"
"Kenapa Kakek tiba-tiba berbicara seperti itu?" tanya Keysa, kesal. Ia melihat wajah Kakek Surya yang berubah datar. Tidak seperti biasanya juga, Kakek Surya membicarakan Devano di hadapan Zian.
"Karena dia tidak mungkin menjadi milikmu. Dia akan bertunangan dengan orang lain karena itulah dia tidak pernah menghubungimu lagi," ujar Kakek Surya, seolah tahu yang sedang dipikirkan sang cucu dua hari terakhir ini.
Bukannya percaya dengan ucapan Kakek Surya, Keysa malah tertawa. "Kakek kalau bercanda jangan kelewatan. Ini tidak lucu, Kek. Kalau ingin mencegahku untuk tidak pergi, jangan dengan mengatakan hal-hal yang tidak-tidak juga." Keysa sama sekali tidak memercayai ucapan Kakek Surya.
__ADS_1
"Kakek tidak bercanda. Semua yang kakek ucapan adalah kebenarannya. Devano sedang mempersiapkan pertunangannya dengan gadis yang selalu berbuat ulah denganmu," ujar Kakek Surya, menyebutkan nama kekasih Keysa itu. "Jadi berhentilah menggapai orang yang tidak mungkin kamu gapai lagi! Sudah cukup kakek memberi kalian kesempatan, tapi lihat apa yang dia lakukan? Dia tidak bisa membuktikan apa-apa dan malah bertunangan dengan orang lain. Sudah jelas, Zian jauh lebih pantas daripada lelaki itu," tandas Kakek Surya panjang lebar.
Zian tersenyum penuh kemenangan karena mendapat dukungan penuh dari Kakek Surya.
"Masuklah ke kamar atau temani Zian mengobrol di sini." Kakek Surya memberi pilihan.
Keysa membuang napas kasar, lantas menatap Zian kemudian beralih kepada sang kakek yang menatapnya dengan penuh intimidasi. "Aku kembali ke kamar," ucap Keysa, lalu berjalan ke arah tangga setengah berlari.
"Ini pasti akal-akalan Kakek supaya aku tetap tinggal dan bisa bersama Zian. Sepertinya Zian juga sudah memengaruhi Kakek, padahal kemarin Kakek sudah menyetujui hubungan kami." Keysa masih yakin kalau ucapan Kakek Surya hanya gertakan untuknya saja.
Keysa mencoba menghubungi Devano untuk mengkonfirmasi kabar burung itu, tetapi nomor Devano masih sama seperti sebelumnya, tidak tersambung. Akhirnya, ia pun memilih menanyakannya langsung kepada Cheryl. Meskipun malas berhubungan dengan Cheryl, Keysa terpaksa menghubungi gadis itu untuk memastikan.
"Baru saja aku akan menghubungimu, ternyata kau sudah menghubungiku lebih dahulu," ucap Cheryl dari seberang sana setelah panggilan tersambung. "Pasti kau sudah tidak sabar mendengar kabar wow hari ini! Iya, kan?"
"Memangnya ada apa kamu ingin menghubungiku?" Keysa merasa tidak enak dengan perkataan Cheryl yang terdengar mengejek.
"Aku ingin memberitahu kabar ter-wow seantero jagat. Sebuah kabar gembira yang akan menjadi trending topik di mana-mana. Kabar gembira untukku dan kabar buruk untukmu," tandas Cheryl, diakhiri tawa yang begitu nyaring di telinga Keysa. "Aku dan Devano akan resmi bertunangan. Jadi, berhentilah bermimpi menjadi Nyonya Dev, karena itu hanya disandang oleh diriku. Tidak peduli sebesar apa cinta kalian, di sini akulah pemenangnya. Aku akan memilikinya secara utuh," tandas Cheryl lagi penuh penekanan, kemudian mengakhiri panggilan di antara mereka.
Keysa mematung dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Sulit dipercaya setelah kebersamaan mereka, Devano masih akan melanjutkan pertunangan itu.
Melihat dan mendengar tentang kebenaran Devano yang akan bertunangan membuat Keysa semakin ingin kembali ke kota B. Ia harus menggagal pertunangan itu, tetapi ia juga tidak bisa lepas dar kontrolan sang kakek dan Zian yang menjaganya super ketat agar tidak pergi kemana-mana.
"Ayo, Key, pikirkan sebuah ide supaya kamu bisa pergi ke sana." Keysa mondar-mandir di kamar girly-nya, mencari jalan agar bisa keluar dari rumah. "Sepertinya aku bisa meminta bantuan seseorang," gumamnya.
Secercah harapan membuat Keysa sedikit mengulas senyum saat mengingat seseorang. Keysa pun langsung menghubungi orang yang diyakini bisa membantunya. Dalam hitungan detik panggilan pun tersambung.
"Halo, Key, Zack sedang ada di kamar mandi." Terdengar suara Felix dari seberang.
"Felix?"
"Iya. Ini aku. Zack sedang di kamar mandi. Kamu tunggu sebentar saja," tandas Felix lagi.
Ya, Keysa menghubungi nomor Felix. Namun tidak disangka ternyata Zack sedang bersama Felix. Saat ponsel Zack berdering, Felix yang menerima karena lelaki itu sedang berada di kamar mandi.
__ADS_1
Sebuah ide baru kembali terlintas di kepala Keysa, andaikan lelaki macho yang mencintai sahabatnya itu menolak permintaannya.
"Fel, boleh minta tolong!" ucap Keysa, kemudian.
"Minta tolong apa? Jika aku bisa bantu pasti akan kubantu. Apa sih yang tidak untukmu?"
Keysa tersenyum mendengar penuturan Felix, meskipun sahabatnya itu berbeda tetapi lelaki itu selalu siap siaga jika dirinya meminta bantuan. Keysa menceritakan semua yang terjadi dan rencana yang sudah disusunnya.
"Terus andilku di sini apa?" tanya Felix, saat mendengar ucapan Keysa yang dibutuhkan gadis itu hanya Zian bukan dirinya.
"Jika Zack tidak mau membantuku, kamu ancam dia dengan meminta putus darinya."
Felix yang mendengarkan ucapan Keysa langsung setuju dengan ide tersebut. "Dia sudah keluar dari kamar mandi. Kamu ngomong sendiri tentang masalahmu itu apa aku yang ngomong?" tutur Felix, melihat pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Zack yang hanya memakai handuk.
"Aku yang ngomong duluan."
Felix mengangguk, meskipun anggukannya pasti tidak terlihat oleh Keysa. "Zack, ponselmu berdering. Keysa menelpon. Maaf aku mengangkatnya." Felix lantas memberikan ponsel yang dipegang kepada pemiliknya.
Zack mengernyit mendengar siapa yang telah menghubunginya. Keysa tidak pernah menghubunginya terlebih dahulu, meskipun mereka saling bertukar nomor sejak pertemuan di desa waktu itu. "Ada apa?" tanya Zack sambil mengambil ponsel di tangan Felix.
Felix hanya mengedikkan bahu.
Zack me‐loudspeaker panggilan dari Keysa dan bertanya tentang alasan gadis itu menghubungi. Zack yakin ada sesuatu yang diinginkan Keysa hingga sampai menghubunginya.
Dari seberang sana Keysa mengatakan niatnya menghubungi Zack dan meminta bantuan Zack untuk merealisasi niatnya itu. "Ini beresiko, Key! Aku tidak mau." Zack yang mendengar permintaan Keysa langsung menolak mentah-mentah ajakan Keysa.
"Yakin tidak mau? Kalau begitu kamu harus putus dengan Felix," tandas Keysa.
"Kenapa jadi hubungan aku dan Felix dibawa-bawa?" Zack dibuat frustrasi dengan permintaan Keysa. Ia tidak mau putus dengan Felix, tetapi ia juga tidak mengikuti kemauan Keysa.
"Felix adalah sahabatku. Dia akan selalu mendukung semua keputusanku. Jika kamu tidak mau, maka detik ini juga dia akan meninggalkanmu," sarkas Keysa lagi.
Zack menatap Felix yang juga sedang mendengarkan ucapan Keysa, berharap kekasihnya itu tidak melakukan apa yang diinginkan Keysa jika dirinya menolak. "Ucapan Keysa adalah perintah bagiku. Aku akan selalu mengikuti dan mendukung semua yang dilakukannya. Jadi, jika kamu tidak mau membantunya, lebih baik hubungan kita berakhir sampai di sini," tandas Felix, seolah tahu arti tatapan Zack.
__ADS_1
Zack dibuat lemas oleh pernyataan Felix yang diucapkan tanpa ragu sedikitpun. Ia sama sekali tidak berdaya. Tidak ada pilihan lain agar tetap bisa bersama Felix selain mengikuti permintaan kekasih dan sahabat kekasihnya itu.
"Baiklah. Aku akan segera mencari orang untuk membantu kita."