Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
69


__ADS_3

69


Pada akhirnya pemungutan suara pun selesai dan hasil final menyatakan bahwa  Devano ditetapkan sebagai pemenangnya. Devano berhasil mengalahkan Keysa dan terpilih sebagai ketua senat. Semua orang pendukung Devano pun bersorak gembira. 


Sebagai ketua senat yang akan lengser,  Arsen mengucapkan sepatah dua patah kata penyerahan kedudukannya kepada Devano  yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan secara simbolis. 


Devano yang baru saja menerima penyerahan ketua senat secara simbolik, lantas kembali ke tempat duduknya di samping Keysa. 


"Lihatlah! Aku berhasil menjadi ketua senat. Aku hebat kan?" bisik Devano kepada Keysa. "Apa kau tidak ingin memberikan selamat kepadaku? Aku telah menjadi ketua senat, lho!" lanjut Devano sambil memamerkan gigi putihnya yang berjajar rapi. 


Keysa yang biasanya menjawab setiap celotehan Devano tiba-tiba diam seribu bahasa. Ia hanya menoleh ke arah Devano yang sedang menggoda dan memamerkan keberhasilannya, tanpa ada niatan untuk meladeni, hingga hubungan keduanya menjadi canggung.  


Setelah acara penyerahan ketua senat  dan menggoda Keysa,  bukannya senang atas pencapaiannya,  Devano yang melihat Keysa tidak bereaksi apa-apa  malah dibuat khawatir. Ia takut gadis itu tersinggung.  


Begitu acara selesai dan kembali ke kelas, Devano pun langsung menyusul dan menghampiri Keysa. 


"Apa aku sudah keterlaluan?" tanyanya, saat Devano sudah duduk di samping Keysa yang sedang sibuk dengan buku di  tangan. 


Keysa tampak acuh, tanpa menoleh sedikit pun kepada orang yang sedang mengajaknya bicara. 


"Aku ingin minta maaf sekaligus menawarkan jabatan sekretaris. Bagaimana menurutmu? Apa kamu mau? " lanjut Devano. 


Keysa menatap buku yang sedang dibacanya sambil memikirkan ucapan Devano. 


"Bagaimana? Apa kamu mau?" tanya ulang Devano. 


Demi melihat barang yang ditinggalkan sang ayah, Keysa pun menyetujui tawaran Devano. 

__ADS_1


Sepulang kuliah  seorang mahasiswa memberitahu Keysa bahwa ada orang yang sedang mencarinya dan menunggu di depan gerbang kampus. Keysa yang merasa tidak memiliki janji dengan siapapun langsung ke sana, penasaran dengan orang yang mencarinya. 


Seorang lelaki sedang berdiri  menyandar di samping seunit mobil  sport  dan langsung menghampiri Keysa begitu melihat Keysa berjalan ke arahnya. 


"Kau?" Keysa menatap lelaki yang mencarinya itu dengan tatapan tidak suka.  Orang  yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang sama dengan yang pernah membuatnya hampir masuk jurang dan juga pernah menculiknya. 


"Hai, Key!" Exel membalas tatapan tajam Keysa dengan seutas senyum dibuat semanis mungkin. "Aku hanya ingin meminta maaf atas semua perbuatanku padamu. 


Tidak seharusnya, aku melakukan hal jahat padamu, padahal kamu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang kuhadapi. Sekali lagi aku minta maaf." 


"Tidak ada yang perlu dimaafkan karena aku tidak memerlukan permintaan maaf darimu,"  jawab Keysa, lalu berbalik hendak pulang ke asrama. 


"Tapi aku sungguh-sungguh ingin meminta maaf. Aku juga sudah mereservasi sebuah restoran untuk kita makan berdua sebagai permohonan maafku," ucap Exel dengan wajah memelas. 


"Aku tidak peduli," jawab Keysa dan pergi. 


Keysa membuang napas kasar, kemudian berbalik lagi menghadap lelaki yang sedang memelas meminta Keysa untuk ikut bersamanya.


"Baik. Aku akan ikut, tapi aku ingin ajak teman, bagaimana?" Keysa membuat penawaran.


Tanpa pikir panjang lagi, Exel pun langsung mengiakan permintaan Keysa. Setelah mendapat persetujuan dari yang mengajak, Keysa lantas menelpon Disti dan meminta gadis itu untuk menemuinya di gerbang kampus. 


Mereka bertiga pun pergi ke restoran yang dipesan Exel. Sepanjang perjalanan, Exel sengaja mencari topik pembicaraan dan berbagi keluhan tentang Devano.  Lelaki itu menceritakan kisah pilu sang kakek yang harus meninggal karena menolong Devano yang membuatnya sampai sangat membenci Devano, dengan ditambahi bumbu-bumbu hasutan agar Keysa lebih simpati kepadanya dan membenci Devano. 


"Aku mengerti perasaanmu. Pasti sangat sulit kehilangan keluarga kita, apalagi ia orang yang sangat kita cintai. Tapi, bukankah di sini, Dev, juga tidak salah. Kakekmu hanya menolong Dev, bukan Dev yang membunuh kakekmu. Tidak baik kebaikan kakekmu, kau hancurkan dengan sejuta kebencian dan balas dendam untuk keluarga Dev." Keysa yang sudah mendengar cerita versi Devano pun menimpali ucapan Exel yang terus menjelek-jelekan Devano, membuat lelaki terdiam dan lebih memilih mencari topik lain. 


Sesampai di restoran, Exel langsung mengajak mereka pada sebuah meja yang sudah di pesannya. Mereka berjalan ke lantai dua dan duduk di dekat dinding kaca,  sehingga pemandangan di sekitar bisa terlihat jelas dari sana. 

__ADS_1


"Ponselku sepertinya ketinggalan di mobil," ucap Disti begitu mereka duduk. "Boleh pinjam kunci mobilnya?" lanjut Disti kepada Exel. 


Exel mengangguk dan memberikan kunci mobilnya. Disti pun izin keluar untuk mengambil ponsel, meninggalkan Keysa dan Exel berdua di meja tersebut. 


Setiba di parkiran, Disti langsung mengambil ponselnya, kemudian dengan segera kembali ke dalam lagi. Disti yang hendak masuk ke restoran dengan buru-buru tanpa sengaja menabrak Ezra dan Devano yang juga hendak masuk ke tempat tersebut. 


"Kalau jalan pake mata," maki Devano. 


"Maaf. Saya tidak sengaja," ucap Disti, tanpa berani melihat orang yang ditabraknya begitu tahu siapa yang ditabraknya. 


"Kau?" sarkas Devano begitu melihat siapa yang menabraknya. "Sedang apa di sini?" 


"Aku sedang mengantar Keysa," jawab Disti, masih menunduk. Berhadapan dengan Devano terlalu menakutkan baginya. 


Mendengar nama 'Keysa' entah mengapa membuat dada Devano langsung berbunga. Seketika matanya pun langsung memindai, mencari keberadaan gadis yang namanya disebut Disti. "Lalu, di mana dia sekarang?" tanya Devano saat tidak melihat sosok yang dicari. 


"Sebenarnya Keysa diajak makan oleh seorang pria dan dia mengajakku untuk ikut. Sekarang mereka ada di lantai atas," ucap Disti yang membuat Devano terkejut. Lelaki itu pun dengan segera meminta Disti mengantarnya ke tempat Keysa dan Exel. 


Di lantai dua restoran, Keysa dan Exel baru saja akan memulai makan. Namun, Keysa dikejutkan oleh Exel yang tiba-tiba meraih tangannya dan menatap Keysa dengan tatapan memuja. 


"Xel, kamu ini apa-apaan? Lepaskan tanganku! Aku mau makan," ucap Keysa sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Exel. 


Bukannya melepaskan genggamannya, Exel malah mencium tangan tersebut. "Key, sebenarnya aku mengajakmu ke sini karena aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Sebenarnya ... semenjak pertama kali kita bertemu aku sudah mengagumi keberanianmu. Keberanian yang membuatku malah jatuh hati padamu. Key, aku suka padamu. Maukah kau menjadi pa—" 


"Apa-apaan ini! Lepaskan tanganmu!" 


Exel yang sedang meminta Keysa menjadi pacarnya, dihentikan oleh orang yang tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya terhadap Keysa dengan sangat kasar.

__ADS_1


  


__ADS_2