Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
151


__ADS_3

Damar menceritakan semua info yang didapatkan setelah beberapa hari berada di LA. 


Mimpi Devano untuk bertemu ibunya lagi masih belum bisa terwujud. Informasi dari Alea tidak memberikan pengaruh signifikan dalam pencarian ibunya. 


Keysa menggenggam tangan Devano, mencoba menghibur lelaki yang sedang bersedih karena kabar yang dibawa Damar. 


"Apa mungkin Helen sudah sadar dan kembali ke negaranya." Damar sedang memerhatikan Keysa yang menghibur Devano, hingga tiba-tiba pikirannya mencoba menebak-nebak kemana istrinya tercinta pergi dari rumah sakit yang kemarin didatanginya. Mengingat identitas dan latar belakang Helen yang misterius membuat Damar tidak mudah menemukan istrinya itu, bahkan bisa tinggal dan menikah dengan Damar dulu saja karena Damar yang bersikukuh. 


Sementara itu, Keysa yang sejak tadi menjadi pendengar dalam masalah keluarga Devano, juga tengah berpikir dengan sebuah kemungkinan yang membuatnya merinding. "Devano dan Zian tidak mungkin bersaudara, 'kan?" Ia menduga-duga kalau Helen memiliki hubungan dengan keluarga Zian, mengingat nama belakang keduanya sama. "Helena Anderson," gumamnya dalam hati. Nama belakang yang sama dengan kepanjangan nama Zian, Zian Davis Anderson. 


Sejurus kemudian Keysa menggeleng. Ia mencoba menepis segala kemungkinan itu, karena dirinya juga belum pernah melihat wanita yang bernama Helena di keluarga Anderson. 


Damar pergi ke kamar, meninggalkan Keysa dan Devano berdua yang masih berada di ruang tamu. Sepanjang perjalanan menuju kamar, lelaki itu terus berpikir cara agar bisa menemukan wanita yang sangat dicintai dan dirindukannya. 


"Sebaik aku mulai dari Abian. Dia pasti tahu keberadaan Helen di mana," gumamnya. Damar berencana mencari ayah Keysa untuk mencari kabar tentang Helena. 


***


Hari telah berganti, siluet jingga yang indah menyambut pagi yang sepertinya akan cerah. Devano sudah sembuh total, ia pun kembali beraktifitas seperti biasa. Ia dan Keysa pergi dan tiba di tempat kuliah bersama dengan tangan yang saling menggenggam. Devano ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa Keysa adalah miliknya, dan tidak ada lagi orang yang boleh menindas. 


Setiba di kelas, Disti yang sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Keysa langsung menghampiri Keysa dan cipika cipiki. Dua sahabat itu saling melepas rindu.


"Aku merindukanmu, Key," gumam Disti, dan dijawab jawaban yang sama oleh Keysa. "Oh, ya, Key, ada undangan dari Exel." Disti kemudian menyodorkan surat undangan dari Exel beberapa waktu lalu. "Kita bisa berangkat bareng, 'kan?" lanjut Disti. 


Keysa menatap kartu undangan itu, kemudian beralih kepada Disti yang terlihat sangat antusias. "Ok. Kita datang bersama." Demi Disti, Keysa yang sebenarnya enggan bertemu dengan keluarga Cheryl itu terpaksa mengiakan.  


"Beneran Key?" 


"Hooh," jawab Keysa dengan anggukkan. 


"Terima kasih," ucap Disti lagi, sambil memeluk Keysa karena senangnya. 

__ADS_1


"Temanmu lebay sekali," sarkas Devano, melihat Disti yang menurutnya terlalu over—hanya karena Keysa mengiakan permintaan gadis itu. 


Disti langsung mengurai pelukannya, dengan wajah yang bersemu merah karena malu, kemudian pamit pergi ke bangkunya. Sementara, Keysa yang tahu Disti sangat menyukai Exel hanya tersenyum.


"Tidak boleh begitu," ucap Keysa kepada Devano, lantas mencubit pinggang lelaki itu. 


Devano yang tidak terima perbuatan Keysa pun membalas dengan menggelitik kekasihnya itu, hingga tawa keduanya menggema di kelas—menjadi tontonan mahasiswa yang sudah ada di sana.


"Sudah. Pending dulu," ujar Devano, menghentikan tangannya yang menggelitik Keysa saat ponselnya berdering. "Aku angkat telepon dulu di luar," lanjutnya, begitu melihat nama yang tertera di layar. 


Keysa hanya mengangguk, kemudian duduk sambil menatap punggung Devano yang meninggalkan kelas. 


Sementara itu, Disti yang sudah persetujuan dari Keysa langsung mengirim pesan kepada Exel bahwa dirinya akan datang bersama Keysa. Membuat lelaki yang berada di tempat lain berseringai lebar begitu membaca pesan dari Disti. Exel memastikan di acara ulang tahunnya, Keysa akan menjadi miliknya untuk selamanya. 


"Sepertinya banyak yang suka ya, meskipun tampilan cupu begitu." Alea yang baru datang ke kelas langsung menyambut Keysa dengan cibiran. 


"Apa maksudnya?" tanya Keysa, dengan malas. 


"Gosip," jawab Keysa, santai. 


Alea manggut-manggut. "Kalau Ezra yang menyukaimu bagaimana? Apa itu gosip juga sampai-sampai dia menyimpan fotomu, lho? Tapi bukan fotomu yang seperti ini, sih," lanjut Alea lagi, melirik Keysa dari atas sampai  bawah. "Apa kau ingin berniat merusak persahabatan dua lelaki itu? Di depan Devano kau berubah jadi Keysa, di depan Ezra kau berubah jadi Faya, sungguh enak sekali hidupmu dikelilingi banyak lelaki. Apa kau tidak takut jika karma datang menghampiri," lanjut Alea setengah berbisik. 


"Karma apa? Aku tidak melakukan kesalahan." Keysa mendelik ke arah Alea, tidak terima dengan ucapan gadis itu. 


"Yakin? Apa harus aku bongkar saat ini juga untuk membuktikan kamu tidak pernah melakukan kesalahan? Dengan memberitahu semua orang bahwa kamu adalah Faya tentunya. Kamu bisa bayangkan reaksi para mahasiswa, termasuk Devano dan Ezra," bisik Alea lagi dengan senyum licik yang tersungging.


"Jaga mulutmu Lea! Aku tidak sedang ingin ribut," tukas Keysa. 


"Ok. Jaga mulut itu gampang, tapi apa imbalannya untukku?" 


"Memangnya kau ingin apa?" Keysa melirik lagi Alea dengan sangat malas. Berurusan dengan gadis itu dari dulu sampai sekarang tidak akan kelar dengan mudah. 

__ADS_1


Alea  menyangga dagunya, seakan sedang berpikir, hingga senyum pun terbit dari bibir berwarna peach itu. "Miliki Ezra sudah tidak mungkin, Devano apalagi. Bagaimana kalau kau dekatkan aku dengan Exel. Bantu aku merebut hati Exel dan aku akan tutup mulut." Gadis penggila harta itu mulai bermain tawar menawar. Setidaknya jika tidak  bisa memiliki Devano, ia masih bisa menaklukkan lelaki tampan dan kaya lainnya. 


Keysa terdiam, kemudian berkata, "Datanglah ke acara ulang tahun Exel. Kau bisa mencobanya dari situ. Itupun jika lelaki itu mau," tandasnya. 


***


Hari ulang tahun Exel pun tiba. 


Disti dan Keysa diantar oleh Devano sedang memilih gaun yang dua gadis itu pakai ke pesta. 


"Coba yang ini!" Devano mengambil sebuah gaun berwarna abu-abu silver. 


Keysa pun menerimanya dan segera membawa barang pemberian Devano ke ruang pas. Tidak selang berapa lama, Keysa kembali keluar dengan menggunakan gaun tersebut. Hingga Devano dibuat tidak berkedip saat melihat Keysa memakai gaun panjang yang memperlihatkan lekuk tubuh seksi Keysa dengan belahan panjang di samping kanan hingga di atas lutut. 


"Cantik," gumam Devano, begitu Keysa menyadarkan lelaki itu dari lamunan dan bertanya tentang penampilannya. 


Setelah memilih baju, Keysa dan Disti langsung pergi ke acara ulang tahun Exel bersama Devano. Tamu undangan sudah memenuhi sebuah ruangan yang disewa Exel. Dan ini, adalah kali pertamanya Keysa datang ke pesta dengan status sebagai kekasih asli Devano, membuatnya sedikit gugup dan takut kembali membuat ulah meskipun hanya sebagai pelindung diri. 


"Aku cari Ezra dulu, ya!" Devano meninggalkan Keysa untuk mencari sahabatnya, dan hanya dijawab anggukan Keysa. 


Keysa dan Disti menikmati pesta tersebut. Mata mengedar ke segala arah, melihat kemegahan yang ditampilkan dalam acara Exel itu. Kemudian, tiba-tiba Erika—calon istri Arsen—datang menghampirinya dengan tatapan yang sudah tidak bersahabat. 


"Apa kamu yang menasehati Felix untuk putus denganku, hah?" sarkas Erika sambil mendorong bahu Keysa, membuat Keysa terhuyung ke belakang meskipun tidak sampai jatuh. 


"Dasar serakah. Bukankah kamu sudah bertunangan dengan Arsen, lalu kenapa masih mempersulit Felix. Kalau dia minta putus, ya, tinggal putusin aja," tandas Keysa, santai, sambil mengusap bahu yang didorong Erika, seakan-akan bekas tangan Erika itu bekas kotoran. 


"Sebaiknya kau jangan ikut campur dengan urusanku. Kau ini sebenarnya siapa sih, di masalah aku, Arsen dan Gabby, kau datang bak seorang pahlawan. Sekarang dihubungan aku dan Felix pun kau masih ikut campur," sarkas Erika lagi, yang dibuat naik pitam oleh tingkah Keysa. 


"Aku tidak akan ikut campur, asal jangan menyakiti orang-orang yang dekat denganku," tandas Keysa lagi, masih dalam mode santai. 


Namun, tiba-tiba Cheryl datang dan mencibir Keysa.

__ADS_1


__ADS_2