Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
40


__ADS_3

40


"Bagaimana dengan Devano? Apa kamu juga menyukainya?" tanya Devano. 


Mendengar nama 'Devano' disebut membuat Keysa mengerutkan kedua alisnya, lalu memiringkan kepala melihat sekilas wajah yang sedang menggendongnya. 


"Devano, ya?" gumam Keysa, kembali menancapkan dagunya di bahu Devano dengan pandangan sayu yang lurus ke depan. "Aku tidak suka dengan Devano. Devano itu galak. Ia juga selalu mengataiku gadis jelek. Sudah gitu, meskipun memanggilku jelek, ia tetap saja menciumku. Lebih parahnya lagi dia tidak hanya sekali menciumku. Kamu tahu? Dia itu sudah mengambil ciuman pertamaku dengan tidak sopan." Keysa menjawab dengan bibir yang sudah mengerucut. 


Saat Keysa berbicara seperti itu, mereka sudah sampai di ruang tengah. 


"Jadi kau tidak menyukainya?" tanya Devano dengan perasaan yang sudah sulit diartikan. Wajah lelahnya telah merah padam dengan marah dan kesal yang semakin menggunung. 


"Tentu saja tidak. Sudah kubilang dia itu lelaki galak yang suka menggangguku dan mengataiku jelek. Jadi, mana mungkin aku menyukainya, yang ada aku ingin mencincang mulut pedasnya itu!" jawab Keysa lagi, sambil memukul pelan pundak Devano dengan gaya seperti orang yang sedang mencincang. 


"Beneran tidak suka?" 


"Tidak." Keysa menggeleng pasti.


Begitu mendengar jawaban Keysa dari pertanyaan ketiganya, Devano  langsung menjatuhkan Keysa di lantai. Ia tidak bisa menutupi lagi kekesalannya terhadap Keysa. Pertama, gadis itu memuji-muji Ezra, tetapi apa yang dikatakan Keysa tentang dirinya. Gadis itu malah mengatainya galak, padahal ia dengan susah payah membawa Keysa pulang dengan sejumlah drama yang terjadi dari sejak di klub sampai tiba di rumah. 


"Sakit ...." rengek Keysa nada seperti anak kecil sambil mengusap-usap bokongnya. "Kenapa Keysa dijatuhkan? Gendong lagi," lanjutnya, dengan tatapan memelas sambil menggerak-gerakkan kedua kaki serta tangan yang terangkat, meminta Devano meraih tubuhnya lagi. 


"Minta gendong saja sama si Ezra. Bukankah dia itu pahlawanmu yang baik dan lembut." Devano meninggalkan Keysa dengan kesal. 


"Gendong ... gendong lagi," rengek Keysa sambil menangis. Ia terus minta digendong dengan nada dan tingkah persis seperti anak kecil. 


'Sial!' 


Devano tidak bisa mengabaikan gadis itu begitu saja, membuatnya merutuki dirinya sendiri. Ia yang baru berjalan beberapa langkah langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri Keysa lagi. Melihat itu Keysa yang tadi menangis langsung tersenyum kegirangan. Devano pun berjongkok membelakangi Keysa, lalu menepuk bahunya sendiri, menyuruh gadis itu kembali naik di punggungnya. 


Saat melihat Keysa yang seperti anak kecil dan mengingat Keysa yang sudah tidak memiliki orang tua, membuat Devano tidak tega dan sedikit kasihan. Itu alasan yang tepat yang Devano tanamkan dalam benaknya, kenapa ia sampai kembali menggendong Keysa. 

__ADS_1


Ia membawa gadis itu ke kamar. Namun, tidak disangka Keysa malah menggigit leher Devano. 


"Apa yang kau lakukan? Kau ini ingin daging mentah apa gimana?" Devano dibuat semakin kesal oleh tingkah gadis digendongannya. "Aku jatuhkan lagi baru tahu rasa!" 


Keysa tidak menjawab, ia menyembunyikan wajahnya di balik pundak Devano. 


Sebelum lebih banyak tempat lagi yang digigit Keysa, Devano mempercepat langkahnya. Setiba di kamar, ia langsung menidurkan Keysa yang kadang masih meracau. 


Namun, baru saja berbaring, Keysa bangun kembali. Perutnya terasa bergejolak dan menyuruh Keysa  mengeluarkan isi di dalamnya. Tanpa bisa ditahan lagi, Keysa pun kembali mengeluarkan isi perutnya saat Devano masih berdiri di samping ranjang. Hingga, muntah Keysa mendarat semua di celana Devano.


"Key!" pekik Devano dengan geram, melihat sesuatu mengotori celananya. "Kau ini menyusahkan sekali," rutuknya kepada gadis yang tanpa rasa bersalah malah langsung terpejam saat kepalanya menempel kembali dengan bantal. 


"Ah!" Devano lantas pergi ke kamarnya sambil merutuki kelakuan Keysa, kemudian mandi dan dilanjutkan dengan tidur. 


***


Di balik selimut bermotif bunga, seorang gadis masih terlelap setelah semalam berhasil menyusahkan Devano. Perlahan tubuh itu, mulai bergerak. Keysa mengerjapkan kedua matanya yang terasa sangat berat, kepalanya pun terasa berputar-putar. 


Ia memijat-mijat kening dan pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang melanda, kemudian perlahan membuka mata. 


"Eh, aku ada di mana?" Keysa tersentak begitu matanya terbuka, ia mendapati dirinya berada di kamar yang tidak dikenalnya. 


Keysa semakin tersentak saat melihat Devano masuk ke kamar hanya dengan memakai handuk. Kepala Keysa mulai berputar, mengingat semua yang telah terjadi dan kenapa ia bisa sampai di tempat yang tidak dikenalnya. Akan tetapi, rasa pusing menghilangkan ingatan Keysa.


"Aaaa ...." tiba-tiba Keysa berteriak, sembari menarik selimut dan menutupi tubuhnya sampai ke leher. 


"Ada apa? Pagi-pagi buta kau sudah buat keributan saja." Devano yang juga kaget karena teriakan Keysa langsung menghampirinya. 


Namun, dengan cepat Keysa melarang lelaki itu mendekat. "Berhenti! Jangan mendekat! Apa yang telah kau lakukan semalam? Kau tega sekali memanfaatkan gadis yang sedang mabuk," ucap Keysa dengan air mata yang mulai menetes. Ia tidak rela kalau kesuciannya juga terenggut begitu saja saat ia tidak sadarkan diri. 


Devano pun berhenti sembari menatap Keysa dengan kebingungan. "Maksudmu apa?" 

__ADS_1


"Kau jahat sekali! Kau tega sekali ngambil keperawanku saat aku mabuk. Kalau ciuman pertama masih bisa ditolerir, tapi kalau yang satu itu ...." Tangis Keysa semakin kencang.  "Apa yang harus aku bilang nanti sama suamiku kalau dia tahu aku sudah jebol duluan?" 


Devano hanya bisa tepuk jidat. Mendengar ocehan Keysa, Devano mulai mengerti apa yang dipikirkan gadis itu. "Apa kau pikir semalam kita telah berhubungan  badan?" 


Keysa mengangguk. 


"Beneran itu yang kau pikirkan?" tanya Devano lagi. 


Keysa kembali mengangguk.


"Sekarang, coba kau lihat apa pakaianmu masih utuh atau tidak? Apa ada yang berubah?" tandas Devano. Pagi-pagi ia sudah dibuat kesal oleh tuduhan asal Keysa.


Keysa pun perlahan membuka selimutnya dan melihat pakaian yang melekat pada tubuh. Masih seperti semalam. 


"Masih utuh, kan?" tanya Devano lagi. 


Lagi dan lagi Keysa mengangguk. "Memangnya apa lagi yang bisa aku pikirkan, saat seorang gadis berada di kamar lelaki ditambah lagi pas lihat lelaki itu hanya pakai handuk," ucap Keysa di sela-sela tangisnya, membela diri.


Dengan kesal, Devano menjelaskan bahwa mereka semalam tidur di kamar yang berbeda. Setelah itu, Keysa baru merasa lega dan meminta maaf karena telah berpikir buruk tentang Devano. 


*** 


Keysa berangkat bersama Devano menuju kampus. Saat mereka sedang berjalan, Keysa dan Devano bertemu dengan dua orang teman Devano yang semalam bermain bersama di klub. Mereka pun menjahili Keysa dengan memanggil Keysa 'kakak ipar', membuat Devano semakin kesal, tetapi Keysa malah tampak bingung. Ia tidak bisa mengingat semua yang terjadi semalam, yang Keysa ingat hanya dirinya yang berpura-pura menangis lalu memesan banyak minuman dan bermain bersama teman-teman Devano. Setelahnya semua tampak gelap sampai akhirnya terbangun di kamar Devano. 


Begitu sampai di kelas pun, Ezra menatap Keysa dan Devano dengan tatapan aneh dan langsung mendapat tatapan tajam dari Devano. Dari sorot matanya, Devano meminta Ezra untuk diam. 


"Bagaimana kelanjutannya yang semalam? Apa sangat menyenangkan? Kalian itu memang pasangan yang sweet sekali." Ezra malah menggoda mereka. 


"Key, kamu dari mana? Aku semalaman menunggu kamu. Kenapa tidak pulang dan tidak memberi kabar? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Apa kamu baik-baik saja?" Disti yang sejak semalam mengkhawatirkan Keysa, langsung menghampiri gadis itu dan memutar-mutar tubuh Keysa memastikan kalau sahabatnya baik-baik saja.


Para mahasiswa di sana yang pada awalnya sudah kaget saat melihat Devano dan Keysa datang bersama. Menjadi semakin kaget saat mendengar ucapan Ezra dan Disti.

__ADS_1


__ADS_2